Kabarbetawi.id, Jakarta— Tak banyak yang mengetahui bahwa di balik meriahnya Lebaran Betawi yang kini menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, terdapat sosok Amarullah Asbah atau Bang Uwo. Ia adalah tokoh Betawi yang menggagas tradisi ini pada 2008, berangkat dari kegelisahan akan lunturnya budaya Betawi di tengah modernisasi Jakarta.
Melalui gagasannya, Bang Uwo merancang Lebaran Betawi sebagai ruang silaturahmi pasca-Idul Fitri sekaligus panggung pelestarian identitas budaya.
Sosok yang dikenal sebagai motor penggerak organisasi kebetawian seperti Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) dan pendiri Permata MHT ini meninggalkan warisan besar yang kini terus hidup hingga memasuki tahun ke-18 penyelenggaraan.
Lebaran Betawi pertama kali digelar pada 18 Oktober 2008 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Saat itu, kegiatan ini diinisiasi Bang Uwo yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bamus Betawi periode 2008–2012, dengan dukungan para tokoh adat Betawi, salah satunya Fauzi Bowo.

Sejak awal, kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk warga Betawi di Jakarta, tetapi juga bagi mereka yang tersebar di berbagai daerah.
Dalam perjalanannya, Lebaran Betawi terus berkembang dan berpindah ke sejumlah lokasi strategis di Jakarta.
Salah satunya pernah digelar di kawasan Sentra Niaga Puri Kembangan, Jakarta Barat, yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan ruang interaksi budaya. Selain itu, kegiatan ini juga rutin diselenggarakan di titik-titik penting seperti Monas, Setu Babakan, hingga kembali ke Lapangan Banteng.
Dalam perkembangannya, Lebaran Betawi menjelma menjadi festival budaya yang dinantikan setiap tahun. Tidak sekadar ajang halal bihalal, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi budaya yang menampilkan beragam tradisi khas Betawi, seperti nyorog, lenong, hingga gambang kromong.
Seiring waktu, penyelenggaraannya melibatkan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Musyawarah Masyarakat Betawi.
Dari yang awalnya hanya berlangsung satu hari, kini Lebaran Betawi berkembang menjadi festival multi-hari yang menyedot antusiasme masyarakat luas.
Amarullah Asbah sendiri merupakan tokoh penting dalam sejarah pergerakan masyarakat Betawi.
Selain aktif di organisasi, ia juga memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan sebagai anggota DPRD DKI Jakarta selama empat periode (1982–2004), mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golkar.
Kiprahnya juga erat dengan organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Gerakan Pemuda Ansor sejak masa muda.
Gagasan Lebaran Betawi yang ia cetuskan bukan sekadar perayaan, melainkan upaya strategis menjaga eksistensi budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Hingga akhir hayatnya pada 13 Mei 2014, Amarullah Asbah tetap dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebetawian.
Kini, setelah Amarullah Asbah tiada, semangat tersebut tetap dijaga oleh keluarga dan masyarakat.
Putrinya, Rika Lestari, yang berkarier sebagai profesional di bidang Corporate Social Responsibility (CSR) di lingkungan korporasi nasional, mengaku haru sekaligus bangga melihat gagasan sang ayah terus dirawat.
“Alhamdulillah Lebaran Betawi tahun ini memasuki gelaran yang ke-18. Ada rasa haru dan bangga atas dedikasi almarhum ayah sebagai penggagas.
Terima kasih kepada Pemprov DKI yang terus menyelenggarakan setiap tahun,” ujar Rika, di Jakarta, Minggu (5/4/2025)
Ia berharap Lebaran Betawi terus dilestarikan sebagai ruang kebaikan dan kebersamaan.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi ajang penting untuk mempertemukan masyarakat Betawi dari berbagai wilayah dalam satu ikatan budaya dan silaturahmi.
“Semoga kegiatan ini terus bermanfaat bagi masyarakat luas, sehingga semakin banyak yang mengenal dan mencintai budaya asli Jakarta,” tuturnya.
Kini, Lebaran Betawi tidak hanya menjadi milik masyarakat Betawi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Jakarta yang inklusif, merangkul semua kalangan dalam semangat persaudaraan dan keberagaman, mari kita hadiri dan ramaikan lebaran Betawi 2026, yang berlangsung selama tiga hari (10-11-12 April) yang berlokasi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.











