Kabarbetawi.id, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) melakukan kunjungan budaya ke Yogyakarta selama tiga hari, 16–19 Desember 2025. Kegiatan yang diikuti sekitar 30 pengurus ini menjadi upaya diplomasi budaya berbasis masyarakat atau people to people cultural diplomacy untuk menyerap praktik baik pengelolaan budaya di Kota Gudeg.
Rombongan LKB dipimpin langsung Ketua Umum Beky Mardani, didampingi Sekretaris Jenderal Imbong Hasbullah, serta hampir seluruh jajaran pengurus. Kunjungan ini disebut sebagai salah satu perjalanan LKB dengan jumlah peserta terbesar dalam lima tahun terakhir.
Perjalanan darat sejauh kurang lebih 575 kilometer dari Jakarta ke Yogyakarta tersebut tidak dirancang sebagai agenda resmi dengan pertemuan birokrasi. Sebaliknya, LKB memilih pendekatan santai dengan mengunjungi ruang-ruang hidup budaya masyarakat Yogyakarta.
“Diplomasi budaya tidak selalu harus dilakukan di ruang formal. Kadang justru lewat interaksi langsung dengan masyarakat, kita bisa melihat bagaimana budaya hidup dan berkembang,” kata Beky.
Konsep Santai, Agenda Fleksibel
Menariknya, perjalanan ini diinisiasi secara spontan, hanya sekitar sepekan sebelum keberangkatan. Sejumlah agenda bahkan disesuaikan secara fleksibel di perjalanan, menyesuaikan suasana rombongan, kondisi cuaca, hingga masukan dari pengemudi bus.
Rombongan juga memilih menginap di penginapan sederhana bergaya homestay di kawasan permukiman Jalan DI Panjaitan, bukan hotel berbintang. Menurut Imbong Hasbullah, pilihan tersebut disengaja agar peserta lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Ini memang ingin menciptakan suasana berbeda, lebih membumi,” ujarnya.
Menyapa Ruang Budaya Yogyakarta
Selama berada di Yogyakarta, rombongan LKB mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan ruang publik, antara lain Candi Prambanan, Masjid Jogokariyan, dan Pantai Cemara Sewu di Bantul. Untuk wisata kuliner, rombongan menyambangi Kopi Klotok di Kaliurang, Sate Klatak di Bangunharjo, serta Gudeg Bu Tjitro di Banguntapan Bantul yang telah berdiri sejak 1925.
Kunjungan tersebut bukan sekadar wisata. LKB mencermati bagaimana Yogyakarta mengelola pariwisata dan kuliner tanpa melepaskan akar tradisi dan identitas budaya.
Belajar dari Yogyakarta
Di sela kunjungan, LKB juga menggelar rapat kerja mini di kawasan Kopi Klotok. Diskusi dilakukan secara informal di tengah suasana alam, membahas strategi pelestarian dan pengembangan budaya Betawi, termasuk tantangan sosial dan politik yang memengaruhinya.
Beky menilai Yogyakarta berhasil menempatkan budaya sebagai sistem hidup yang terintegrasi dengan tata kota, pendidikan, pariwisata, dan kebijakan publik.
“Di Yogyakarta, budaya tidak berhenti pada festival dan seremoni. Ia hadir dalam penamaan ruang publik, tata kota, hingga pendidikan. Ini yang menjadi catatan penting bagi kami,” kata Beky.
Menurutnya, pelestarian budaya Betawi masih perlu keluar dari pendekatan seremonial dan mulai membangun sistem yang berkelanjutan.
Budaya sebagai Soft Power
LKB menilai Yogyakarta memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam menjaga identitasnya. Konsistensi tersebut tercermin dari bagaimana masyarakat dan pemerintah daerah merawat ingatan kolektif melalui simbol, ruang kota, dan literasi budaya.
Sementara itu, LKB melihat budaya Betawi memiliki potensi besar untuk menjadi identitas kuat Jakarta sebagai kota global, sebagaimana pernah disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Budaya Betawi harus menjadi ciri Jakarta. Untuk itu dibutuhkan energi, kreativitas, dan keberanian belajar dari daerah lain,” ujar Beky.
Ia menegaskan bahwa kekuatan budaya tidak selalu harus datang dari pemerintah. Peran masyarakat sipil menjadi kunci dalam membangun soft power kebudayaan.
“Jalan-jalan ini bukan hanya untuk menyegarkan pikiran, tapi juga untuk belajar. Energi untuk memajukan budaya bisa datang dari mana saja,” pungkasnya.












