Cerita dari Gandaria: Kampung Mualim, Makam Keramat, dan Koes Plus

Oleh: Yahya Andi Saputra

KabarBetawi.id – Saya anak kampung Gandaria, Jakarta Selatan. Pas nulis ini baru sadar, idup udah lama dan umur udah banyak. Kalo direken-reken hal umur, enggak sembabad ama kelakuan. Udah loyo masih bangor. Kesadaran sebagai manusia waras masih jauh.

Tu die, mengka kudu taubatan nasuha. Kudu sering beritung, istilah orang alim, hasibu anfusakum qabla antuhasabu. Bayangin, sebagai anak kampung yang diberanakin emak yang ternyata beranak 15 kali, berojolnya ditulung dukun dan waktu disunat ditulung bengkong, rasa-rasanya enggak kepikiran kalo ternyata perubahan lingkungan beklebat gasik dan tau-tau udah begini. Jadi kaya-kaya ngimpi gitu.

Dulu rasanye jauh, tapi ogah misah terus ngintilin bepegangan pundak. Pulang sekolah, abis makan, disuruh keluarin kambing. Ngarit, ngangon, guyang kambing atawa kebo, cubar-cubaran dan cebabangan di kali, nyari laya atawa kijing, neger gabus, ngubek empang, belajar alip-alipan, berebut berkat, berebut mukul bedug, mindik-mindik gilang pegi nonton, maen kalawadi atawa prosotan, dan semua hal-ihwal yang bikin girang, berasa kaya baru kemaren sore dikerjain.

Eh, pas beradu ama kondisi obyektif terkini, buyar dan ngelentab, gak ketauan jatohnya. Dulu bisa ngitung rumah dan kenal orangnya (emang masih beraya), sekarang empet-empetan dan lebih dari separo gak kenal. Kebon selebar jagat dan sawah ngampar enggak keliatan watesnya, sekarang penuh rumah.

Penamaan kampung yang kemudian jadi kelurahan, Gandaria (Utara dan Selatan), dulunya masuk kawasan pinggiran yang berkarakter agraris. Karakter ini berwajah kebon dan sawah. Mengka itu, orang Gandaria kebanyakan orang nani (petani).

Biar kata orang nani, nani yang guru, nani yang mualim, nani yang mukim, nani yang dukun, nani yang tukang. Waktu ditetapkan menjadi kelurahan, kampung Gandaria dipecah dua, jadi Kelurahan Gandaria Utara dan Gandaria Selatan.

Kelurahan Gandaria Utara masuk wilayah Kecamatan Kebayoran Baru, sedangkan Kelurahan Gandaria Selatan masuk wilayah Kecamatan Cilandak, Kotamadya Jakarta Selatan.

Pohon gandaria yang buahnya asem-manis.

Nama Kampung

Nama Kampung Gandaria diambil dari nama pohon yang memang banyak tumbuh di kawasan ini, yaitu pohon gandaria (Bouea Gandaria Bl.). Di kampung Gandaria, pohon gandaria tumbuh subur, merupakan poon yang tinggi berdaun lebat, berbuah manis masam.

Saya masih ingat betul beberapa pohon gandaria yang cukup tinggi dan besar menghiasi tegalan bebatasan dengan sawah.

Fillet (1888: 101) menjelaskan gandaria “Hooge boom. Het fraaie en sterke hout gebruikt men voor huisbouw en allerlei gereedschappen; de jonge bladeren eet men bij de rijst; de vruchten zijn zeer gezocht onrijp legt men ze in het zout; en rijp zijnde leveren zij een aangenaam ooft” (pohon yang tinggi. Kayunya yang indah dan kuat digunakan untuk membangun rumah dan segala jenis peralatan; daun mudanya dimakan dengan nasi; buahnya sangat dicari; ketika masih mentah, mereka dibaluri garam; dan bila matang akan menghasilkan buah yang mengasyikan).

Sampai awal abad ke-20, kampung Gandaria menjadi tanah partikelir, yang dikuasai dan dikelola oleh tun tanah (de Beus, 1912). Saat itu disebut Gandaria Noord dan Gandaria Zuid, Keresidenan Kebajoeran, Meester Cornelis, Batavia.

Gandaria Noord dikuasai dan dikelola oleh tuan tanah Ong Tjeng Joe, yang ditanami kelapa, kopi, dan padi. Sementara Gandaria Zuid dikuasai dan dikelola oleh perusahaan swasta bernama Eurazie I Batavia. Perusahaan ini menanaminya dengan kelapa, kopi, dan padi.

Tahun 1970-an kawasan Gandari Utara dan Gandaria Selatan dominan persawahan dan perkebunan. Pohon gandaria tumbuh tinggi dan rimbun dengan buahnya yang menggiurkan. Salah satu kekhasan buah gandaria, dijadikan tambahan bahan sambel: Sambel Gandaria. Masa itu suguhan makan siang dengan menu utama sayur asem dan gabus kering selalu dilengkapi dengan sambel gandaria. Sumbrahnye enggak ketulungan!

Secara kontur, Gandaria Selatan didominasi perkebunan dan persawahan. Sawah membelah kampung ini menjadi Gandaria Seberang Wetan dan Gandaia Seberang Kulon. Ada beberapa kampung, seperti Kebon Besar (masyarakatnya lebih beragam dengan tingat pendidikan memadai dengan aneka profesi, pegwai negeri/swasta, guru, tentara, dagang), Kebon Mangga (masyarakatnya sama dengan Kebon Besar).

Di ujung utara, ada Margaguna (masyarakat elitis kantoran), Gandaria Kulon (masyaraat agraris dengan aneka kerajinan, salah satunya kerajinan khas petasan), dan Kampung Poncol. Jika di Gandaria Wetan ada masjid Istiqomah, di Gandaria Kulon ada masjid Darul Falah, selain beberapa langar.

Lembaga Pendidikan (madrasah Ibtidayah dan Sekolah Dasar) berdiri, seperti Madrasah Al-Hidayah (sekarang bubar), SD Gandaria Selatan, perguruan Manaratul Islam (MI, MTs, dan MA), dan SMA Cenderawasih. Masjid lainnya, Al-Mukhlisin, Al-Munir, Nurul Yakin, dan Nurul Huda. Di sekolah, masjid, dan langar inilah anak-anak ditempa pengetahuannye, baik umum maupun keagamaan.

Masyarakat Gandaria Seberang Kulon, seperti disinggung di atas, adalah masyarakat agraris. Kampung ini dikelilingi sawah, baik di sebelah timur maupun sebelah barat. Sawah di sebelah timur dibatasi Jalan Fatmawati, sebagian Komplek Angkatan Laut.

Sawah di sebelah barat berbatasan dengan kampung Gembrug, Terogong Keil, serta sebagian tegalan dan pohon karet. Pada sawah inilah kami bertani dengan tanaman padi (dahulu padi ditatan setahun sekali) dan sayur mayur. Sesudah panen (padi), sawah diolah dijadikan galengan-galengan untuk ditanami oyong, kacang panjang, ketimun, bayam, kangkong, dan lobak.

Sementara kebun ditanami aneka pohon buah dan umbi. Aneka rambutan (Ace pelat/rapiah, ace macan, ace lengkeng, ace bule, nyonya), duren, nangka, cempedak, sirsak, manggis, sawo, bacang, kuini, jambu klutuk, jamblang, pete, pete cina, serta pohon yang rutin ditanam seperti singkong, pepaya, kacang tanah, dan jagung. Kalo pohon liar yang umbi atau buahnya dapat dimakan tumbuh subur, seperti seweg, gadung, angklik, dan ganyong atawa kimpul. Pohon babu pun tumbuh subur mengelilingi kampung. Ketika masa jaya cengkeh, orang Gandaria pun menanam cengkeh.

Makam Keramat

Orang Betawi Gandaria Selatan mengaku masih ada pertalian darah dengan Maulana Syarif Hidayatullah. Ada satu makam keramat di Jalan Madrasah yang baru selesai dipugar. Konon makam itu adalah makan Bek Jahran alias Pangeran Jahna Wijaya.

Bek Jahran adalah generasi ke-12 dari Syekh Maulana Syarif Hidayatullah. Namun, bagi saya, ini harus diperdalam dengan kajian yang didukung data dan fakta sejarah yang absah, bukan sekadar kajian kirata. Bek Jahran pada gilirannya melahirkan keturunan, yang nama-nama anaknya menjadi nama jalan, seperti Jalan Haji Nawi, Jalan Haji Jaya, dan Jalan Haji Syaip.

Stasiun MRT Haji Nawi, Jakarta Selatan (dok. MRT)

Di Gandaria Selatan, terdapat makam keramat disebut Keramat Batu. Keramat ini pun menjadi nama jalan, Jalan Keramat Batu. Menurut tuturan tokoh masyarakat, di makan ini dikuburkan salah seorang punggawa atau anak buah Sultan Agung Mataram. Konon ketika Jayakarta direbut oleh VOC, dibawah komando Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen pada 1619 dan didirikan kota baru Batavia, membuat Kerajaan Mataram sangat terpukul.

Maka Sultan Agung merancang penyerbuan untuk merebutnya kembali. Penyerbuat itu dilakukan dua gelombang, pertama pada 1628 dan 1629. Penyerbuan itu gagal total. Dari sinilah kemudian banyak punggawa Mataram yang tidak balik ke asalnye, melainkan berdiam di tempat persembunyiannya. Begitulah makam yang dikeramatkan di makam Keramat Batu, konon orang dari sana. Dinamakan Keramat Batu, karena makan itu ditandai dengan batu besar. Makam ini sering didatangi peziarah dari berbagai daerah.

Di Gandaria Selatan kita menemui Jalan Abuserin. Menurut tuturan tokoh masyarakat, Abuserin adalah tokoh kampung Kebon Besar, bernama Abu dan Serin, maksudnya Abu bin Serin. Makam keramat ini tidak jauh dari Kantor Kelurahan Gandaria Selatan dan kober wakaf Gandaria. Di sini juga pernah tinggal tokoh Orbe Baru; almarhum Jenderal Rudini.

Tokoh yang menjadi magnit dan penjaga marwah orang Betawi Gandaria Selatan, antara lain KH Iskaq Yahya, Guru Ishak Najihun (sering disapa Guru Ishak Tua), KH Muhammad Idris Kadun (dilanjutkan putranya KH Nawawi), Guru Marzuki Maih, dan H Ishak Solihun.

Jika nama-nama lain hanya mendirikan majlis taklim dan mengajar, KH Ishaq Yahya selain ngajar, juga mendirikan lembaga pendidikan. Bersama kaka dan istrinya (Ustazah Hajjah Umamah), mendirikan  Madrasah Manaratul Islam pada 1948 dan pesantren  1980.

Pesantrennya bernama Miftahul Ulum. Pesantren ini kini dipimpin putra KH Ishaq Yahya: KH Muhyidin Ishaq (kini menjabat Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta). Kiai muda yang kini bersinar, yaitu KH Muhammad Fatih Risyad, KH Abdul Azis Mukri Azhari, dan Kiai Abdul Hafidz (putra Kiai Ghozali Musonnif).

Akhir 1970-an, Gandaria Selatan, mulai berubah setahap demi setahap. Sawah dan rawa beserta balong di sebelah timur sepanjang Jalan Fatmawati (berbatasan dengan Kelurahan Cipete Selatan), berganti fungsi menjadi perumahan dan pertokoan. Beberapa komplek berdiri, antara lain Komplek Angkatan Laut (berubah fungsi menjadi Golden Truly, lalu menjadi DBest dan sekarang Lottemart).

Ada Komplek Departemen Luar Negeri. Ada Komplek Departemen Agama. Lalu showroom mobil, hotel, dan sebagainya. Sebelah barat pun berubah fungsi menjadi kawasan perumahan elite dan lapangan golf Pondok Indah.

Batas Kelurahan Gandaria Selatan dengan Kelurahan Gandaria Utara adalah Jalan Haji Nawi. Kelurahan Gandaria Utara dimulai dari Jalan Haji Nawi di selatan sampai Jalan Kramat Pela Kelurahan Krama Pela di utara. Sebelah barat dibatasi dengan Kali Grogol. Kelurahan ini dibelah oleh Jalan Radio Dalam, mulai dari Margaguna sampai Jalan KH Ahmad Dahlan di utara. Karena Jalan Radio Dalam, maka nama-nama jalan lainnya (khususnya di bagian sebelah barat), menggunakan nama yang terkait dengan radio, seperti Jalan Atena 1-10.

Di Jalan Taman Radio Dalam, tinggal mendiang dan tokoh masyarakat Betawi, politisi, dan aktivis NU: HM Syah Manaf. Nama jalan lain diambil dari buah (kweni), kembang (anggrek, kamboja, kenanga), nama orang (H Salim, H Zaini, H Leman), dan lainnya (Yado, Delta Sari, Dasa Raya, Dwijaya).

Di bagian sebelah timur Jalan Radio Dalam, kondisi kampung lebih padat. Nama jalan (Hidup Baru 1-6, Karya Utama, Karma 1- 4, Nusa Indah 1-2, Kubis 1-2), menghiasi kawasan ini. Di bagian ini, berdiri kampus STIK, pasar, dan Kompleks AL yang nama jalannya menggunakan nama kapal, seperti KRI Ajag, KRI Srigala, KRI Anoa, KRI Beruang, dan KRI Macan Tutul).

Di Gandaria Utara, tepatnya di Jalan Hidup Baru, tinggal musisi beken bersama grup band yang sangat populer di tahun 1960-an: Koes Bersaudara dan Koes Plus. Koes Plus dikenal sebagai salah satu pelopor musik pop dan rock & roll di Indonesia.

Sekarang rumah ini ditempati Mirza Riadiani Kesuma, lebih dikenal sebagai Chicha Koeswoyo, seorang pemeran, penyanyi dan politisi. Ia anak tertua dari Nomo Koeswoyo, anggota sekaligus pendiri grup musik Indonesia, Koes Bersaudara.

Dari Jalan Radio Dalam atau Jalan Antena I, mari kita enggerieng nyanyiin lagu Koes Plus:

Di sana rumahku dalam kabut biru
Hatiku sedih di hari Minggu
Di sana kasihku berdiri menunggu
Di batas waktu yang t’lah tertentu

Bacaan
de Beus, G., Ambtenaar Ned. Ind. Spoorweg-Mij. 1912. Plaatselijk Woordenboek van Java en Madoera, Bevattende Apphabetische Naamlijst van de Voornaamste Plaatsen en van alle Landbouwondernemingen op Java en Madoera, met Gegevens Betreffende den Post-, Telegraaf-en Telefoondienst, Ligging ten Opzichte van Spoor en Tramwegen, Logeergelegenheden, Vervoermiddelen, enz. 1e Uitgave, Amsterdam: Uitgever J. H. de Bussy.

Fillet, G. J. 1888. Plantkundig Woordenboek voor Nederlandch-Indie (Tweede vermeerderde en verbeterde druk). Amsterdam: J. H. De Bussy.

Gie, The Liang. 1967. Pertumbuhan Pemerintahan Daerah. Jakarta: Gunung Agung.

Saputra, Yahya Andi. 2008. Upacara Daur Hidup Adat Betawi. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.