Kenangan Manis di Kebon Kajoemanis

oleh: Muhammad Sulhi

KabarBetawi.id – Kalau mau nyaba ke rumah saya di Jalan Kayumanis Barat, kudu ikhlas masuk gang. Namanya Gang Dadap, terletak di pinggir rel jalur kereta api Senen-Jatinegara-Bekasi. Ini salah satu jalur kereta tertua yang pernah dibangun di era Batavia, mulai beroperasi sejak 1887. Stasiun Jatinegara sendiri mulai digunakan sejak 15 Oktober 1909.

Di salah satu rumah, sekitar 15 meter dari ujung gang pinggir rel itulah saya tinggal. Sejak orok sampe bangkotan. Sejak brojol di rumah bersalin Khatolik Melania Tegalan, sampe ampir 60 taon sekarang. Soal nama gang, kenapa Dadap, tau dah mulai kapan namanya begitu. Seingat saya, zaman masih bocil, orang-orang lebih sering nyebut Punduren. Lantaran ada puun duren deket situ. Gede banget itu puun. Sebelom dipangkas, posisinya pas di samping warung gado-gado Nyak Siti,  bininya bang Wandi.

Cerita Ibu saya yang guru madrasah, engkong saya yang bernama Sabeni, meninggal seabis mungut duren jatoh dari puun tersebut, seabis Subuhan di masjid. Awalnya kayak duren beneran, tapi pas dipungut berubah jadi kepala manusia. Sejak itu hari, Kong Sabeni yang langganan imam masjid jatoh sakit, sampe meninggal dunia.

Ibu bilang, kepala manusia itu dikirim orang yang dendem ama engkong. Orang jahat. Mana ada orang baek tega ngerjain imam masjid?

Kalau diperhatiin peta bikinan Kumpeni taon 1919, Kelurahan Kayumanis kiwari, termasuk Gang Dadap, dulu dikasih nama Kebon Kajoemanis. Di peta warnanya ijo royo-royo, barangkali dulu banyak puun kayumanis, wallahu alam. Saya belom nemu kitab yang secara gamblang nyebut soal itu.

Sekarang Kayumanis berjubel manusia. Menurut data teranyar, penduduknya 30 ribuan jiwa, sementara tanahnya cuma 135 hektare. Artinya, tingkat kepadatannya 22 ribu orang per km persegi. Masuk kategori “padet banget” (di atas 15.000 orang per km persegi), kalo kate BPS. Di peta lama, ini kebon tetanggaan ama Salemba Oetan Kajoe, Pal Meriem, Berenlaan, dan Laan Tegalan.

Peta Kebon Kajoemanis zaman kolonial Belanda (dok.ist).

Inggris versus Prancis

Di Kebon Kajoemanis ada Stasiun Pondok Djati, tetanggaan Stasiun Jatinegara. Enggak jauh dari situ, persisnya di sekitar Gang Solitude, pada Agustus 1811 pernah terjadi pertempuran hebat antara tentara Prancis (Napoleon) yang didukung kumpeni dan tentara bayaran dari Jawa, melawan tentara Inggris yang disokong tentara bayaran India. Mereka ngerebutin penguasaan atas Batavia dan Hindia Belanda.

Nama “solitude” (sepi, sunyi) dipake lantaran seabis pertempuran hebat, tentara Inggris yang menang, melihat kondisi di sekitar begitu sepi, solitude kate mereka. Hanya ada mayat bergelimpangan, kepulan asap meriem, dan langit item. Sebagian pasukan Napoleon kabur ninggalin pos pertahanannya di Pal Meriem dan Gang Solitude menuju Jatinegara. Mangkanye pertempuran ini dibilang juga Battle of Meester Cornelis.

Meester Cornelis dan sekitarnya di zaman itu punya kedudukan geopolitik penting banget. Menangnye tentara Inggris yang dipimpin Letjen Sir Samuel Auchmuty di Pal Meriem, Solitude, sampe Meester Cornelis otomatis ngejadiin Thomas Stamford Raffles penguasa Batavia, sekaligus Jawa dan Hindia Belanda sampe 1816.

Jejak perang kolonial di Kebon Kajoemanis ini satu paket ama sejarah Kecamatan Matraman, yang pernah jadi basis pertahanan tentara Sultan Agung (Mataram) saat gagal nyerang Batavia pada 1628 dan 1629. Sekarang secara administratif, Matraman membawahi 6 kelurahan: Kebon Manggis, Pal Meriam, Kayumanis, Pisangan Baru, Utankayu Selatan, dan Utankayu Utara.

Salemba masuk Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Jatinegara sekarang jadi kecamatan tersendiri, membawahi kelurahan Bali Mester, Kampung Melayu, Bidara Cina, Cipinang Cempedak, Rawabunga, Cipinang Besar Utara, Cipinang Besar Selatan, dan Cipinang Muara.

Jadi, aman dibilang, Kebon Kajoemanis secara geopolitis dulu berada di kawasan penunjang Batavia hingga Meester Cornelis. Sedangkan sekarang berada di garis batas Jakarta Pusat dan Jakarta Timur, disangga  Jalan Pramuka.

Tradisi Betawi yang berkembang di wilayah ini adalah Betawi Tengah, lantaran banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan China.

Dari Gang Dadap, saya biasa motong rel, lalu jalan kaki sekitar 5-10 menit ke Tegalan atau Matraman Raya. Dari situ, mau ke mana aja gampil, semua moda transportasi ada. Tahun ’70-an ada trem, bus gede PPD dan Mayasari Bhakti, helicak, sampe oplet. Kebanyakan ngambil rute Cililitan-Senen. Di depan CBZ (sekarang RSCM) bahkan ada pangkalan bemo. Kalo mau naik kereta, tinggal jalan kaki sedikit ke Pondok Djati.

 

Bangkrutnya Tempat Kencan

Saat saya kecil, Bapak yang PNS sering ngajak jalan kaki ke lapangan Jenderal Oerip Soemohardjo di Jatinegara. Biasanya Minggu pagi. Cuma buat liat-liat barang afkir. Bapak suka beli barang elektronik rusak, lalu dia betulin di rumah. Salah satunya tape deck yang bertahan sampe saya kuliah. Abis itu beli perangko di Kantor Pos Jatinegara. Kebiasaan ini kelak yang membuat saya jadi seorang filatelis.

Kadang kami naek oplet ke Senen, mampir ke pengajian Habib atau sekadar liat-liat buku bekas di Kwitang. Atau beli komponen elektronik di Jalan Kembang Sepatu, untuk dirangkai jadi alat yang bisa ngeluarin suara burung, bel, alarm, sampe radio transistor sederhana.

Sejak kecil saya suka baca. Satu-satunya toko buku besar adalah Pustaka Dian di Jalan Matraman Raya. Saya rela jalan kaki ke sana, melewati kampung Pal Meriam. Seperti nemuin surga dunia rasanya pas sampe dan nyaksiin tumpukan buku di sana, meski harus keringetan lantaran jalan kaki kurang lebih 30 menit.

Setelah lama mengandalkan Pustaka Dian, di taon 1992 akhirnya hadir toko buku yang katanya paling gede se-Asia Tenggara, di Jalan Matraman Raya. Namanya toko buku Gramedia Matraman. Segera tempat itu jadi salah satu ikon literasi Jakarta, sekaligus tempat pelarian saya saat suntuk.

Lokasi toko buku ini dulunya studio foto dan pangkalan bensin eceran. Bapak sering bawa saya untuk berfoto di sana. Salah satu propertinya adalah ular. Dulu saya enggak abis mikir, kok ada orang mau foto bareng ular?

Hadirnya Gramedia Matraman membuat toko buku Pustaka Dian pelan-pelan sepi, lalu lenyap tanpa bekas. Sama kayak bangkrutnya bioskop Djaya dan Nusantara, tempat saya pacaran saat remaja. Keduanya bangkrut lantaran kian sepi minat masyarakat nonton ke bioskop.

 

 

Mompa Petromaks

Tahun ’70-an adalah masa ketika banyak rumah di Kampung Kebon Kajoemanis mulai mengombinasikan listrik dan petromaks. Rumah saya, persisnya rumah Engkong, karena Bapak-Ibu masih menumpang di situ, sudah menggunakan bola lampu di beberapa ruangan. Tapi petromaks tetep jadi andalan di ruang utama. Entah, mungkin Engkong ingin berhemat. Tiap sore, saya bantu nyiapin spiritus, kadang disuruh mompa petromaks juga.

Dinding rumah warga dan rumah Engkong, sebagian besar sudah terbuat dari tembok. Sebagian kecil bilik anyaman bambu yang dikapurin putih atau biru. Saya ingat banget, dulu sering gosokin jari tangan ke bilik, supaya enggak licin saat nyabutin uban Engkong. Persenan hasil nyabutin uban Engkong lumayan.

Beranjak SMP, saatnya ikut temen-temen “ngadu bola” dan “ngadu layangan”. Karena lapangan milik Engkong di depan rumah enggak besar, kami long march ke lapangan Gadis di Pasar Jangkrik, sekitar 30 menit jalan kaki dari rumah. Jangan tanya kenapa namanya lapangan Gadis, bukan lapangan Janda, saya enggak tahu.

Di sekitar situ, ada pembuat benang gelasan top markotop di zamannya. Namanya Baba Encu. Kalau pakai benang gelasan Baba Encu, rasa percaya diri saat main layangan langsung terdongkrak. Siap melawan siapapun di udara Jakarta yang langitnya masih putih-biru bersih.

 

Lembut Suaranya, Manis Bisikannya

Beberapa entitas bisnis sempat berkibar di Kayumanis. Sebut saja Roti Guriyana yang pabriknya dirintis oleh Haji Muhamad Subari pada tahun 1971 di Jalan Kayumanis IX. Paling terkenal roti tawarnya, gurih dan lembut sesuai dengan namanya. Roti tawar ini favorit Engkong saya, yang berteman baik dengan sang pemilik pabrik.

Mulanya saya pikir roti ini paling banter cuma dikenal di Kayumanis atau Matraman. Ternyata salah. Guriyana juga favorit banyak warga Jakarta. Saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017, saya nyaksiin sendiri salah satu calon, Agus Yudhohono dateng ke pabrik Guriyana. Agus bahkan menyebut dirinya sebagai penggemar berat roti tawar Guriyana. Sampe sekarang, Guriyana masih bertahan, meski megap-megap di tengah serbuan kuliner modern.

Entitas bisnis lain yang enggak kalah beken adalah Radio Kayumanis (RKM). Radio yang mulai mengudara awal ’90-an ini bukan cuma favorit Bapak saya, tapi juga sempat jadi favorit warga Jakarta. Setiap pagi, seperti ribuan rumah tangga lainnya, Bapak pasti nyetel siraman rohani yang dibawain KH Kosim Nurseha. Kiai Kosim dikenal juga sebagai pembimbing rohani mantan Presiden Soeharto.

Ceramah-ceramah KH Kosim Nurseha yang lembut namun kocak, enggak hanya ngelambungin namanya sebagai dai, tapi juga ngedongkrak rating Radio Kayumanis dalam persaingan dengan radio lain di Jakarta. Bahkan mengantarkan RKM sebagai salah satu radio legendaris di zamannya.

Tapi setelah proses akuisisi dan rebranding yang enggak mulus pada 2013, apalagi ditambah wafatnya KH Kosim Nurseha, radio yang punya jargon udara “lembut suaranya, manis bisikannya” ini lenyap begitu saja, kayak ditelen kalongwewe.

Kiai top lain yang pernah ngelambungin nama Kebon Kajoemanis adalah Hasyim Adnan. Jika KH Kosim Nurseha kedemenan Bapak, KH Hasyim Adnan ini kedemenan saya. Penceramah asal Tegal yang ke Jakarta sejak 1965 ini salah seorang pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Di tahun ’70-an hingga ’80-an sering berceramah dari masjid ke masjid di seantero Jakarta, bahkan Indonesia.

Saya seneng denger ceramahnya yang seru: lantang, tegas, tapi juga kocak. Jargonnya “Cok galigacok, cocok!” selalu keluar mencairkan suasana tiap kali pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah ini berceramah. Sampe sekarang, sekolah warisan Hasyim Adnan masih tegak berdiri di Jalan Kayumanis Barat.

Toko buku Gramedia salah satu ikon Jalan Matraman, Jakarta Timur.

Angker Lantaran Tawuran

Sayangnya, seolah meneruskan tradisi zaman kolonial sebagai ajang pertempuran, Jalan Matraman Raya di era 80-an hingga 90-an sempat jadi kawasan angker di mata warga Jakarta. Tawuran antarwarga Berlan, Kebon Manggis, Manggarai, Pal Meriam, hingga Kayumanis kerap terjadi. Silih berganti. Sering enggak jelas pemicunya. Tawuran telah menyulut permusuhan warga selama bertahun-tahun.

Saya inget banget, malam pertama di hari pernikahan saya, tahun 1997, mendadak tiang-tiang listrik – kami nyebutnya tiang klonongan – bunyi bersahutan. “Siap-siap di depan gang, Berlan menyerang Pal Meriam,” teriak si pemukul klonongan.

Kaum lelaki langsung berlarian menuju gang. Pal Meriam jadi garda depan. Kalo Pal Meriam diserang Berlan, kami di Kayumanis mesti siaga. Berlan sebagai kompleks tentara punya modal senjata buat nerobos perkampungan tetangganya.

Alhamdulillah, sejak tahun 2000-an, era gelap itu selesai. Saya nyaris enggak lagi denger kabar tawuran. Seinget saya, perdamaian terjadi, sejak Hamzah Haz yang tinggal di Jalan Tegalan, tak jauh dari Gang Dadap, jadi Wakil Presiden RI periode 2001-2004. Mungkin ada Pampampres dan pejabat penting menjadi penentu. Sejak itu, enggak ada lagi genderang perang bertalu-talu.

Kadang saya masih suka bayangin tentara Mataram wara-wiri di Matraman Raya, nyari tempat aman di perkampungan Salemba Oetan Kajoe, Kebon Kajoemanis, Paseban, dan sekitarnya. Atau mencekamnya Gang Solitude, dengan asap hitam bekas letupan meriam membumbung tinggi di langit. Atau bayangin tentara Napoleon dengan seragam khasnya.

Selama hampir 60 tahun saya jadi warga Kebon Kajoemanis. Sejauh waktu berjalan hanya ada kenangan manis. Meski hidup makin miris, penghuni kampung datang dan pergi silih berganti, pemukiman pun makin padat. Sementara nasi uduk, nasi ulam, ketupat sayur, kue apem, dan kue lupis makin susah didapet.

Kereta api makin kerap melintas, TransJakarta, dan LRT menggantikan PPD, Mayasari Bhakti, helicak, oplet, dan becak.

Kenangan manis saat Jakarta masih jadi kampung besar, tak akan pernah terkikis. Jakarta boleh berubah, orang Betawi boleh pindah. Tapi ingatan kolektif terhadap kampung-kampung Betawi tempo dulu mestinya jangan sampai punah.