Kabarbetawi.id, Jakarta – Kepala Dinas Kominfotik (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan dukungan terhadap inisiatif Forum Jurnalis Betawi (FJB) dalam mendokumentasikan sejarah dan cerita kampung-kampung Betawi melalui penulisan buku serta penguatan platform digital.
Dukungan tersebut mengemuka dalam audiensi FJB dengan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Provinsi DKI Jakarta, Budi Awaluddin, yang berlangsung di Ruang Kepala Dinas Kominfotik, Gedung G Lantai 3, Balai Kota Jakarta, Rabu (14/1/2025).
Dalam pertemuan itu, Budi Awaluddin didampingi Kepala Bidang Infrastruktur Digital Diskominfotik DKI Jakarta, Koharudin.

Audiensi tersebut dihadiri jajaran pengurus Forum Jurnalis Betawi (FJB), antara lain M. Syakur Usman selaku Ketua FJB, Helmi, Denny Firmansyah, Fadjriah Nurdiarsih, Ahmad Faisal, Dunih, Tri Joyo Adi, serta Setyo Hadi Wiratmoko.
Target 500 Cerita Kampung Betawi
Dalam audiensi tersebut, FJB memaparkan sejumlah agenda kegiatan yang direncanakan pada tahun 2026. Salah satu program utama adalah penulisan buku kumpulan cerita kampung halaman Betawi di Jakarta dengan target 500 cerita, sejalan dengan peringatan HUT ke-500 Kota Jakarta (5 Abad) pada 2027 nanti.
Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB). M.Syakur Usman mengatakan, proses pengumpulan cerita telah dimulai oleh anggota FJB yang berasal dari berbagai wilayah di Jakarta.
“Saat ini pembuatan cerita-cerita kampung Betawi sudah kami mulai, diawali oleh teman-teman Forum Jurnalis Betawi yang menuliskan kisah dari kampungnya masing-masing,” ujar Syakur.
Menurutnya, buku tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam pelestarian sejarah lokal Jakarta sekaligus memperkaya literasi budaya Betawi bagi generasi mendatang.
Penguatan Kanal Digital Budaya Betawi
Menanggapi inisiatif tersebut, Budi Awaluddin menekankan pentingnya pemanfaatan platform digital sebagai sarana dokumentasi dan publikasi cerita Betawi secara berkelanjutan.
Ia menyebutkan, cerita-cerita kampung Betawi yang terkumpul dapat ditampilkan melalui kanal khusus pada platform digital, salah satunya yang sudah dimiliki oleh teman-teman FJB, yaitu kabarbetawi.id.

“Nantinya melalui website ini, masyarakat bisa melihat sejarah dan cerita Jakarta, termasuk cerita-cerita Betawi yang sudah terkumpul. Ini bisa ditampilkan secara bertahap,” kata Budi.
Menurut Budi, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai media pendukung buku, tetapi juga sebagai arsip digital budaya Betawi yang dapat diakses publik secara luas.
“Website ini tidak hanya berbicara soal buku atau definisi Betawi semata, tetapi memuat cerita-cerita Betawi secara lebih luas. Kami siap membantu dari sumber daya yang kami miliki,” tambahnya.
Rencana Kanal Khusus dan Peluncuran Resmi
Budi juga mengungkapkan rencana pembentukan kanal khusus budaya Betawi sebagai fitur unggulan yang akan diluncurkan secara resmi.
“Harus ada kanal khusus dengan fitur unggulan, bisa juga kabarbetawi.id kita koneksikan dengan yang sudah ada disini, dan nanti pada saat peluncuran, sekaligus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Peluncuran tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan cerita Betawi kepada publik yang lebih luas, khususnya generasi muda.
Buku Fisik Tetap Didorong
Selain penguatan digital, Pemprov DKI Jakarta juga membuka peluang penerbitan buku fisik sebagai bagian dari penguatan literasi budaya.
Budi menyebut, buku kumpulan cerita Betawi tersebut berpotensi didistribusikan ke sekolah-sekolah dan perpustakaan di Jakarta.

“Apabila buku ini dinilai penting, bisa didistribusikan ke sekolah dan perpustakaan. Untuk penganggaran dan pencetakannya dapat dikoordinasikan dengan perangkat daerah terkait,” kata Budi.
Ia menambahkan, nanti penyerahan buku secara simbolis kepada sekolah dan perpustakaan dapat dilakukan setelah seluruh cerita terkumpul dan disusun secara komprehensif.
Kadis Kominfotik Sarankan FGD Libatkan Tokoh Budaya Betawi
Untuk mematangkan program tersebut, Budi Awaluddin menyarankan agar FJB segera menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan tokoh-tokoh budaya Betawi sebagai narasumber.
“FGD ini penting untuk menjaring masukan, memperkaya tema, dan memastikan substansi cerita sesuai dengan nilai budaya Betawi,” ujar Budi.
Ia menambahkan, pelaksanaan FGD dapat dikemas secara formal maupun lebih santai, salah satunya dengan menggabungkannya bersama kegiatan buka puasa bersama (bukber).
“Bisa dibahas berbarengan dengan buka puasa bersama agar suasananya lebih cair, tetapi substansinya tetap terjaga,” katanya.
Menurut Budi, hasil FGD tersebut nantinya dapat menjadi dasar dalam penyusunan tema, mekanisme seleksi cerita, serta pengembangan konten, baik untuk buku maupun kanal digital budaya Betawi.
Menuju Kick Off Program
Ke depan, Kominfotik DKI Jakarta juga membuka peluang audiensi lanjutan dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta sebagai bagian dari tahapan awal atau kick off program.
“Konsep dan agenda kegiatan ini sama-sama kita matangkan. Jika diperlukan, akan dilakukan audiensi dengan Wakil Gubernur sebagai bagian dari kick off program,” pungkas Budi. (hel)












