Kabarbetawi.id, Jakarta — Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Bang Foke, menaruh perhatian pada tradisi Lebaran Betawi di kawasan Duri Kosambi yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Tradisi ini dikenal dengan silaturahmi “keliling kampung” yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Rasa ingin tahu Bang Foke terhadap asal-usul tradisi ini mengemuka saat ia bersilaturahmi ke kediaman tokoh masyarakat sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al Itqon, KH Mahfudz Asirun, pada Minggu (22/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, ia menggali cerita awal mula terbentuknya kebiasaan unik yang hingga kini masih lestari di tengah masyarakat Betawi.
Menurut penuturan KH Mahfudz, tradisi ini berawal dari kisah sederhana di masa lalu. Ayahnya, KH Asirun bin H. Selong, pernah menceritakan pertemuan dua kiai dari wilayah berbeda Duri Kosambi dan Tanah Koja yang secara tidak sengaja berpapasan di jalan saat sama-sama hendak bersilaturahmi.
Dalam pertemuan itu, keduanya saling menyapa dengan logat Betawi khas dan menyadari bahwa tujuan mereka justru saling berbalasan.
Dari situ muncul gagasan untuk membuat jadwal kunjungan agar silaturahmi menjadi lebih tertib dan tidak saling berpapasan di jalan. Kesepakatan sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi keliling kampung yang terorganisir.
“Dari situlah mulai terjadwal kunjungan silaturahmi Lebaran antar kampung di Duri Kosambi ini,” ujar KH Mahfudz menirukan cerita sang ayah.
Dalam praktiknya, masyarakat memulai Lebaran dengan mengunjungi keluarga inti dan berziarah ke makam pada hari pertama Idulfitri.

Selanjutnya, mulai hari kedua hingga hari ketujuh, warga mengikuti jadwal kunjungan antar kampung yang telah disepakati bersama.
Kampung-kampung seperti Pulo, Pondok Randu, Bojong, Kampung Gunung, Rawa Buaya, hingga wilayah Tangerang turut terlibat dalam rangkaian silaturahmi ini. Bahkan, pada hari ketujuh, kunjungan dikhususkan bagi wali santri, sebelum akhirnya masyarakat bebas bersilaturahmi pada hari berikutnya.
Setiap rumah yang dikunjungi telah menyiapkan beragam hidangan khas Betawi, mulai dari rendang, semur, sayur gurih, jengkol, hingga nasi kebuli.
Pola kunjungan ini menciptakan suasana “open house” bergilir yang berlangsung hampir tanpa henti selama sepekan penuh.
Lebih dari sekadar tradisi Lebaran, kegiatan ini menjadi sarana mempererat hubungan kekerabatan antar warga lintas kampung.
Interaksi yang intens selama tujuh hari juga memperkuat rasa saling mengenal dan memiliki, bahkan di antara warga yang berasal dari latar kampung berbeda.
Bang Foke menilai tradisi ini memiliki nilai sosial yang tinggi dan patut dijaga.
Menurutnya, hubungan yang erat antar warga dapat menjadi benteng sosial yang efektif dalam mencegah konflik, termasuk potensi tawuran antar kampung.
“Tradisi yang baik seperti ini harus kita teruskan dan jaga agar tidak hilang, terutama untuk generasi mendatang kaum Betawi,” ujar Bang Foke.
Ia juga berharap tradisi serupa dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Jakarta.
Di tengah arus modernisasi, Lebaran Betawi di Duri Kosambi dinilai menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.












