Cerita Kebon Jeruk: Kampung Betawi, Jalan Panjang, dan Asmara Subuh

Oleh: Ahmad Buchori

KabarBetawi.id – Kebon Jeruk yang dimaksud adalah sebuah kelurahan dalam Kecamatan Kebon Jeruk di Jakarta Barat. Ini perlu ditegaskan karena pernah kalau kita bilang tinggal di Kebon Jeruk, suka ada yang merespons, oh yang di daerah Kota ya? Meski sama-sama di Jakarta Barat, Kebon Jeruk ini bukan nama wilayah, tapi nama jalan.

Kelurahan Kebon Jeruk berbatasan dengan Kelurahan Kedoya Selatan dan Duri Kepa di sebelah utara, Kelurahan Sukabumi Utara dan Kelapa Dua di sebelah selatan, Kelurahan Palmerah dan Kemanggisan di sebelah Timur, dan Kelurahan Srengseng dan Meruya Utara di sebelah barat.

Kebon Jeruk makin dikenal masyarakat, setelah dibangun Studio TV swasta pertama di Indonesia RCTI dan Jalan Tol Jakarta-Merak pada 1980-an, karena di situ ada Gerbang Tol. Kelurahan ini makin terkenal, setelah dibangun Jalan Panjang Arteri yang menghubungkan Jalan Daan Mogot dengan kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Jalan ini membelah Kelurahan Kebon Jeruk. Alhasil, lalu lintas makin ramai dan kegiatan ekonomi bertumbuh pesat di sepanjang jalan.

Pertumbuhan ini membuat sejumlah warga menjual atau menyewakan tanah miliknya. Sementara pemiliknya pindah ke wilayah lain atau bergeser ke bagian dalam wilayah, tidak lagi di pinggir jalan utama. Generasi tuanya banyak yang dipanggil Allah SWT. Warisan pun sudah diberikan. Kondisi ini membuat jumlah orang Kebon Jeruk asli berkurang.

Namun, sebagai kampung Betawi, kebetawian di Kebon Jeruk masih hidup dan bertahan, meski mungkin tidak sekental di wilayah lain. Ngaji Al-Qur’an, majelis taklim, tahlilal, ziarah kubur, mauludan, silaturahim, dan penggunaan bahasa Betawi masih dilaksanakan.

Kuliner Betawi,seperti nasi uduk, dodol, wajik, kue satu, kue putu mayang, tape uli dan ketupat, masih mudah didapatkan. Meski kini makin berkurang pembuat dan penjualnya.

Gerbang Tol Kebon Jeruk, Jakata Barat (Dok: Kementerian PU RI).

Asal-Usul Nama

Nama Kebon Jeruk, kabarnya diambil dari perkebunan jeruk di zaman kolonial Belanda. Wilayah ini bahkan menjadi sentra buah-buahan, khususnya jeruk. Namun, hingga kini belum ada yang dapat menunjukkan bukti-bukti asal usul nama wilayah tersebut. Mungkin semua sudah musnah.

Sekitar 1970-an, masyarakat Kebon Jeruk mayoritas bekerja sebagai petani, seperti petani sayur-mayur dan petani tanaman hias, khususnya anggrek.

Mereka juga ada yang menjadi pegawai negeri, guru, dan ustad. Masjid tertua dan terkenal di sana adalah Masjid Jami Assurur yang dibangun pada 1880-an. Tulisan tahun itu terpampang di gapura masjid. Di masjid ini sering diselenggarakan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan dengan mengundang tokoh-tokoh pemerintahan dan ulama terkenal.

Masjid Jami Assurur di Kebon Jeruk, Jakarta Barat (dok: Kompasiana).

Tidak seperti Rawa Belong yang dikenal dengan jawara Pitung dan pasar kembang, serta Tanah Abang dikenal dengan pusat tekstil dan silat Sabeni, Kebon Jeruk tidak memiliki identitas khas. Kebon Jeruk bahkan tidak pernah disebut-sebut dalam sejarah kebetawian serta perkembangan bahasa Betawi. Mungkin karena ciri kebetawian di wilayah-wilayah tersebut memiliki kemiripan.

Oplet dan becak menjadi alat transportasi publik yang digunakan warga Kebon Jeruk tempo dulu. Saat itu juga ada angkutan pengangkut penumpang milik masyarakat perseorangan. Dahulu di jalan yang kini dikenal dengan nama Jalan Raya Kebon Jeruk, menjadi lintasan oplet dan angkutan umum bagi masyarakat yang ingin pergi ke pasar Palmerah dan Tanah Abang.
Jalan ini juga dilintasi para pekerja pembatik yang bekerja di pabrik atau pedagang sayur yang memikul dagangan menuju pasar di Kebayoran Lama atau Pasar Palmerah.

Pada masa itu jalannya sudah cukup ramai, meski kondisinya terkadang berlobang di sana-sini akibat minim perawatan. Kini jalan sudah mulus. Transportasi publik pun lengkap. Kebon Jeruk dilalui Transjakarta, Jaklingko, dan mikrolet. Sebelumnya ada Metromini dan Kopaja.

Jalan yang saat ini dikenal sebagai Jalan Panjang, dulu masih sedikit yang beraspal. Kebanyakan jalan tanah bergelombang. Saking dalamnya lobang di jalan, kejadian becak dengan penumpangnya terbalik sering terjadi.

Pada bulan puasa Ramadan di masa-masa itu, jalan besar ini dijadikan masyarakat untuk bersantai sambil olah raga, setelah salat Subuh. Mereka wira-wiri, hanya berjalan santai dari satu titik ke titik lain, lalu bubar dan pulang. Suasana sangat ramai hingga menjelang Lebaran. Kita masih bisa bertemu kenalan dan saudara yang lama tidak bersua. Bisa juga ketemu pasangan hidup buat yang masih jomblo. Kegiatan tersebut terkadang disebut juga kegiatan Asmara Subuh.

Wira-wiri selama Ramadan itu tidak berlangsung lama. Pembangunan jalan tol Jakarta-Merak membuat sebuah jembatan mesti dibangun di atas jalan tol. Jembatan itu menghubungkan Kebon Jeruk dengan Duri Kepa. Setelah ada jembatan itu, tujuan jalan-jalan abis subuh, tidak lagi dari satu titik ke titik lain, melainkan menuju ke jembatan tersebut. Namun, itu pun tidak berlangsung lama. Berangsur kegiatan menghilang, mungkin ada rasa bosan atau mungkin  bulan puasa tidak lagi menjadi libur panjang bagi pelajar.

Kegiatan majelis taklim ibu-ibu di Kebun Jeruk (dok: pribadi).

Patungan Kebo

Yang hampir setiap tahun dilakoni pada masa itu adalah warga Kebon Jeruk menyelenggarakan Patungan Kebo. Jadi penyetoran dana patungan dilakukan selama satu tahun hingga menjelang Lebaran. Pesertanya adalah kelompok pengajian bapak-bapak. Tidak eksklusif, karena masyarakat luar kelompok itu tapi ingin ikutan patungan diperkenankan.

Bagi masyarakat, khususnya anak-anak, pemotongan kerbau menjelang Lebaran merupakan hal yang dinanti. Ada rasa syukur dan bahagia bisa berkumpul sesama orang Kebon Jeruk, menyaksikan kerbau disembelih dan daging serta tulangnya dibagikan dalam sejumlah tandingan yang diberi nomor.

Nomor itu menjadi nomor undian bagi peserta patungan. Jika mendapat nomor 12, maka tandingan yang bisa ditenteng pulang adalah bernomor 12. Musyawarah dalam mengambil keputusan dan rasa kebersamaan antarwarga dilaksanakan dalam memenuhi kebutuhan daging kerbau sebagai teman makan ketupat dengan sayurnya jelang Lebaran.

Saat Hari Raya Lebaran, banyak warga bergerombol mendatangi rumah-rumah milik orang yang dituakan untuk silaturahim. Orang tua pun mengajak keluarga untuk Lebaran ke kerabat. Saling kunjung antarkeluarga menjadi pemandangan biasa pada perayaan Lebaran itu. Pada hari kedua Lebaran, biasanya mereka melakukan ziarah kubur guna mendoakan orang gtua dan keluarga yang berpulang.

Pada masa itu, sarana kesehatan dan pendidikan sudah memadai. Di Kecamatan Kebon Jeruk yang berlokasi di Kelurahan Kebon Jeruk, ada satu Puskesmas. Gedung sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) juga sudah ada. Saat itu, masuk sekolah sangat mudah. Semua tergantung kemauan calon murid dan orang tuanya. Masuk sekolah menengah pertama pun mudah, berdasarkan rayon. Karena rata-rata warga Kebon Jeruk itu masih bersaudara, maka di sekolah menengah pertama pun banyak siswanya masih saudaraan.

Warga pun ada yang mendirikan madrasah untuk pendidikan agama Islam bagi masyarakat setempat. Banyak juga warga yang bersedia menjadi guru ngaji. Biasanya sesudah magrib, anak-anak berbondong-bondong ke rumah guru ngaji untuk belajar membaca Al-Quran.

Di dekat Kantor Kecamatan Kebon Jeruk, juga berdiri Gelanggang Olah Raga (GOR). Buat kegiatan olah raga dan aktivitas sosial lainnya. Di wilayah itu juga tersedia lapangan sepakbola. GOR dan lapangan sepakbola itu hingga kini masih ada dan masih dimanfaatkan masyarakat.

Kebon Jeruk di masa itu tidak memiliki area persawahan. Pada saat itu dimulai pembangunan kompleks, antara lain kompleks Kodam Jaya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Meski demikian, masih ada tanah-tanah lapang yang terkadang pada musim hujan akan digenangi air. Juga ada rawa-tadah hujan yang kering saat musim kemarau.

Di tanah-tanah lapang inilah masyarakat, khususnya anak-anak, suka bermain layangan. Selain itu, permainan yang biasa dimainkan adalah pancing, galah asin, gundu atau kelereng, takadal, dampu, petak umpet, taplak, dan gambaran. Mancing dan nyari ikan di empang dan kalenan juga kegiatan yang sering dilakukan.

Kini semua sudah berubah. Kebon Jeruk adalah bagian dari Jakarta yang bakal menjadi kota global. Perubahan tidak perlu mengubah jati diri warganya, antara lain dengan tetap menjaga nilai-nilai kebetawian.