Kabarbetawi.id, Jakarta – Tradisi Lebaran Betawi “keliling kampung” di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi salah satu warisan budaya yang terus hidup dan berkembang hingga kini. Tradisi ini bahkan disebut telah ada jauh sebelum generasi sekarang lahir dan tidak pernah terputus setiap tahunnya.
Hal tersebut disampaikan oleh H. Naman Setiawan (57), mantan Camat Kalideres dan Kebon Jeruk, yang pada Rabu (25/3/2026) menjadi tuan rumah kegiatan tersebut di kediamannya di Jalan Cemara, Duri Kosambi.

Menurutnya, tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para orang tua dan ulama, lalu terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga sekarang.
“Dari dulu sampai sekarang tidak pernah terputus. Setiap tahun selalu ada dan terus dilanjutkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awal mula penjadwalan dalam tradisi ini berangkat dari kebiasaan para ulama yang ingin saling berkunjung saat Lebaran.
Namun, karena belum adanya alat komunikasi pada masa itu, mereka kerap tidak bertemu, bahkan bisa berpapasan di jalan saat saling hendak berkunjung.
Dari situlah muncul kesepakatan untuk mengatur hari kunjungan antarkampung agar silaturahmi berjalan lebih efektif.

“Dulu kalau tidak dijadwalkan, kita datang, orangnya tidak ada, bahkan bisa berpapasan di jalan. Akhirnya dibuat kesepakatan hari-harinya. Biasanya hari pertama lebih untuk keluarga inti, termasuk ziarah ke makam orang tua,” kata dia.
Sejarah mencatat, tradisi ini pada awalnya hanya mencakup dua kampung, yakni Duri Kosambi dan Tanah Koja.
Seiring waktu, tokoh agama seperti KH Ahmad Zaini dan KH Abdul Mubin memperluas jangkauan silaturahmi hingga mencakup lebih banyak wilayah.
Kini, rute keliling kampung semakin panjang, meliputi Duri Kosambi, Tanah Koja, Selong, Kampung Gunung, Cantiga, hingga Gondrong. Di setiap titik, warga mengunjungi rumah ulama dan tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus mempererat hubungan sosial.

Salah satu warga, Abdul Gofur, S.H.I, menyebut tradisi ini terus berkembang, baik dari sisi durasi maupun jumlah kampung yang dikunjungi, hingga bisa berlangsung selama tujuh hari.
“Biasanya setelah hari kedelapan, warga baru bebas bepergian ke luar wilayah,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ustad Hazami. Ia menuturkan, pada masa lalu wilayah tersebut memang masih sangat terbatas.
Ulama yang sangat dikenal saat itu antara lain KH Muhammad Najihun, KH Ahmad Zaini, KH Arsyad, serta KH Asirun, yang merupakan ayah dari KH Mahfudz Asirun, pendiri pondok pesantren Al Itqon.
Menurut Hazami, perkembangan wilayah dan interaksi masyarakat membuat tradisi ini semakin meluas hingga menjangkau Kalideres, Cengkareng, Rawa Buaya, hingga Basmol.
“Khusus ke kampung Basmol biasanya hari Jumat, sekaligus ziarah ke makam KH Abdul Majid,” ujarnya.
Dalam praktiknya, tradisi ini bersifat terbuka. Siapa pun dapat ikut bergabung, tidak terbatas hanya warga Betawi.
Hal ini seiring dengan semakin kuatnya akulturasi, di mana masyarakat Betawi banyak yang menikah dengan berbagai suku lain.
Sebagai tuan rumah, kegiatan biasanya berlangsung dari pagi hingga malam hari, dengan menyajikan beragam hidangan, mulai dari makanan ringan hingga menu utama.

Keterlibatan keluarga juga menjadi kunci keberlangsungan tradisi ini, karena setiap generasi membawa anak-anak mereka untuk ikut serta dan saling mengenal.
“Semua keluarga saling mengenalkan kepada anak-anaknya. Itu yang membuat tradisi ini terus hidup,” kata H. Naman.
Kini, tradisi “keliling kampung” tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi telah menjelma sebagai simbol kuat kebersamaan, kekompakan, serta penghormatan masyarakat Betawi terhadap para ulama, khususnya di Duri Kosambi.
Tradisi ini pun diharapkan terus lestari dan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menjaga nilai silaturahmi lintas generasi.












