Kabarbetawi.id, Jakarta – Setiap menjelang Imlek sepanjang jalan kawasan Rawa Belong Jakarta Barat ramai pedagang musiman menjual bandeng berukuran jumbo. Praktik jual beli bandeng menjelang Imlek di Rawa Belong baru ada di tahun 1980-an. Sebab, beberapa literatur lama tidak ditemui aktivitas semacam itu di kawasan yang terkenal sebagai kampungnya Jagoan Betawi Si Pitung. Berbeda dengan kawasan Jalan Pancoran Glodok yang telah lebih dulu banyak pedagang bandengnya menjelang Imlek karena lokasinya memang berada di kawasan Pecinan.
Bagi orang Tionghoa setidaknya ada tiga jenis hidangan yang selalu ada untuk menyambut Imlek yaitu; ayam/bebek, babi, dan bandeng. Ketiga hewan itu biasa digunakan untuk keperluan persembahyangan (Sam Seng) yang merupakan simbol harmoni dari tiga unsur yang selalu ada dalam kehidupan manusia meliputi; udara yang direfresentasikan dari persembahan ayam, bebek (unggas), darat berupa babi, dan air berupa ikan.
Dalam tradisi Tionghoa di Betawi biasanya adalah bandeng. Entah kenapa hewan bersisik dan berduri halus yang nama Latinnya chanos chanos di Indonesia disebut bandeng. Dalam cocoklogi saya, apakah mungkin kata bandeng berasal dari bahasa Tionghoa dari kata “ban” dan “deng”. Tafsiran saya mengacu pada kesimpulan almarhum budayawan Indonesia Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado dalam bukunya; 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing. Remy menyebut, umumnya kata-kata bahasa Tionghoa yang masuk ke dalam bahasa Indonesia, ketika bahasa ini masih disebut Melayu, banyak berhubungan dengan bidang gastronomi (kuliner) dan ekonomi.
Analisa saya sederhana. Kata “ban” dalam bahasa Hokkian biasa untuk menyebut bilangan puluhan seperti ceban (sepuluh), noban (dua puluh) dan goban (lima puluh) dan kata “deng” dalam bahasa Hokkian artinya menunggu (jamak/plural). Jadi kalau diterjemahkan secara bebas kata bandeng adalah untuk menyebut harga ikan yang dalam kisaran harga puluhan dan aktivitas menunggu datangnya Imlek bersama keluarga. Dalam Buletin Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) No 48 Terbitan 2005 disebutkan, tiga-empat hari sebelum Imlek biasanya ada pasar malam di kawasan Glodok. Pasar malam ini ramai didatangi warga baik sekadar cuci mata, maupun belanja kebutuhan pokok menjelang Imlek termasuk bandeng. Bahkan, pembeli bandeng tidak hanya orang dewasa tapi juga ada anak-anak.
Bandeng memiliki kasta tinggi dalam pola konsumsi ikan di masyarakat. Dahulu di Betawi saat tidak semua orang mampu membeli daging, bandeng adalah pilihan utama untuk keperluan tradisi ngejot hajatan, arisan, dan tahlilan. Orang Betawi terkenal sebagai orang yang royal dalam membeli barang, termasuk membeli bandeng ukuran jumbo yang terbilang sangat mahal. Dalam konsep umum royal adalah hal yang wajar sebagai bentuk apresiasi diri karena telah bekerja keras (self reward). Apresiasi diri melakukan apa yang paling mampu dilakukan untuk kepuasan batin (self actualization needs) adalah puncak piramida kebutuhan dasar manusia sebagaimana konsep Abraham Maslow (1908-1970) dalam Theory of Human Motivation.
Namun, bagi orang Betawi sebagai penganut Islam yang taat apresiasi diri saja tidak cukup, melainkan ada tuntutan lain yakni berbagi sebagaimana konsep manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Melalui bandeng sebagai refresentasi dari simbol ikan mewakili unsur air, orang Betawi bersedekah untuk memperkuat silaturahmi dengan kerabat dan saudara terdekat. Soal harga tidak masalah. Apalah arti uang yang banyak jika makan saja harus mikir berkali lipat. Sebab, uang bisa dicari, sedangkan silaturahmi tidak bisa dibeli. (Penulis: H.Dunih Mutani)










