Lebak Bulus: Dari Daerah Rawa Jadi Kota Metropolitan

oleh: Murodi al-Batawi

 

Kabarbetawi.id, Jakarta – Jangan dibayangkan, suasana kampung Lebak Bulus di Jakarta Selatan, sekarang dengan situasi Lebak Bulus dulu.

Lebak Bulus dulu masih berupa rawa dan hutan karet dan kopi. Tidak seperti sekarang, yang sudah menjadi daerah suburban yang ditinggali para pendatang dari berbagai wikayah Nusantara dan dunia internasional.

Bahkan sudah terdapat perumahan Bona Indah dan apartemen Bona Indah, Lebak Lestari, Perumahan Kejaksaan, Badan Tenaga Atom Nasional, dan perumahan lain, serta perkantoran dan pertokoan yang terus menjamur.

 

Dataran Rendah Subur Jadi Kota Metropolis

Lebak Bulus, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, memiliki sejarah cukup panjang, jika dilihat dari periodesasi pertumbuhan dan perkembangannya hingga menjadi salah satu suburban di Jakarta.

Kata Lebak Bulus berasal dari dua kata, Lebak dan Bulus. Kata Lebak berasal dari bahasa Sunda, yang berarti dataran rendah atau lembah. Sedangkan, kata Bulus berarti binatang sejenis kura-kura berkulit lunak, yang biasanya tinggal di daerah rawa atau dataran berair sebagai habitat mereka. Jadi kata Lebak Bulus, berarti daerah rendah berawa yang banyak dihuni oleh binatang Bulus.

Karena daerah tersebut dikenal sebagai daerah subur untuk ditanami berbagai jenis tanaman, baik tanaman keras atau biasa; seperti pepohonan dan padi-padian. Tanaman keras yang banyak dijumpai di Lebak Bulus adalah pohon Sawo, pohon durian, pohon rambutan, pohon nangka, pohon jengkol, pohon petai, pohon kelapa dan lain sebagainya.

Sementara padi-padian; seperti tanaman padi, jagung, singkong, pohon pisang,ubi jalar dan sebagainya. Tumbuhan tersebut tumbuh subur, meski tanpa sering disirami, karena memang daerahnya sangat subur.

Dalam sejarahnya, Lebak Bulus, sejak 1675 tercatat sebagai kawasan agraris yang kini bertransformasi menjadi pusat transit, kuliner, dan bisnis, serta lokasi Depo MRT Jakarta, menggantikan Stadion Lebak Bulus.

Dok: jakartamrt.co.id

Dulu wilayah ini merupakan daerah rendah, berlumpur, dengan banyak rawa dan aliran Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan yang menjadi habitat kura-kura air tawar (bulus).

Berdasarkan data sejarah diperoleh informasi bahwa pada abad 17 hingga 20, daerah tersebut milik dua orang pribumi pada 1675 atas nama Made dan Chandra. Kemudian disita dan dikelola sebagai lahan pertanian subur (padi, kopi, karet, dan kelapa). Kemudian pada tahun 1900, wilayah ini dikenal dengan nama Simplicitas dan menjadi kawasan rumah peristirahatan (landhuis).

Di tengah kawasan ini, terdapat satu pasar, yaitu tempat menjual hasil pertanian dan peternakan. Pasar tersebut buka hanya pada hari Jumat. Dan sekarang Pasar Jumat sudah berubah fungsi tidak lagi jadi pasar penjualan hasil pertanian dan peternakan. Sudah jadi pasar biasa, tempat menjual barang dagangan dan tempat parkir angkot Pasar Jumat Cinere.

Lebak Bulus sekitar tahun 1970-an mengalami tranformasi menjadi perkotaan. Mulai tahun 1970-an, daerah yang sejuk ini berubah menjadi kawasan suburban, perumahan, dan terminal bus.

Jadi, Lebak Bulus yang sebenarnya sebagai daerah subur berawa dan banyak binatang bulusnya, adalah daerah yang berada di dekat Kali Grogol, yang kini dibuat RS Mayapada, dan RS Siloam, Jalan Kartni TB Simatupang serta perhotelan dan perumahan Bona Indah, serta apartemen Bona Indah yang posisinya lebih tinggi ketimbang RS Mayapada.

Waktu itu, Lebak Bulus hanya dibagi tiga bagian; Lebak Bulus Satu dan Dua, berada di depan RS Fatmawati dan Lebak Bulus Tiga berada berserangan dengan Jalan Dapur Susu, Cilandak Barat Jakarta Selatan. Sementara, Lebak Bulus yang jadi station MRT dulu merupakan hutan pohon karet.

Tempat tersebut masuk ke wilayah Kampung Kapuk, bersebelahan dengan Kampung Poncol dan Cireundeu, Tangerang Selatan. Sedangkan ada juga sebagian Kampung Gebrug, yang sekarang menjadi lokasi perumahan elite, Pondok Indah. Pondok Indah Mall, dan lapangan golf Pondok Indah.

.