Kabarbetawi.id, Jakarta – Di tengah kehidupan kota yang bergerak cepat dan bising oleh tuntutan, Masjid Al-Husna Admiralty Residence, Jakarta, pada Sabtu (31/1/2026) menghadirkan jeda. Jeda untuk hening, untuk berpikir, dan untuk kembali menengok ke dalam diri.
Melalui bedah buku Titik Balik Jiwa, Dr. Andian Parlindungan, M.Ag, mengajak jamaah menapaki kembali ruang batin yang kerap terabaikan.
Kegiatan itu tidak sekadar menjadi forum diskusi buku. Ia menjelma ruang perenungan kolektif tempat kegelisahan, pertanyaan, dan harapan spiritual dipertemukan.
Hadir jajaran pengurus yayasan, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), serta jamaah dari berbagai latar belakang, yang datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga untuk menyimak diri mereka sendiri.

Ketua Yayasan Al-Husna, Dr. Dody Abdul Kadir, dalam sambutan pembuka menegaskan kembali peran masjid di tengah masyarakat modern.
Menurutnya, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga ruang pembinaan intelektual dan spiritual, ruang di mana manusia belajar memahami dirinya sekaligus hubungannya dengan Tuhan.
“Literasi spiritual menjadi kebutuhan mendesak di tengah kehidupan yang sering kali menjauhkan manusia dari ketenangan batin,” ujarnya.
Pandangan itu sejalan dengan semangat yang dibawa Dr. Andian dalam bukunya. Titik Balik Jiwa lahir dari perenungan panjang, pengalaman akademik, serta perjumpaan langsung dengan realitas umat yang kerap berada dalam pusaran kegelisahan, kelelahan mental, dan krisis makna hidup.
Dalam pemaparannya, Andian menuturkan bahwa banyak persoalan manusia modern bukan semata persoalan materi, melainkan kegagalan mendengar suara batin sendiri. Buku ini, katanya, tidak menawarkan jalan pintas, melainkan ajakan untuk berhenti sejenak, melakukan muhasabah dan menata kembali orientasi hidup.
“Perubahan jiwa adalah proses. Ia lahir dari kesadaran, kejujuran terhadap diri sendiri, dan keberanian mendekat pada nilai-nilai ilahiah,” ujar Andian dengan nada tenang.
Sebagai pembanding, Dr. Ahmadi Rajali menilai Titik Balik Jiwa memiliki kekuatan pada kemampuannya menjembatani persoalan psikologis manusia dengan nilai-nilai spiritual secara proporsional. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan.

Buku tersebut, menurut Ahmadi, tidak terjebak pada romantisme spiritual, tetapi justru membumi dan aplikatif memberi ruang bagi pembaca untuk memahami kegelisahan mereka sebagai bagian dari perjalanan iman.
Diskusi berlangsung khidmat dan interaktif. Sejumlah jamaah menyampaikan pertanyaan, sebagian lain berbagi pengalaman personal tentang kegelisahan hidup, kehilangan makna, hingga proses menemukan kembali ketenangan batin.
Percakapan mengalir pelan, namun sarat makna.
Ketua DKM Masjid Al-Husna, Dr. Sudirman D. Hury, melihat bedah buku ini sebagai ikhtiar menghidupkan kembali tradisi keilmuan di lingkungan masjid. Tradisi yang tidak hanya mengasah nalar, tetapi juga menumbuhkan kedewasaan spiritual.
Bagi Andian, Titik Balik Jiwa bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi teman muhasabah bagi pembaca, teman yang menemani proses mencari, jatuh, bangkit, dan menemukan kembali arah hidup.
Melalui kegiatan ini, Masjid Al-Husna kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang ibadah sekaligus ruang literasi dan perenungan.
Di sanalah, di antara sunyi dan dialog, ikhtiar merawat jiwa terus disemai.(*/hel)











