Menggagas Bulan Mei Sebagai Bulan Ismail Marzuki

oleh: Chairil Gibran Ramadhan, Sastrawan Betawi

 

KabarBetawi.id, Jakarta – Ismail Marzuki, sang komponis pejuang asal tanah Betawi, pada 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat. Pada 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Bang Maing lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan meninggal pada 25 Mei 1958 di Kampung Tenabang. Atas
dasar itu, penulis (CGR), sastrawan dan budayawan Betawi selaku penulis skenario layar lebar (biopic/biography picture) tentang Ismail Marzuki sejak kelahiran hingga kematian, menggagas ditetapkan bulan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki.

Menurut CGR, Ismail Marzuki adalah komponis nasional satu-satunya yang berhasil mencatatkan dalam lagu setiap titik sejarah Revolusi Indonesia sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya: Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka. Lagu-lagu ini tidak hanya mampu menguatkan kecintaan pada Indonesia sebagai bentuk nasionalisme, namun juga membuat kita menitikkan air mata untuk negeri yang kini berantakan.

Sisi romantis Ismail Marzuki terlihat dalam lagu Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, Payung Fantasi, dan lain-lain. Adapun lagu karyanya yang mencatat dengan baik sejarah sosial terkait Islam di Betawi adalah Selamat Hari Lebaran, yang abadi hingga hari ini.

Untuk mendukung gagasannya, CGR akan mengajak Sinematek Indonesia, RRI, Perpusnas RI, Arsip Nasional RI, PKJ Taman Ismail Marzuki, UI, UNJ, UHAMKA, UNAS, akademisi, budayawan, seniman, sejarawan, dan tentu saja para sahabat dari kalangan pers. Sebabnya, Ismail Marzuki yang sudah menjadi tokoh nasional, maka gerakannya terlepas dari latar suku, agama, dan partai politik.

Demi menjaga gagasannya tidak dicuri dan diakui oleh pihak lain, seperti yang terjadi pada kasus uang kertas RI bernuansa Betawi pada nominal 2.000 dan 100 ribu (diberi istilah “Duit Betawi” oleh CGR), ia akan mendaftarkannya ke Ditjen HKI.

Majalah Rolling Stone Indonesia, pada 2008 menobatkan Ismail Marzuki sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menciptakan beberapa concerto berdasarkan lagu-lagu Ismail Marzuki berjudul “Concertpo Marzukiana” untuk solo piano, biol, dan harpa.

Komponis dan Pahlawan Nasional asal Betawi Ismail Marzuki.

Skenario Film Ismail Marzuki

Dalam kesempatan wawancara, CGR juga mengungkapkan fakta tragis yang ditemukannya pada masa akhir penulisan skenario film Ismail Marzuki.

Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki, mengatakan pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pihak PKJ TIM meminta barang-barang peninggalan Ismail Marzuki, yang ada di rumah Rachmi untuk dibawa ke Cikini. Dijanjikan untuk keperluan pendirian Museum Ismail Marzuki.

Namun, hingga 2017, saat skenario itu selesai dikerjakan dalam draft keenam, museum tersebut tidak pernah ada. Barang-barangnya, menurut Rachmi, hanya diletakkan sembarangan tanpa perawatan. Tahun itu juga, selain memberikan surat resmi atas hak penulisan skenario Ismail Marzuki kepada CGR, Rachmi secara lisan juga meminta CGR untuk mengurus berdirinya Museum Ismail Marzuki di TIM.

“Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri. Tolong bicarakan dengan Pak Anies, Bang.”

Namun jangankan membicarakan pendiriannya, untuk melihat barang-barang itu saja penulis tidak diperkenankan oleh pengelola PKJ TIM.

“Ini merupakan penghargaan tak terhingga kepada Pak Ismail Marzuki yang telah berkarya untuk negeri ini melalui lagu. Ketekunan Bang CGR melakukan riset-riset, membuat skenario ini punya kekuatan. Semoga film dan buku Ismail Marzuki: Nada. Cinta. Bangsa mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” ucap Rachmi pada Rabu, 5 Juli 2017, di rumahnya di Depok, Jawa Barat.

Nasib PPFN

Sayangnya, Perusahaan Produksi Film Negara/PPFN yang sudah menyatakan kesediaan untuk memproduksi, hingga 2026 ini belum juga bergerak, dengan alasan ketiadaan dana.

Enison Sinaro (sutradara dan pengajar senior di Institut Kesenian Jakarta) mengaku  pada 1995 ada rencana serupa yang melibatkan dirinya, Mira Lesmana (produser), Fariz RM (penata musik), dan Sekjar Ayu Asmara (penulis skenario). Namun hal itu tidak terlaksana, karena Sekar tidak menemukan bahan yang memadai untuk penulisan naskah.

Iwan Piliang dari PPFN mengakui naskah yang ditulis CGR merupakan naskah matang dan tinggal diproduksi. Dalam skenario tersebut, CGR menampilkan kehidupan sang komponis pejuang melingkupi kelahiran, perjalanan kehidupan asmara, penyiptaan lagu dan karir bermusik, nasionalisme sebagai seorang seniman, hingga kematiannya yang indah.  Dihiasi lagu-lagu karya Ismail, seakan Ismail tahu bahwa kisah hidupnya akan difilmkan dengan bertabur lagu-lagu tersebut.

Ismail Marzuki, seorang pemuda kaya dan berpendidikan. Ia menggemari musik sejak kecil, karena ayahnya merupakan kolektor piringan hitam. Ismail yang merasa tidak kerasan bekerja di kantor, kemudian memilih menjadi pemusik. Ayahnya, Marzuki, mendukung keputusan Ismail. Di masa-masa aktifnya sebagai pemusik, Ismail Marzuki melalangbuana,  memainkan musik tidak hanya di Batavia, namun juga kota-kota lain di Nusantara, bahkan hingga Singapura dan Malaysia.

Di Batavia, ia dipercaya menghibur para petinggi dan memiliki siaran di radio pemerintah. Namun, sebagai seorang bumi putra, Ismail Marzuki juga sangat tinggi nasionalismenya. Ia mengajak bergabung para musisi yang sepemikiran dengannya untuk membentuk radio swasta dan menyuarakan perjuangannya.

Kisah cintanya pada Euis, dan kecintaannya pada Indonesia, pada masa Kemerdekaan, membawa Ismail Marzuki bertentangan dengan Jepang hingga ia mengalami kekerasan fisik. Ia dan Euis kemudian kabur ke Bandung hingga ikut dalam pengungsian saat tejadi peristiwa Bandung Lautan Api.

Kematian ayahnya, menghasilkan lagu Gugur Bunga yang menyayat. Ismail Marzuki yang cerdas, membuat lagu setiap kali terjadi peristiwa terkait sejarah Kemerdekaan Indonesia. Ia juga menulis lagu-lagu percintaan pada awal kehidupan bermusiknya.

Sebagai seorang Muslim, di dalam hidupnya yang penuh warna, Ismail Marzuki meneriakkan kegembiraan saat di Hari Lebaran.

Perseteruan Ismail Marzuki dengan rekan musisi, tak dapat dihindari karena kelebihan yang dimilikinya. Terlebih karena penguasa Kolonial sangat menyayangi dan menghormati kemampuan Ismail Marzuki dalam bermusik.

Kisah hidup Ismail Marzuki berakhir dramatis menjelang Zuhur, di Kampung Bali, Tenabang, pada 25 Mei 1958.