Pelukis Betawi Yang Mendunia! Sarnadi Adam Raih Penghargaan Tokoh Betawi 2025

Kabarbetawi, Jakarta — Badan Musyawarah (Bamus) Suku Betawi 1982 menetapkan pelukis senior Sarnadi Adam sebagai penerima penghargaan Tokoh Betawi 2025 atas dedikasi dan kiprahnya yang konsisten dalam melestarikan budaya Betawi melalui seni lukis selama lebih dari empat dekade. Penghargaan ini diberikan berdasarkan pertimbangan Majelis Adat dan Pengurus Harian Bamus Suku Betawi 1982, sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kontribusi nyata bagi kebudayaan Betawi.

Prosesi penganugerahan dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 12 Desember 2025, pukul 18.30 WIB di Orchardz Hotel Industri, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ketua Umum Bamus Suku Betawi 1982, H. Zainuddin, MH., SE, bersama Sekretaris Jenderal Mohammad Ihsan, SH., MH, secara resmi mengundang Sarnadi Adam untuk menerima penghargaan sebagai “Pelukis Betawi”.

45 Tahun Berkarya: Penemu dan Pelopor Seni Lukis Betawi

Sarnadi Adam dikenal sebagai pelukis yang tidak hanya berkarier panjang, tetapi juga pelopor seni lukis Betawi, gaya seni yang ia ciptakan, kembangkan, dan sosialisasikan sejak 45 tahun lalu melalui berbagai pameran lokal, nasional, hingga mancanegara.

Lahir di Simprug, Kebayoran, Jakarta Selatan, 27 Agustus 1956, Sarnadi menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, lulus pada 1985, kemudian meraih gelar Master Seni Lukis dan melanjutkan program doktoral di institusi yang sama hingga selesai. Sejak 1986, ia juga mengabdikan diri sebagai dosen seni rupa di Universitas Jakarta.

Sarnadi Adam, dalam balutan busana adat Betawi (foto:istimewa)

Jejak Pameran Internasional

Sejak 1992 hingga 2002, Sarnadi telah menggelar pameran di berbagai negara, antara lain Belanda, Jerman, Prancis, Swedia, Belgia, Luksemburg, Amerika Serikat (New York, New Jersey, Boston), Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Korea Selatan, hingga Tiongkok.

Karya-karyanya dikoleksi oleh beragam lembaga penting, seperti Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya Jakarta, Museum Jakarta, Bank Indonesia, serta koleksi pribadi pejabat pemerintah mulai dari Wali Kota, Wakil Gubernur, Gubernur, Wakil Presiden, hingga Presiden RI. Penggemarnya pun tersebar luas di Eropa—terutama Belanda—dan Amerika Serikat.

Ratusan Pameran: Dari TIM hingga Galeri Nasional

Catatan pameran Sarnadi Adam mencakup:

Pameran tunggal sejak 1982 hingga 1999, termasuk di Leiden, New Jersey, Boston, Amsterdam, hingga New York.

Pameran berdua bersama sejumlah seniman, seperti Abas Alibasyah, Ivan Sagita, dan Oji Lirungan.

Pameran bertiga di Museum Sejarah Jakarta, Mitra Budaya, hingga Galeri Nasional

Pameran bersama di berbagai kota sejak 1975, termasuk Biennale Seni Lukis di Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional Indonesia, Museum Nasional, hingga pameran Nusantara di berbagai provinsi.

Lebih dari seratus event seni pernah menampilkan karya-karya Sarnadi sejak era 1970-an, menjadikannya salah satu seniman Betawi paling produktif.

Aktif di Dunia Seni dan Kebudayaan Jakarta

Pada 2009, Sarnadi Adam diangkat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta. Di tengah kesibukannya, ia tetap aktif menjadi juri berbagai lomba seni sejak 1990 hingga 2015, termasuk lomba lukis anak, mahasiswa, hingga festival budaya Betawi.

Ia juga menjadi juri Festival Delman Hias, mobil hias, dan pemilihan Abang None Jakarta dalam rangka HUT Kota Jakarta—menunjukkan keterlibatannya yang luas pada kegiatan kebudayaan Betawi.

Kontribusi yang Diakui dan Dihargai

Sebagai pelukis profesional, Sarnadi tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga secara aktif mengangkat eksistensi budaya Betawi melalui seni. Karyanya kerap dianggap representasi visual yang kuat tentang identitas, tradisi, dan kehidupan masyarakat Betawi.

Dengan perjalanan panjang tersebut, penghargaan dari Bamus Suku Betawi 1982 ini menjadi penegasan atas kiprah Sarnadi Adam sebagai tokoh sentral dalam perkembangan seni lukis Betawi.(hel).