Kabarbetawi.id, Jakarta — Bulan Ramadan selalu membawa kerinduan tersendiri akan aneka jajanan tradisional yang hanya muncul setahun sekali. Salah satunya adalah putu mayang, kue cantik berbentuk mie bergelung dengan warna putih, hijau, dan merah muda yang setia meramaikan meja takjil saat waktu berbuka puasa.
Bagi Mpok Dede, kehadiran Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinanti. Sudah tiga tahun terakhir, ia rutin berjualan putu mayang setiap bulan puasa. Kue tradisional ini menjadi sumber penghasilan sekaligus bagian dari tradisi yang terus ia jaga.
Putu mayang terbuat dari tepung beras, disajikan dengan kuah gula aren cair yang manis dan harum. Teksturnya lembut, rasanya ringan, sehingga kerap menjadi pilihan favorit masyarakat saat berbuka puasa.
“Kue ini umumnya hadir di bulan-bulan tertentu, khususnya bulan puasa. Putu mayang itu kue andalan Ramadan, sering buat antaran dan menu buka puasa,” ujar Yahya Andi Saputra, tokoh Budayawan Betawi, saat menjelaskan makna kuliner ini dalam tradisi Betawi.
Menurut Yahya, putu mayang dianggap cocok disantap saat berbuka karena tidak memberatkan perut setelah berpuasa seharian.
“Bahannya lembut dengan kuah gula aren. Secara tradisi, ini dianggap ‘aman’ untuk perut, mirip seperti kurma,” katanya.
Putu Mayang dan Jejak Budaya Betawi
Putu mayang merupakan salah satu jajanan tradisional Betawi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2025.
Penetapan ini menegaskan nilai historis dan kultural kue tersebut yang telah diwariskan lintas generasi.
Meski belum ada catatan pasti mengenai kapan putu mayang pertama kali muncul, Yahya meyakini kue ini memiliki kaitan erat dengan cerita rakyat Betawi, khususnya kisah Jampang Mayang Sari
“Dari sisi penamaan, kata mayang menggambarkan sesuatu yang bergelombang dan indah,” ujar Yahya.
Dalam cerita rakyat tersebut, Mayangsari digambarkan sebagai sosok perempuan cantik yang menjadi rebutan banyak lelaki, termasuk Si Jampang.
Makna kata mayang itulah yang diyakini tercermin dalam bentuk kue putu mayang, berombak, bergelung-gelung, dan menyerupai untaian mie yang indah.
Jejak Pengaruh Budaya Lintas Negeri
Menariknya, di India Selatan juga dikenal kue dengan bentuk serupa putu mayang.
Perbedaannya terletak pada ukuran, versi India cenderung lebih tipis dibanding putu mayang Betawi yang lebih tebal. Meski bentuknya mirip, hingga kini belum ada bukti kuat apakah keduanya saling memengaruhi.
Namun, menurut Yahya, kemungkinan pertukaran budaya sangat terbuka. “Batavia sejak dulu dikenal sebagai pusat pertemuan banyak budaya. Orang India, Tionghoa, dan etnis lain hidup berdampingan dan saling memengaruhi,” ujarnya.
Meski demikian, putu mayang telah lama menjadi identitas kuliner Betawi dan melekat kuat dalam tradisi masyarakat Jakarta.
Dari Putih Polos hingga Warna-Warni
Yahya juga menegaskan, putu mayang asli sejatinya hanya berwarna putih, sesuai warna alami beras sebagai bahan utamanya. Warna hijau dan merah muda yang kini sering ditemui merupakan hasil kreasi modern untuk menarik minat pembeli.
Di tengah gempuran makanan kekinian, kehadiran putu mayang setiap Ramadan menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional bukan sekadar makanan, melainkan cerita, identitas, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(MZ)









