Kabarbetawi.Id, Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) akan menggelar Konferensi Pers Ramadhan 2026 bertema “Ramadhan, Bahagia dengan Berzakat 1447 H” pada Senin, 16 Februari 2026, pukul 13.00–16.30 WIB, di Bangi Kopi Pasar Minggu, Jl. Raya Pasar Minggu No. 12 KM 18, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Momentum ini menjadi penanda dimulainya gerakan solidaritas nasional yang mengajak umat menjadikan zakat sebagai jalan kebahagiaan sekaligus solusi sosial.
Mengusung semangat “Bahagia dengan Berzakat”, BMH menegaskan bahwa kebahagiaan sejati seorang Muslim terletak pada kemampuan berbagi dan memberi manfaat nyata bagi sesama.
Tema ini menjadi arah gerak program Ramadhan nasional yang diinisiasi untuk memperluas dampak sosial zakat bagi umat, terutama di tengah situasi kebencanaan dan tantangan sosial yang masih dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
BMH menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan instrumen perubahan sosial yang mampu mengurangi kesenjangan dan menguatkan solidaritas umat.
Ramadhan adalah momentum spiritual sekaligus sosial. Melalui zakat, kita membersihkan harta dan jiwa, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi saudara-saudara kita yang terdampak krisis.
Capaian Ramadhan tahun sebelumnya menjadi pijakan optimisme. Pada Ramadhan 1446 H, program Sebar Da’i Ramadhan menugaskan 1.500 dai ke berbagai wilayah strategis.
Di sektor pendidikan, program Tebar Sejuta Al-Qur’an mendistribusikan 15.158 mushaf serta 30 paket Al-Qur’an Braille untuk penyandang disabilitas netra. Dalam layanan zakat, sebanyak 12.116 paket zakat fitrah dan 15.125 paket fidyah serta kafarat tersalurkan kepada mustahik.
Program buka puasa menghadirkan 273.539 paket berbuka di dalam negeri serta 1.040 paket untuk Palestina dan Suriah. Sementara itu, program Peduli Masjid menjangkau 168 masjid dan musholla dengan distribusi 12.116 set perlengkapan ibadah.
Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa zakat dan sedekah mampu menjangkau aspek dakwah, pendidikan, kemanusiaan, hingga penguatan infrastruktur ibadah secara simultan. Zakat tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi menjadi fondasi penguatan sosial yang berkelanjutan.
Memasuki awal tahun 2026, Indonesia menghadapi situasi kebencanaan yang serius. Dalam periode 1 Januari hingga 10 Februari 2026, tercatat 1.546.246 orang terdampak bencana alam, dengan 154 korban meninggal dunia. Di wilayah Sumatera, sebanyak 75.000 orang masih mengungsi, terutama di Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Gayo Lues.
Kerusakan hunian mencapai puluhan ribu unit rumah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selain itu, 4.546 fasilitas pendidikan turut terdampak.
Merespons kondisi tersebut, BMH menghadirkan program “Bahagia Berbagi untuk Penyintas Bencana” sebagai bagian dari gerakan Ramadhan 1447 H. Program ini tidak hanya menyasar penyintas bencana di Sumatera, tetapi juga korban konflik kemanusiaan di Palestina dan Sudan.
“Zakat harus hadir di titik-titik krisis. Kami memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi selama Ramadhan, sekaligus membangun kembali harapan mereka,” jelas Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi.
Program Ramadhan 1447 H dirancang untuk menghasilkan dampak berlapis. Dalam jangka pendek, bantuan zakat memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi dan meringankan beban ekonomi mereka selama bulan suci.
Dalam jangka panjang, program ini menargetkan penguatan modal sosial komunitas lokal agar masyarakat lebih tangguh menghadapi krisis.
Selain itu, zakat diharapkan meningkatkan disposable income mustahik dengan mengurangi beban pengeluaran dasar sehingga mereka dapat mengalokasikan dana untuk kebutuhan produktif.
Aspek psikologis juga menjadi perhatian. Bantuan zakat diharapkan memperbaiki kesehatan mental penyintas serta memperkuat solidaritas sosial antaranggota masyarakat.
Pada saat yang sama, pembangunan fasilitas ibadah dan program dakwah bertujuan meningkatkan kualitas spiritual umat secara berkelanjutan.
Melalui tema “Bahagia dengan Berzakat”, Ramadhan 1447 H diharapkan menjadi momentum kebangkitan solidaritas umat. Zakat tidak hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga instrumen keadilan sosial yang inklusif.
BMH mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai titik balik kepedulian. Dengan berzakat, umat tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga menanam dampak perubahan jangka panjang bagi komunitas yang rentan.
Ramadhan adalah bulan berbagi. Dan melalui zakat, kebahagiaan itu tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi menjalar menjadi harapan bagi banyak orang.










