Rawa Buaya, Banjir dan Cerita Buaya yang Melegenda

Kabarbetawi.id, Jakarta – Rawa Buaya adalah sebuah kampung tua di wilayah Kecamatan Cengkareng yang penuh dengan dinamika sejarah. Di zaman perang Kampung Rawa Buaya kawasan Pabrik Viktor pernah dibumihanguskan Belanda. Zaman kemerdekaan Belanda pergi datang Rampok Mat Item. Begitu pun zaman Reformasi Rawa Buaya menjadi saksi turunnya puluhan pasukan TNI dari atas helikopter untuk memukul mundur perusuh.

Waktu berputar dan Rawa Buaya berkembang pesat. Di masa lampau, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) Soekarno No 125 Tahun 1950 yang berlaku sejak tanggal 11 Maret 1950, Cengkareng termasuk di dalamnya Rawa Buaya adalah onderdistrik dari Distrik Tangerang. Baru pada tanggal 28 Desember 1974 Presiden Soeharto melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1974 memasukkan Desa Poris Gaga Bagian Timur, Desa Semanan, Desa Duri Kesambi, dan Desa Rawa Buaya yang berada di bawah Kecamatan Batu Ceper Kabupaten Tangerang menjadi wilayah DKI Jakarta.

Saya lahir dan besar di Rawabuaya dari ibu yang nenek moyangnya juga orang Rawa Buaya. Tinggal di Rawa Buaya membuat saya kenyang di bully sejak kecil. Paling sering, tentu saja bully-an tentang kampung yang langganan banjir hasil luapan Kali Mookervart dan Kali Angke. Kali Mookervart hilirnya berada di RW 02 Rawa Buaya, begitu pun Kali Angke melintasi pemukiman RW 12 Rawa Buaya. Kedua aliran kali itu bertemu di Jembatan Gantung menuju Kali Cengkareng Drain. Jadi sampai kapan pun rasanya sulit Rawa Buaya terbebas dari banjir.

Belum lagi yang mempertanyakan cerita buaya di masa lalu, yang dianggap hanyalah legenda semata mengingat air Kali Mookervart hitam pekat sehingga dianggap tidak mungkin buaya bisa bertahan hidup dan beranak pinak di kali sehitam air kopi tersebut. Kali Mookervart dulu berwarna agak kuning, namun sudah berlumpur. Saya ingat pernah tercebur di kali saat mau naik perahu eretan lantaran kegirangan pulang dari Pasar Cengkareng membeli baju Pramuka, saat itu saya kesulitan berenang karena kaki saya terbenam lumpur.

Dulu aktivitas warga Rawa Buaya ke Cengkareng mesti menyeberang menggunakan perahu eretan. Cengkareng sudah lumayan maju karena selain ada pasar, ada dua bioskop yang diberi nama Teater 1 dan Teater II. Di Cengkareng juga sudah ada SD negeri 01 Pagi dan 02 Petang. Untuk ke pusat kota memenuhi kebutuhan yang lebih besar seperti berobat ke rumah sakit dan bayar listrik, warga Rawabuaya tidak ke Jakarta melainkan ke Tangerang yang secara geografis dan sejarah lebih dekat.

Belakangan, selain perahu eretan warga juga mulai bisa menyeberang menggunakan jembatan beton yang baru hanya ada satu di lokasi yang sekarang disebut Jalan Guru Ma’mun. Selebihnya warga menggunakan eretan yang banyak dimiliki warga setempat di Kali Mookervart. Orang kampung menyebutnya Jembatan Baru. Sedangkan Jembatan yang dari arah Lampu Merah Cengkareng menuju arteri Ring Road Kembangan baru ada tahun 1990.

Di terowongan bawah jembatan itulah saya sering nyerok ikan sepat, pala timah, keting, hingga udang. Tak terpikir bahaya ular atau pun beling yang penting pulang bawa ikan dan dipelihara di wadah aki bekas truk. Sedangkan udang biasanya saya tukar dengan es teh kepada pemilik warung yang memiliki ikan arwana. Kadang saya dan kawan-kawan iseng memakannya lantaran percaya mitos makan udang mentah bisa jago berenang.

Meski masa kecil saya lebih banyak main di pinggir kali, saya belum pernah melihat buaya langsung di kali. Interaksi saya dengan buaya justru terjadi di pasar malam. Di tengah permainan komedi putar diiringi lantunan lagu Kabut November Meggy Z Ciptaan Muchtar B, saya menonton dan menyolek-nyolek buaya malang dengan batang lidi. Buaya itu hanya terdiam di dalam kotak kayu yang setiap lima menit disiram air pakai ember proyek agar suhu tubuhnya tetap stabil.

Padahal, hampir setiap kesempatan Ibu dan Bapak saya selalu cerita tentang pengalamannya di masa lalu dengan buaya dan itu nyata adanya. Bapak yang orang Semanan waktu kecil mengaku punya peliharaan buaya yang didapat Kakek saya waktu menjadi annemer (kontraktor) Pintu Air 10 Tangerang yang diresmikan tahun 1930. Tahun 1931 Bapak saya lahir dan sering diajak bapaknya ke pintu air. Di pintu air Kakek saya menolong dua anak buaya yang terjepit. Sayangnya satu buaya ekornya buntung terjepit. Kedua buaya itu dipelihara dan diberi nama Calang dan Caling. Namun, begitu besar tak ada lagi tempat yang bisa menampungnya membuat buaya itu akhirnya direlakan pergi ke Kali Mookervart. Begitu pun ibu saya yang asli orang Rawa Buaya mengaku kakeknya juga memiliki peliharaan buaya. Bagi orang Rawa Buaya saat itu memelihara hewan buas macam buaya bukanlah hal yang aneh seperti halnya pesohor Alsad Ahmad memelihara macan. Namun, hanya orang yang menguasai ilmu tertentu saja yang bisa melakoninya, karena orang zaman dulu biasanya menganut tarekat yang apabila wiridnya diamalkan tidak hanya bisa menaklukkan orang jahat melainkan hewan buas sekali pun.

Bahkan, dulu di Rawa Buaya ada seorang perempuan bernama Nenek Naim yang memiliki peliharaan buaya. Buaya yang makin lama makin besar itu pun akhirnya dilepas juga di Kali Mookervart. Untuk menandai itu buaya miliknya, menurut pengakuan keturunan keempatnya, Saipul buaya itu terpaksa dibuntungi ekornya. Buaya yang sudah jinak itu biasa dimintai tolong warga mencari warga yang hilang tercebur di kali melalui perantaraan Nenek Naim. Suatu waktu Nenek Naim hilang tak jelas rimbanya. Bahkan, kuburnya pun hingga kini tiada. Belasan tahun berlalu, suatu waktu seorang pemuda Bernama Nisan bin H Musa bertemu gerombolan rampok pimpinan Mat Item. Nisan yang berjalan sendirian dan kepepet tak ada pilihan lain selain lari dan menyeburkan diri di Kali Mookervart. Seminggu lebih Nisan hilang tak berjejak meski dicari orang sekampung. Hidup atau mati tidak ada yang tahu.

Namun, tiba-tiba Nisan muncul di hadapan warga dan mengaku saat dia menceburkan diri di kali dia mengaku di dalam air bertemu seorang nenek di “kerajaan buaya” di Kali Mookervart. Nenek Naim yang lama menghilang itu mengaku Ibu dari bapaknya yang hidup sebelum Nisan lahir. Di dalam air Nisan mengaku dilayani kebutuhan makan dan minumnya hingga dirasa aman dia baru dikembalikan ke darat, begitu pengakuan keponakannya Saipul. Cerita itu, hingga kini masih melekat di kalangan masyarakat asli Rawa Buaya. Meski banyak juga yang menganggap itu hanya mitos belaka. Wallahua’lam.

Namun, yang pasti dari kondisi kontur tanah di Rawa Buaya yang berair membuat Rawa Buaya punya komoditas andalan yaitu rumput dan padi. Bahkan, dalam sebuah koran berbahasa Belanda terbitan Batavia seorang pengepul bernama Tan Liok Tiauw siap menampung panen rumput dan padi dari Rawa Buaya.

Sejauh mata memandang sawah terhampar luas di Rawa Buaya, meski saat saya kecil sawah mulai banyak menghilang berganti dengan kebun dan alang-alang. Topographischekaart der Residentie Batavia Opgenomen 1866 tak mencantumkan adanya landhuis, di atas peta tanah partikelir Rawa Buaya. Belakangan dua peta digital digitalcollections.universiteitleiden.nl dan Topographisch Bureau Batavia 1902 mencantumkan landhuis dan woonhuis di atas tanah partikelir Rawa Buaya. Namun, tidak ada teks sejarah yang menyebutkan pernah berdiri sebuah rumah pedesaan yang dihuni tuan tanah Rawa Buaya.

Andries Teisseire sama sekali tak menyingung Landhuis Rawa Buaya dalam catatan perjalanan yang diterbitkan di penghujung abad ke-18. Johannes Hageman, dalam Geschied- en aardrijkskundig overzigt van Java, juga tidak memasukan Land Rawa Buaya ke dalam daftar tanah-tanah partikelir di Batavia en Ommelanden. Artinya, tanah partikelir Rawa Buaya terbentuk pada dekade pertama dan kedua abad ke-19.

Satu-satunya teks yang mengidentifikasi adanya rumah pedesaan di Land Rawa Buaya adalah iklan pengumuman sita eksekusi di Javasche courant edisi 1 Oktober 1829. Jangan bayangkan landhuis atau woonhuis di Rawa Buaya saat itu berupa bangunan batu megah dengan arsiektur Eropa. Iklan itu menyebut bamboes woonhuis, atau rumah kediaman terbuat dari bambu, dengan kandang kerbau, yang keduanya ditutup atap rumbia.

Satu iklan lainnya, terdapat di Javasche courant edisi 14 Agustus 1833 mengindikasikan adanya rumah batu di Rawa Buaya. Disebutkan dalam iklan itu; perkebunan Rawa Beoaija beserta inventarisnya. Serta kereta tandu, dengan sekelompok kuda dan perlengkapannya, dan satu keluarga budak terdiri dari lima orang dewasa dan dua anak-anak. Kereta tandu dan sekelompok kuda mensyaratkan adanya bangunan batu sedemikian besar.

Pertanyannya, siapa pendiri woonhuis Rawa Buaya? Jika mengacu pada iklan sita eksekusi di Javasche courant edisi 1 Oktober 1829, kemungkinannya adalah Lim Seng dan Lim Tio — duet landheer Tionghoa yang diduga pemilik pertama tanah partikelir di tepi Sungai Angke itu. Keduanya bersengketa dan diselesaikan lewat keputusan Landraad Tangerang.

Dalam peta yang dirilis Topographisch Bureau Batavia 1902 terlihat woonhuis dan landhuis Rawa Buaya berdampingan, dipisahkan seutas jalan yang kini bernama Jl Rawa Buaya. Kedua bangunan berdiri di bantaran Kali Mookervaart. Akses ke bagian land Rawa Buaya di seberang Kali Mookervaar adalah perahu milik tuan tanah. Ini terlihat dalam iklan di Bataviaasch handelsblad 6 November 1861, yang menyebut grass praauwen sebagai properti tuan tanah yang disertakan dalam penjualan.

Era pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto dengan slogannya Bersih Manusiawi dan Berwibawa (BMW), bangunan di bantaran Kali Mookervart perlahan mulai digusur. Bantaran kali yang tiap pekan tempat saya menebang bambu untuk dibuat mainan mulai diratakan kembali di zaman Gubernur Sutiyoso. Termasuk tanah kelahiran saya yang kini berubah menjadi Rusunawa dan masjid. Di depannya membentang Tol Rawa Buaya yang dulunya terdapat makam warga. Pembangunan telah mengubah wajah Rawa Buaya sedemikian rupa, tetapi kisah Rawa Buaya berjibaku dengan banjir tak juga mereda. (penulis: H.Dunih Mutani)