Kabarbetawi.id, Jakarta – Saya lahir dan besar di kawasan ini. Sebagai anak Betawi asli, ingatan tentang Rawa Bunder bukan sekadar cerita yang saya dengar, melainkan lanskap hidup yang saya jalani sejak kecil. Jauh sebelum deretan kios bunga berdiri rapi seperti sekarang, masyarakat Betawi setempat menyebut kawasan sentra pasar bunga Rawa Belong di Jalan Sulaiman, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dengan satu nama sederhana yakni Rawa Bunder.
Nama itu bukan karangan, bukan pula hasil pemikiran akademis. Ia lahir langsung dari rupa alamnya. Sebuah rawa berbentuk bulat, bunder seperti mangkuk besar yang menadah air hujan. Di musim penghujan, airnya meluap perlahan dan tenang. Di atas permukaannya tumbuh eceng gondok, teratai liar, dan pohon duri garut yang rimbun. Suasananya sejuk dan teduh, semakin hidup dengan kehadiran burung ayam-ayaman atau oleh orang Betawi biasa disebut burung blekok menjadi bagian ekosistem di Rawa Bunder ini.
Di permukaan air rawa juga tumbuh daun kapu-kapu atau kiambang. Pada masa itu, tanaman ini bukan sekadar bagian dari ekosistem rawa, melainkan dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai hiasan pelaminan dalam acara pernikahan. Dekorasi pelaminan saat itu sepenuhnya masih menggunakan bahan atau pohon alami. Daun kapu-kapu biasanya disusun membentuk gundukan kecil di sekitar pelaminan, menghadirkan kesan adem, asri, dan menyatu dengan alam, biasanya usai acara pernikahan, pelaminan di bongkar, daun kapu-kapu tersebut kembali dikumpulkan untuk di jadikan pupuk tanaman hias. Kini daun kapu-kapu masih bisa kita temukan, meski tak lagi sebanyak dulu, dan fungsinya pun bergeser menjadi tanaman hias kolam ikan atau akuarium.
Gang Limo, Gang Arab, dan Gang Pengulu
Sekitar tahun 1970–1980-an, Jalan Sulaiman belum dikenal dengan penamaan administratif seperti sekarang yang menggunakan nama-nama nabi. Masyarakat kampung lebih akrab menyebutnya dengan Gang Limo. Asal-usul nama ini tak pernah benar-benar tercatat, namun menurut cerita orang-orang tua, dahulu di kawasan tersebut banyak tumbuh pohon jeruk limau atau limo. Orang Betawi memang terbiasa menamai tempat berdasarkan ciri alam atau penanda paling menonjol.
Di sebelah Gang Limo terdapat jalan yang kini bernama Jalan Yusuf. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Gang Arab, karena banyak dihuni warga keturunan Arab yang telah lama menetap dan berbaur sebagai bagian dari masyarakat Betawi. Saya sendiri lahir dan tumbuh di lingkungan ini, tepatnya di samping Mushola Baitul Karim.
Tak jauh dari sana terdapat Jalan Adam, yang dahulu disebut Gang Pengulu, merujuk pada tempat tinggal seorang penghulu nikah yang disegani, Kiai Haji Hasyim (alm.). Dalam keseharian, lidah orang Betawi menyederhanakan sebutan penghulu menjadi “pengulu”.
Pada masa itu, seluruh kawasan ini masuk dalam wilayah Kelurahan Sukabumi Ilir, kini berubah menjadi Kelurahan Sukabumi Utara, dengan luas sekitar 157,09 hektar, dipimpin oleh seorang lurah pada saat itu yang bernama H.Aluan H.Mahbub.
Mayoritas penduduk di kelurahan ini adalah orang Betawi, dengan mata pencaharian utamanya sebagai petani atau penjual kembang dan tanaman hias, meski demikian banyak orang Betawi yang sukses menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dari hasil menjual tanaman hias dan bunga. Salah satunya Dr. Ir. Satiri Muhammad Zen, MBA yang wafat pada tanggal 25 Juni 2021, akibat vandemi covid 19, alumni ITB ini menjadi salah satu contoh anak Betawi yang sukses di bidang pendidikan meskipun orang tuanya hanya seorang penjual bunga, bahkan adiknya kini mengikuti jejak sang kakak, yang bernama Dr. Eng. Ismail, ahli nuklir lulusan ITB yang kini sedang bekerja di salah satu perusahaan Jepang.
Rawa yang Memutus Jalan
Ketika Rawa Bunder masih utuh sebagai rawa alami, Gang Limo belum tembus seperti sekarang. Jalur jalan terputus karena rawa membentang di tengah wilayah, kira-kira dari lokasi minimarket Alfamart saat ini hingga ke arah kawasan kuliner kue pancong.
Wilayah itu tak bisa dilalui karena memang berupa rawa. Namun justru dari ruang alam yang dulu dianggap penghalang inilah, kelak tumbuh kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, setelah Rawa Bunder bertransformasi menjadi pusat perniagaan bunga.
Awal Perniagaan Bunga Orang Betawi
Sebelum pasar bunga terbentuk seperti sekarang, pusat perniagaan masyarakat Betawi di kawasan ini adalah tanaman hias dan hasil kebun. Bunga anggrek, mawar, melati, sayur-mayur, hingga buah-buahan diperdagangkan dan terpusat di pertigaan lampu merah Rawa Belong hingga arah Palmerah.
Aktivitas jual beli dimulai sejak pukul tiga dini hari. Biasanya warga dari Meruya, Kebon Jeruk, Srengseng, Kebon Nanas, Kebayoran Lama, dan Kemanggisan datang berkelompok, sebagian besar berjalan kaki sambil memikul bakul dagangannya, sambil diselingi obrolan mereka disepanjang jalan memecah keheningan subuh. Sementara pedagang dari daerah Jawa Barat, seperti Puncak, Bogor, dan Sukabumi, datang menggunakan mobil pikap.
Salah satu tokoh masyarakat setempat, H. Aminuddin Mansyur, yang akrab disapa Bang H.Udin, rumahnya berada di pertigaan lampu merah Rawa Belong, mengenang suasana itu.
“Mereka jual hasil kebon, terutama bunga hias. Ada juga sayuran, buah-buahan, bahkan ayam kampung. Pasar udah rame padahal matahari belum nongol. “Halaman depan rumah saya udah penuh para pedagang,” kenang Bang H.Udin.
Dari Rawa ke Pasar Resmi
Seiring waktu, kawasan ini semakin hidup. Jumlah pedagang bertambah, pembeli makin banyak, dan arus kendaraan mulai tersendat. Pemerintah kemudian melakukan penataan. Rawa Bunder dikeringkan dan diurug, jalan dibuka, dan pasar dibentuk.
Puncak perubahan terjadi pada 25 Juli 1989, saat Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto meresmikan kawasan ini dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa Belong. Sejak itu, nama Rawa Bunder perlahan menghilang dari penamaan resmi, meski tetap hidup dalam ingatan warga lamanya.
Pasar Bunga Terbesar se Asia Tenggara
Kini, Pasar Bunga Rawa Belong dikenal sebagai pasar bunga terbesar di Asia Tenggara, dengan luas sekitar 1,3 hektar dan lebih dari 600 pedagang. Pasar terbagi dalam tiga blok:
•Blok A dan B untuk bunga segar.
•Blok C untuk tanaman hias.
Beragam bunga lokal hingga impor diperdagangkan di sini dari mawar, aster, krisan, hingga tulip dan anggrek.
Jejak Jagoan dan Kuliner Betawi
Rawa Belong juga dikenal sebagai wilayah para jagoan Betawi, termasuk kisah legenda Si Pitung. Jejak budaya ini masih dilestarikan oleh pegiat seni Betawi seperti H.Bahtiar melalui Sanggar Seni Budaya Si Pitung di Jalan Yusuf. Sementara itu, kuliner Betawi seperti nasi uduk dan asinan masih bisa dijumpai di sekitar pertigaan Rawa Belong, terutama menjelang sore hingga malam hari.
Becak dan Zaman BMW
Pada masa awal, becak menjadi moda transportasi utama. Banyak becak mangkal di jalan utama, mengangkut warga keluar-masuk kawasan ini. Namun pada era Gubernur Wiyogo, melalui program BMW (Bersih, Manusiawi, Berwibawa), becak dihapuskan dari Jakarta. Bersamaan dengan itu, hilang pula mata pencaharian para tukang becak dan juragan becak, banyak orang Betawi yang pada waktu itu menjadi juragan becak, rata-rata memiliki hampir puluhan becak yang di sewakan kepada para penarik becak saat itu, namun ada juga yang beralih fungsi, becaknya dijadikan gerobak pengangkut bunga di pasar.
Kenangan yang Tak Pernah Surut
Bagi kami, orang Betawi lama, Rawa Bunder tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam cerita, ingatan, dan obrolan sore sambil menyeruput kopi, dari sebuah rawa yang pada masa itu dimiliki oleh beberapa warga Betawi sekitar, mereka rela mengorbankan itu semua demi pembangunan Jakarta yang terus bertransformasi dalam pembangunannya.
Saya masih ingat ketika air rawa surut dan tanahnya mengering serta retak. Di sanalah kami bermain sepak bola, mencari jangkrik dibalik tanah yang retak, dan menerbangkan layangan. Bahkan ada klub sepak bola kampung yang di beri nama “Rabun” singkatan dari Rawa Bunder. Kemudian pada sisi barat, ada bagian rawa yang airnya tak pernah kering, tempat kami berenang atau “ngobak” istilah anak -anak pada waktu itu, meski diselimuti cerita mistis tentang lumpur hidup dan penunggu rawa di sekitar itu, bahkan orang tua kami sangat melarang untuk bermain di sekitar air rawa yang tidak pernah surut itu. Namun saat musim hujan tiba, rawa kembali banjir, warga sekitar, khususnya anak-anak seperti saya biasanya memancing ikan betok, betik, dan gabus kocolan yang banyak hidup di Rawa Bunder.
Warisan untuk Generasi Penerus
Hari ini Jakarta terus bertransformasi. Gedung menjulang, jalan padat, dan wajah kota berubah. Namun ingatan tentang Rawa Bunder mengajarkan bahwa kota ini tumbuh dari alam, dari kampung, dan dari budaya warganya.
Sebagai orang Betawi, penduduk asli Jakarta, kita memikul tanggung jawab untuk menjaga dan mewariskan cerita ini. Agar generasi penerus mengenal asal-usulnya, mencintai budayanya, dan memahami bahwa di balik setiap bunga yang dijual di Rawa Belong, tersimpan sejarah panjang tentang alam, manusia, dan jati diri Betawi yang tak boleh hilang oleh zaman. ( Penulis:Helmi)












