oleh: Davi Kemayoran, pegiat budaya Betawi
KabarBetawi.id, Jakarta – Lebaran di tanah Betawi selalu punya rasa khas. Bukan sekadar soal usai puasa, melainkan tentang bagaimana Jakarta yang biasanya bising mendadak hening, digantikan suara takbir yang berkumandang dan aroma semur dan ketupat yang mengepul dari dapur-dapur rumah.
Namun, seiring berputarnya waktu dan bergantinya generasi, wajah Lebaran di Betawi pun mengalami transformasi. Ada romantisme masa lalu yang perlahan pudar, digantikan kepraktisan masa kini, terutama masuknya pengaruh Gen Z .
Berikut potret perbandingan tradisi Lebaran di Betawi dulu, sekarang, dan bagaimana Gen Z menulis babaknya sendiri.
1. Tradisi Dulu: Sakral, Komunal, dan “Kampung Dalam Kota”
Bagi orang Betawi generasi baby boomers hingga milenial awal, Lebaran adalah ritual fisik yang tidak bisa ditawar. Mudik Lokal yang Wajib: Dulu, “mudik” bagi orang Betawi tidak harus jauh ke luar pulau. Cukup menuju ke pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang, atau Bogor. Rumah nenek di kampung adalah pusat gravitasi. Pulang kampung adalah harga mati.
Tradisi nyekar (ziarah kubur) dilakukan secara rombongan besar. Satu keluarga besar berangkat bersama-sama ke Tempat Pemakaman Umum (TPU), setelah salat Id. Kuburan dibersihkan, ditabur bunga, dan dibacakan tahlil bersama. Ini momen penghormatan yang sakral, bukan sekadar foto untuk media sosial.
Silaturahim door-to-door, tamu tidak datang sekali, tapi bergelombang. Tetangga datang ke rumah, lalu kita membalas ke rumah tetangga. Pintu rumah terbuka lebar. Siapa saja yang lewat, disinggahi untuk makan.
Kuliner Rumahan: menu Lebaran Betawi klasik seperti ketupat sayur, gabus pucung, semur daging, dan kue keranjang dimasak sendiri oleh ibu-ibu di rumah selama berhari-hari sebelum Lebaran. Aroma sambal goreng hati dan emping melengket di memori.
Angpao fisik: Uang THR dibungkus amplop merah atau hijau, diserahkan langsung dengan salim (cium tangan) kepada yang lebih tua, atau diberikan ke anak kecil dengan pesan moral.
2. Tradisi Sekarang: Praktis, Digital, dan Terfragmentasi
Memasuki era modern, urbanisasi dan kesibukan mengubah pola ini. Lebaran tetap dirayakan, namun dengan cara lebih efisien.
Jakarta Sunyi vs Macet Total: Fenomena “Jakarta Sunyi” saat Lebaran justru menjadi tren baru. Banyak warga asli Betawi yang justru memilih tinggal di Jakarta, karena jalanan sepi, sementara penduduk lain pulang kampung. Atau sebaliknya, arus mudik yang begitu padat membuat orang memilih staycation.
Catering dan Restoran: Memasak masakan Betawi yang rumit, seperti gabus pucung membutuhkan waktu lama. Kini, banyak keluarga memesan katering atau membeli makanan jadi di pasar. Silaturahim pun sering dialihkan ke restoran atau coffee shop daripada ke rumah.
Halal Bihalal Digital: Silaturahim tidak lagi harus bertemu muka. Grup WhatsApp keluarga menjadi ajang “Halal Bihalal”. Ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin” dikirimkan lewat broadcast message atau stiker.

3. Gen Z Betawi: Ketika Tradisi Bertemu Tren
Inilah bagianpaling menarik. Gen Z (mereka yang lahir antara 1997-2012) membawa angin segar, yang kadang membuat generasi tua geleng-geleng kepala, namun tak bisa dipungkiri sebagai bentuk adaptasi zaman.
A. “Lebaran Mubazir” dan OOTD
Bagi Gen Z, Lebaran adalah fashion show. Istilah “Lebaran Mubazir” (beli baju baru hanya untuk dipakai sekali saat Lebaran) sangat kental.
Dulu: Baju baru dipakai untuk salat Id dan berkunjung, yang penting sopan dan menutup aurat.
Gen Z: Baju harus estetis, senada dengan keluarga (family look), dan wajib di-upload ke Instagram Story atau TikTok. Nilai tradisi ada, tapi nilai estetika konten lebih dominan.
B. Angpao QRIS dan Transfer
Ini adalah perubahan paling drastis.
Dulu: Ada sensasi fisik menerima amplop, merasakan tekstur uang kertas baru.
Gen Z: “Kak, transfer aja ke GoPay/Dana, biar gampang.” Atau bahkan menyodorkan kode QRIS saat disalami. Efisiensi waktu lebih dihargai daripada ritual fisik pemberian uang. Bagi Gen Z, nominal yang masuk ke e-wallet lebih nyata daripada amplop yang mungkin belum dibuka.
C. Ziarah Kubur sebagai Konten
Dulu: Ziarah kubur adalah momen hening, doa, dan tangis rindu.
Gen Z: Tetap ziarah, tapi dokumentasinya berbeda. Ada yang membuat video sinematik tentang mendiang kakek/nenek di TikTok sebagai bentuk tribute. Ada juga yang sekadar check-in lokasi makam. Batas antara sakral dan publikasi menjadi tipis.
D. Bahasa dan Sapaan
Dulu: “Monggoh atuh, mangga dicicipin,” atau “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.”
Gen Z: “Happy Eid Mubarak, Bestie!”, “Met Lebaran, sorry kalau ada salah kata ya!”, dicampur dengan logat Betawi yang dikemas lebih playful.
E. Pengalaman di Atas Ritual
Gen Z lebih menghargai experience. Daripada berkunjung ke 20 rumah saudara yang mungkin hanya sebentar duduk, mereka lebih memilih mengumpulkan sepupu-sepupu sebaya untuk gathering di satu tempat, menyewa villa, atau nongkrong di tempat hits. Silaturahmi tetap jalan, tapi filtrasi dilakukan hanya untuk lingkaran yang lebih nyaman (circle).
Penutup: Esensi yang Tak Boleh Pudar
Perubahan tradisi Lebaran Betawi dari masa ke masa adalah hal wajar. Budaya itu hidup, bernapas mengikuti zamannya. Gen Z tidak serta merta menghilangkan tradisi, menerjemahkannya kembali dalam bahasa mereka.
Namun, ada satu hal dari warisan Betawi yang tidak boleh tergerus oleh QRIS maupun tren TikTok: Rasa Hormat dan Silaturahim.
Mau angpao lewat transfer atau amplop, mau makan ketupat buatan ibu atau katering, mau ziarah kubur hening atau didokumentasikan, intinya tetap sama: kembali fitri dan menyambung tali kasih. Selama hati masih ingin bertemu, masih ingin meminta maaf, dan masih menghormati yang lebih tua, maka roh Lebaran Betawi itu masih tetap hidup, meski bungkusnya telah berubah warna.












