Kabarbetawi.id, Jakarta — Kampung tua di Jakarta bukan sekadar kawasan permukiman tempat masyarakat Betawi tinggal dan berinteraksi. Di dalamnya tersimpan kearifan lokal yang membentuk identitas budaya, tata ruang lingkungan, kekayaan hayati, hingga sistem solidaritas sosial yang telah tumbuh jauh sebelum Jakarta berkembang menjadi kota metropolitan.
Hal tersebut menjadi catatan tokoh muda Betawi, Abdul Azis Khafia, dalam focus group discussion (FGD) bersama Bamus Betawi 1982 di Brits Hotel Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (11/10/2026).
Dalam forum tersebut, Azis menekankan bahwa kampung tua Betawi memiliki nilai penting yang perlu digali, didokumentasikan, dan dihidupkan kembali. Menurut dia, kearifan kampung tidak semestinya hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan Jakarta ke depan.

Setidaknya ada empat aspek kearifan kampung tua Betawi yang disoroti Azis, yakni ruang kebudayaan, arsitektur ruang hijau dan biru, kekayaan flora dan fauna khas, serta jaring pengaman sosial.
Kampung sebagai Ruang Tumbuh Kebudayaan
Aspek pertama adalah kampung sebagai ruang kebudayaan. Bagi masyarakat Betawi, kampung bukan hanya tempat bermukim, melainkan ruang tempat tradisi, adat istiadat, kesenian, dan kebiasaan hidup diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kebudayaan Betawi tumbuh melalui kehidupan sehari-hari masyarakat di kampung. Interaksi antarwarga, tradisi keluarga, kegiatan keagamaan, hingga perayaan adat menjadi bagian dari proses yang menjaga kebudayaan tetap hidup.
Karena itu, menurut Azis, pelestarian budaya Betawi tidak cukup dilakukan melalui penyelenggaraan festival atau pertunjukan seni semata. Ruang hidup masyarakat yang menjadi tempat tumbuhnya tradisi juga perlu dipertahankan.
Kampung tua, dalam konteks ini, merupakan bagian penting dari ekosistem kebudayaan Betawi. Ketika ruang hidupnya hilang, tradisi yang selama ini tumbuh secara alami di tengah masyarakat berisiko kehilangan tempat untuk diwariskan.
Lebih dari Sekadar Ornamen Gigi Balang
Aspek kedua yang disoroti Azis adalah arsitektur ruang kampung Betawi, terutama keterkaitannya dengan ruang hijau dan biru.
Menurut dia, kampung Betawi memiliki pola permukiman yang mencerminkan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan. Rumah-rumah dengan halaman luas, pepohonan di sekitar hunian, serta keberadaan sawah, rawa, dan saluran air merupakan bagian dari tata ruang yang saling berkaitan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa ruang permukiman tidak dibangun semata-mata untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Ada pula pertimbangan mengenai hubungan antara bangunan, vegetasi, dan aliran air.

Masyarakat yang hidup di kawasan sungai dan muara, lanjut Azis, memiliki pengalaman turun-temurun dalam memahami karakter lingkungan tempat mereka tinggal. Pengetahuan lokal tersebut menjadi salah satu aspek yang patut dikaji dalam upaya membangun kota yang lebih selaras dengan kondisi alam.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa mengadopsi arsitektur Betawi dalam pembangunan Jakarta tidak seharusnya berhenti pada pemasangan ornamen khas, seperti gigi balang, di halte atau bangunan publik.
“Arsitektur ruang kampung Betawi bukan sekadar ornamen. Ada pola permukiman, halaman, pepohonan, serta pengaturan ruang air yang menjadi satu kesatuan,” demikian pokok pemikiran Azis dalam catatannya.
Menurut dia, apabila pemerintah ingin mengembangkan model penataan ruang yang terinspirasi dari kampung Betawi, diperlukan ruang yang memadai untuk menghadirkan lingkungan hijau, mempertahankan fungsi air, dan menjaga keseimbangan antara permukiman dengan alam.
Dengan demikian, kearifan arsitektur kampung Betawi dapat dipelajari sebagai salah satu sumber gagasan dalam merancang lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Flora dan Fauna Khas yang Perlu Dijaga
Aspek ketiga adalah kekayaan flora dan fauna yang menjadi bagian dari sejarah ekologis Betawi dan kawasan Jakarta sekitarnya.
Azis menilai, identitas kampung Betawi tidak hanya dibentuk oleh tradisi dan pola permukimannya, tetapi juga oleh tanaman serta satwa yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat.
Sejumlah tanaman yang lekat dengan sejarah kawasan Betawi antara lain rambutan rapiah, salak Condet, duku Condet, dan melati tongkeng. Sementara itu, elang bondol dikenal sebagai salah satu satwa yang memiliki keterkaitan kuat dengan identitas Jakarta.

Kekayaan hayati tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari warisan lingkungan yang keberadaannya berkaitan dengan perubahan tata guna lahan dan perkembangan kawasan perkotaan.
Upaya pelestarian, menurut pemikiran Azis, perlu diarahkan bukan hanya pada pengenalan nama tanaman atau satwa khas, melainkan juga pada perlindungan habitat dan ruang tumbuhnya.
Dengan begitu, pelestarian budaya Betawi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan. Identitas sebuah kampung tidak hanya tercermin dari bangunan dan tradisinya, tetapi juga dari vegetasi serta kehidupan alam yang menyertainya.
Jaring Pengaman Sosial di Tengah Kota
Aspek keempat yang tidak kalah penting adalah fungsi kampung sebagai jaring pengaman sosial.
Dalam catatannya, Azis menggambarkan bagaimana masyarakat Betawi secara historis memiliki tradisi keterbukaan terhadap pendatang dari berbagai daerah Nusantara yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan membangun kehidupan.
Salah satu bentuknya terlihat dari keberadaan rumah kontrakan yang menyediakan pilihan tempat tinggal bagi pendatang, termasuk mereka yang belum memiliki rumah sendiri di ibu kota.
Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, keberadaan hunian tersebut juga menggambarkan hubungan sosial antara masyarakat setempat dan pendatang. Kampung menjadi ruang perjumpaan bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk membangun kehidupan bersama.
Nilai solidaritas itu penting di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota yang terus menarik kedatangan penduduk dari berbagai wilayah.
Dalam perspektif tersebut, kampung tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan sosial yang membantu masyarakat beradaptasi dengan kehidupan perkotaan.
Keterikatan antarwarga, hubungan bertetangga, dan akses terhadap tempat tinggal merupakan unsur yang perlu diperhatikan ketika pembangunan kota dilakukan.
Kearifan Kampung untuk Masa Depan Jakarta
Empat aspek yang disoroti Azis memperlihatkan bahwa kampung tua Betawi menyimpan pengetahuan lokal yang melampaui persoalan pelestarian adat dan kesenian.
Di dalamnya terdapat hubungan antara kebudayaan, tata ruang, lingkungan hidup, dan solidaritas sosial. Keempat unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk kehidupan masyarakat kampung.
Karena itu, dokumentasi sejarah kampung tua menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana masyarakat Betawi membangun ruang hidupnya, menjaga tradisi, beradaptasi dengan alam, dan menjalin hubungan dengan kelompok masyarakat lainnya.
Kearifan tersebut juga dapat menjadi bahan pembelajaran dalam merumuskan pembangunan Jakarta yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi turut memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Bagi Azis, kampung tua bukan sekadar jejak masa lalu yang tersisa di tengah pesatnya perkembangan kota. Kampung merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kolektif masyarakat Betawi.
Menjaga kampung tua, dengan demikian, bukan hanya merawat peninggalan sejarah. Upaya itu juga berarti mempertahankan sumber pengetahuan lokal yang dapat memberi perspektif bagi masa depan Jakarta.
Catatan Abdul Azis Khafia











