Buleng, Tradisi Lisan Betawi yang Ingin Dihidupkan Kembali Lewat Sekolah

Kabarbetawi.id JAKARTA – Tradisi lisan Buleng, salah satu warisan budaya Betawi yang pernah hidup di wilayah pinggiran Jakarta, berupaya dihidupkan kembali melalui dunia pendidikan. Upaya tersebut dibahas dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk “Kajian dan Revitalisasi Tradisi Lisan Buleng” di Jakarta Urban Knowledge Hub, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini melibatkan sejumlah guru SMA/SMK dari berbagai sekolah di Jakarta. Pelibatan guru diharapkan membuka jalan bagi pengenalan dan integrasi tradisi Buleng dalam kegiatan pembelajaran.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menyoroti pembelajaran sastra lisan di sekolah

FGD menghadirkan Dr. Siti Gomo Attas, Drs. Yahya Andi Saputra, M.Hum., Erin Nurwantari, S.Sn., M.Sn., dan Fadjriyah Nurdiarsih, S.Hum. Diskusi dipandu Dr. Gres Grasia Azmin, M.Si.

Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Agus Ramdani, mengatakan tradisi lisan bukan sekadar cerita atau tuturan, melainkan juga menyimpan nilai, pengetahuan, kearifan lokal, karakter, dan identitas masyarakat yang diwariskan antargenerasi.

Menurut Agus, sekolah menjadi ruang strategis untuk mengenalkan kekayaan budaya Betawi kepada peserta didik. Pada jenjang SMA/SMK, muatan lokal dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang relevan sehingga pembelajaran budaya berlangsung secara kontekstual.

Ia berharap FGD tersebut menghasilkan gagasan konkret untuk mendokumentasikan, mengembangkan, dan mengintegrasikan Buleng ke dalam pembelajaran. Dengan begitu, siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mengenal akar budaya dan bangga terhadap identitas daerahnya.

“Kita ingin anak-anak Jakarta tidak hanya menjadi generasi yang maju secara akademik dan kompetensi, tetapi juga mengenal akar budayanya, bangga terhadap identitas daerahnya, serta memiliki kepedulian untuk melestarikan budaya Betawi,” kata Agus.

Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), H. Beky Mardani, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menegaskan LKB terbuka untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menjaga dan memperkenalkan budaya Betawi kepada generasi muda.

Para peserta FGD foto bersama usai acara

Sementara itu, Fadjriyah Nurdiarsih, yang akrab disapa Mpo Iyah, menjelaskan bahwa Buleng tidak bisa dipahami hanya sebagai teks cerita. Tradisi ini juga mencakup gaya bertutur, ekspresi, karakter pebuleng, serta interaksi dengan masyarakat.

Menurut Fadjriyah, pelestarian Buleng perlu dilanjutkan melalui pengembangan dan pemanfaatan, termasuk dalam dunia pendidikan. Hasil FGD diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan penyusunan bahan ajar, modul, dan perangkat pembelajaran bagi para guru.

“Buleng bukan hanya teks cerita yang dibaca atau ditiru cara penyampaiannya. Ada unsur penuturan, ekspresi, dan konteks sosial budaya yang menyertainya,” ujarnya.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menyoroti pembelajaran sastra lisan di sekolah yang selama ini lebih banyak bertumpu pada teks tertulis. Padahal, sastra lisan harus dipahami melalui praktik penuturannya, termasuk cara penyampaian dan konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya.

Yahya menjelaskan, Buleng merupakan tradisi mendongeng yang berkembang di pinggiran Jakarta dan memiliki hubungan dengan kebudayaan Sunda. Kekhasannya terlihat dari penggunaan dialek Betawi dalam cerita tentang kehidupan kerajaan maupun keseharian masyarakat.

“Tradisi lisan itu adalah sastra yang dilisankan. Karena itu, kita sebagai pembelajar harus melihat model dan bentuknya, seperti apa tradisi itu dituturkan, bukan hanya melihat tulisan atau teks ceritanya,” ujar Yahya.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Siti Gomo Attas. Ia menekankan pentingnya mengenalkan wujud asli tradisi lisan kepada siswa, bukan sekadar mengajarkan cerita melalui bacaan atau hafalan. Menurutnya, Buleng perlu ditempatkan dalam konteks perkembangan tradisi lisan Betawi, sekaligus dibedakan dari Sahibul Hikayat dan Gambang Rancag yang memiliki latar budaya serta bentuk penyajian tersendiri.

Adapun Erin Nurwantari melihat Buleng berpotensi dikembangkan dalam pembelajaran Seni Budaya, khususnya seni teater. Materinya dapat mencakup teknik vokal, intonasi, gestur, ekspresi wajah, dan penghayatan cerita. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kompetensi guru serta ketersediaan mata pelajaran seni di setiap sekolah.

“Ketika anak bercerita, tidak cukup hanya menyampaikan kata-kata. Mereka perlu belajar ekspresi, intonasi, gestur, dan penghayatan agar pesan cerita sampai kepada penonton,” kata Erin.

Melalui pendekatan tersebut, Buleng diharapkan tidak berhenti sebagai warisan budaya yang hanya dikenal melalui dokumentasi. Tradisi mendongeng Betawi ini diharapkan kembali hadir dalam ruang belajar, dipraktikkan oleh generasi muda, dan terus berkembang tanpa kehilangan kekhasannya.