Azis Khafia: Kiai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia

Kabarbetawi.id, Jakarta — Indonesia kembali berduka. Kepergian Kiai Haji Syuqron Makmun meninggalkan kehilangan mendalam, terutama bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Ulama asal Madura yang meniti jalan dakwah di tanah Betawi itu bukan sekadar pendakwah, melainkan sosok panutan yang suaranya menggema di masjid dan musala, menggerakkan umat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Sejak kecil, saya telah akrab dengan ceramah Kiai Syuqron Makmun. Saya kerap mendengar rekaman maupun menyaksikan langsung bagaimana beliau menyampaikan pesan-pesan agama dengan lugas, tegas, dan lantang. Setiap kalimatnya terasa kuat, sementara materi dakwahnya padat dan berisi.

Retorika dakwah yang khas itulah yang membuatnya dikenal dengan julukan Asadul Mimbar, atau Singa Mimbar Indonesia. Julukan tersebut bukan semata-mata menggambarkan lantangnya suara beliau di atas mimbar, tetapi juga keteguhan sikap dalam menyampaikan kebenaran dan mengajak umat menjalankan ajaran Islam.

Bagi masyarakat Betawi, Kiai Syuqron Makmun merupakan bagian dari perjalanan panjang dakwah Islam di Jakarta. Kiprahnya memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat tumbuh bersama masyarakat, membangun pendidikan keagamaan, sekaligus mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Merintis dari Bawah, Membangun Pesantren

Ada satu kisah tentang perjalanan hidup Kiai Syuqron yang masih saya ingat dari penuturan Amarullah Asbah, atau Bang Wo, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus politisi Betawi. Kisah itu disampaikan saat kami berbincang santai di Gedung Ciks, Jakarta.

Ketika membicarakan kiprah para tokoh NU di Jakarta, Bang Wo mengisahkan bahwa Kiai Syuqron merupakan pribadi pekerja keras dan ulet sejak usia muda.

Pada masa itu, beliau mengabdi di kediaman Kiai Idham Chalid. Pekerjaan yang dilakukannya pun sederhana, termasuk membersihkan halaman dengan mengumpulkan daun-daun kering. Dari proses pengabdian tersebut, tergambar perjalanan seorang anak muda yang tekun menuntut ilmu, menjaga adab, dan membangun kedekatan dengan para ulama.

Kesempatan kemudian datang ketika Haji Abdurrahman mempercayainya untuk mengajar mengaji di kawasan Senayan, yang kini dikenal sebagai bagian dari wilayah Senopati dan sekitarnya.

Abdul Aziz Khafia
Ketua Bidang Dakwah MUI Jakarta Selatan dan Sekretaris Bidang Sosial Politik Permata MHT

Dari lingkungan pengajian itulah dakwah Kiai Syuqron terus berkembang. Majelis yang dirintisnya tumbuh menjadi Pondok Pesantren Darul Rahman, lembaga pendidikan Islam yang kemudian berkembang dengan sejumlah cabang dan melahirkan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kebesaran seorang ulama tidak selalu bermula dari panggung besar atau kemasyhuran. Ada proses panjang berupa pengabdian, ketekunan, dan kepercayaan masyarakat yang perlahan-lahan membentuk pengaruhnya.

Kiai Syuqron membuktikan bahwa dakwah bukan hanya perkara menyampaikan ceramah, melainkan juga membangun ruang pendidikan, menyiapkan generasi penerus, dan memastikan ilmu agama terus diwariskan.

Ulama yang Melek Politik

Kiai Syuqron Makmun juga dikenal memiliki wawasan politik yang luas. Kiprahnya tidak berhenti pada kegiatan dakwah dan pendidikan pesantren. Beliau turut mengikuti dinamika politik nasional, khususnya yang berkaitan dengan aspirasi umat Islam dan kalangan Nahdliyin.

Selain aktif dalam lingkungan NU dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), pada masa Reformasi beliau turut mendirikan Partai Kebangkitan Umat (PKU). Kehadiran partai tersebut menjadi bagian dari dinamika politik umat Islam setelah terbukanya ruang demokrasi yang lebih luas.

Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa bagi Kiai Syuqron, kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa bukanlah dua hal yang harus dipisahkan secara mutlak. Seorang ulama dapat memberikan tuntunan keagamaan sekaligus memahami persoalan masyarakat dan arah perjalanan bangsa.

Namun, yang menarik, kiprah politiknya tidak menghapus identitas utamanya sebagai pendakwah dan pengasuh pesantren. Mimbar dan majelis ilmu tetap menjadi ruang penting bagi pengabdiannya kepada umat.

Dalam konteks Jakarta yang dihuni masyarakat dengan latar belakang beragam, sosok seperti Kiai Syuqron menunjukkan pentingnya peran ulama dalam merawat nilai keagamaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keseimbangan kehidupan sosial.

Dipercaya Menakhodai Forum Ulama dan Habaib Betawi

Kedekatan Kiai Syuqron Makmun dengan ulama dan tokoh Betawi telah terjalin sejak usia muda. Hubungan itu tumbuh melalui pergaulan keagamaan, kegiatan dakwah, serta kepedulian terhadap kehidupan umat di Jakarta.

Karena kedekatan dan kapasitas keilmuannya, sejumlah tokoh Betawi, di antaranya Haji Nuri Tahir, meminta beliau untuk menakhodai Forum Ulama dan Habaib Betawi (FUHAB).

Kepercayaan tersebut menandai pengakuan terhadap posisi Kiai Syuqron di tengah masyarakat. Beliau tidak hanya dihormati sebagai ulama yang memiliki kemampuan berbicara di atas mimbar, tetapi juga dipandang mampu merangkul berbagai kalangan dan memperkuat hubungan antartokoh agama.

Dalam perkembangannya, forum tersebut kemudian bertransformasi menjadi Forum Ulama dan Habaib Jakarta (FUHAB Jakarta). Perluasan nama dan cakupan organisasi itu mencerminkan ikhtiar untuk memperluas jangkauan silaturahmi serta jaringan dakwah di wilayah Jakarta.

Bagi masyarakat Betawi, keberadaan forum ulama dan habaib memiliki arti penting. Di tengah perubahan kota yang begitu cepat, ulama tidak hanya menjadi rujukan dalam persoalan agama, tetapi juga berperan menjaga keharmonisan sosial dan merawat nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat.

Kiai Syuqron menjadi salah satu figur yang menempatkan dakwah, silaturahmi, dan persatuan umat sebagai bagian dari pengabdian yang saling berkaitan.

Jejak Dakwah yang Tak Lekang oleh Waktu

Kini, Kiai Syuqron Makmun telah berpulang. Namun, kepergiannya tidak serta-merta mengakhiri perjalanan dakwah yang telah dirintisnya selama puluhan tahun.

Suara lantang yang dahulu terdengar dari mimbar-mimbar masjid dan musala akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mendengarkan ceramahnya. Begitu pula lembaga pendidikan yang dibangunnya, para santri yang pernah menimba ilmu, serta jaringan ulama dan masyarakat yang pernah berjalan bersama beliau.

Di tengah perubahan zaman, tantangan dakwah pun semakin beragam. Masyarakat membutuhkan ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keteguhan moral, keluasan wawasan, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan tetap menjaga adab.

Kiai Syuqron Makmun telah memberikan teladan melalui perjalanan hidupnya. Dari pengabdian sederhana pada masa muda, merintis pengajian, membangun pesantren, hingga mengambil peran dalam kehidupan sosial dan politik, beliau memperlihatkan bahwa dakwah merupakan pengabdian panjang yang membutuhkan ilmu, ketekunan, dan istiqamah.

Bagi saya, kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang ulama besar, melainkan juga kehilangan sosok panutan yang jejak perjuangannya membekas di hati umat.

Selamat jalan, Kiai Syuqron Makmun. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala khilaf, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga ilmu yang diajarkan, santri yang dididik, serta nilai-nilai dakwah yang diwariskan terus tumbuh dan menjadi penerang bagi generasi mendatang.

Singa Mimbar Indonesia telah berpulang, tetapi gaung dakwah dan keteguhan perjuangannya akan terus hidup.

Oleh Abdul Aziz Khafia
Ketua Bidang Dakwah MUI Jakarta Selatan dan Sekretaris Bidang Sosial Politik Permata MHT