Hari Santri Nasional: Santri, Adab, dan Masa Depan Bangsa

Oleh: Dr. Azis Khafia
Sekretaris Bidang Sosial dan Politik PERMATA MHT

Kabarbetawi.id, Jakarta – Aku pernah melihat santri. Sarungnya lecek, tetapi mimpinya tinggi. Kitabnya kuning dan usang, tetapi pikirannya melampaui zamannya.

Santri adalah mereka yang diajarkan untuk takzim kepada guru, tetapi tetap tegak di hadapan ketidakadilan. Mereka dibiasakan melantunkan doa-doa, mempelajari kitab-kitab ulama, sekaligus mengenal sejarah perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Menjadi santri bukan semata-mata soal di mana seseorang menimba ilmu atau berapa lama ia tinggal di pondok pesantren. Lebih dari itu, menjadi santri adalah tentang bagaimana menempatkan adab sebelum ilmu, akhlak sebelum amal, serta keikhlasan di atas segala kepentingan pribadi.

Di era ketika banyak orang berlomba-lomba mencari popularitas dan ingin viral dalam waktu singkat, santri memilih berakar pada tradisi keilmuan dan kebaikan. Ketika kesuksesan kerap diukur dari ketenaran dan pencapaian material, santri diajarkan untuk tetap istiqamah menjaga keluhuran akhlak, identitas keislaman, dan semangat kebangsaan.

Santri memahami bahwa bangsa yang besar tidak dibangun secara instan. Kemajuan membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan perjuangan yang dilandasi keikhlasan. Dalam semangat itulah, nilai-nilai jihad dalam pengertian kesungguhan memperjuangkan kebaikan menemukan relevansinya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Filosofi Santri: Lima Nilai Kehidupan

Ada sebuah pemaknaan filosofis yang menarik tentang kata santri. Dalam tradisi pemaknaan yang berkembang di kalangan pesantren, setiap huruf dalam kata santri dikaitkan dengan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup seorang santri.

Pemaknaan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan pengingat tentang orientasi spiritual, tanggung jawab keilmuan, kerendahan hati, kepedulian sosial, dan harapan akan keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

•Pertama, Salikun ilal akhirah (سالك إلى الآخرة).

Maknanya adalah orang yang menempuh jalan menuju kehidupan akhirat. Seorang santri diajarkan untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal dan memandang kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir.

Nilai ini menegaskan pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Allah SWT (hablum minallah). Ilmu, pekerjaan, pengabdian, dan perjuangan hendaknya tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan duniawi, tetapi juga menjadi jalan untuk memperoleh rida Allah SWT.

•Kedua, Naibun anil masyaikh (نائب عن المشايخ).

Maknanya adalah penerus atau pengemban amanah para guru dan masyayikh. Santri bukan hanya pewaris ilmu, melainkan juga penerus perjuangan, keteladanan, dan tanggung jawab moral para kiai serta ulama.

Estafet perjuangan itu menuntut kesungguhan untuk menjaga nilai-nilai ajaran guru, baik dalam akidah (i’tiqadiyah), amaliah, pemikiran (fikrah), gerakan (harakah), maupun semangat perjuangan (ghirah).

Dalam tradisi Islam, ulama memiliki kedudukan penting sebagai pewaris perjuangan para nabi dalam menyampaikan ilmu, membimbing umat, dan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Karena itu, santri diharapkan tidak berhenti sebagai pencari ilmu, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang siap mengabdi kepada agama, masyarakat, dan bangsa.

•Ketiga, Taibun anidz dzunub (تائب عن الذنوب).

Maknanya adalah orang yang bertobat dari dosa dan kesalahan. Nilai ini mengajarkan bahwa seorang santri tidak boleh merasa dirinya paling suci atau paling benar.

Sebaliknya, ia harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui kekurangan, menyadari kesalahan, dan bersedia memperbaiki diri. Kesadaran untuk bertobat merupakan bagian dari proses pendewasaan spiritual sekaligus pembentukan karakter.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini penting agar ilmu tidak melahirkan kesombongan, jabatan tidak menumbuhkan keangkuhan, dan keberhasilan tidak membuat seseorang lupa diri.

•Keempat, Raghibun fil khairat (راغب في الخيرات).

Maknanya adalah orang yang mencintai dan menginginkan kebaikan. Seorang santri diharapkan senantiasa berusaha berada di jalan kebaikan, memberikan manfaat bagi sesama, serta menjauhi tindakan yang membawa kemudaratan.

Nilai ini berkaitan erat dengan hubungan horizontal antarmanusia (hablum minannas). Kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian sosial, kejujuran, sikap saling menghormati, dan kesediaan membantu mereka yang membutuhkan.

Di tengah tantangan kehidupan modern, santri dituntut mampu bersikap bijaksana, menyaring pengaruh negatif, serta menghadirkan solusi yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

•Kelima, Yarjus salamah fid dunnya wal akhirah (يرجو السلامة في الدنيا والآخرة).

Maknanya adalah mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat. Kehidupan dunia yang sementara merupakan kesempatan untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Untuk mencapai keselamatan itu, seorang santri perlu menapaki jalan yang benar, berpegang pada ajaran agama, dan menaati rambu-rambu syariat. Sejarah juga perlu dipelajari sebagai bahan refleksi agar kesalahan masa lalu tidak kembali terulang.

Ibarat seorang pengembara yang sedang menempuh perjalanan panjang, ia sesekali menengok ke belakang untuk memastikan arah, tetapi tetap harus memusatkan perhatian pada jalan di hadapannya. Bekal yang perlu terus dikumpulkan adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, serta akhlak yang mulia.

Kelima nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang santri bukan hanya tentang kecakapan memahami kitab, melainkan juga tentang kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi perilaku dan pengabdian nyata.

Dr. Azis Khafia
Sekretaris Bidang Sosial dan Politik PERMATA MHT

Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali merenungkan peran santri dalam perjalanan sejarah Indonesia sekaligus meneguhkan kontribusinya bagi masa depan bangsa.

Sejarah mencatat bahwa kalangan pesantren turut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang mengobarkan semangat perjuangan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Semangat tersebut perlu diteruskan dalam konteks zaman yang terus berubah. Tantangan santri masa kini bukan hanya persoalan menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga bagaimana beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menghadapi arus informasi, memperkuat literasi digital, serta mengambil peran dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Santri harus mampu berdiri di antara dua kepentingan yang saling melengkapi: menjaga warisan luhur para ulama dan membuka diri terhadap kemajuan zaman. Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan, sementara modernitas juga tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan akar moral dan spiritualnya.

Kita membutuhkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, berpikiran terbuka, memiliki kepedulian sosial, serta mencintai Tanah Air. Generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga bersedia bekerja dan berjuang untuk mewujudkannya.

Pada akhirnya, santri adalah bagian penting dari perjalanan panjang bangsa ini. Dari pesantren, lahir manusia-manusia yang diharapkan mampu menjaga nilai agama, merawat persatuan, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Inilah catatan singkat sekaligus ungkapan rasa syukur dalam memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober. Semoga para santri Indonesia senantiasa menjadi kader umat dan kader bangsa yang teguh memegang adab, luas dalam ilmu, tulus dalam pengabdian, serta tangguh menjawab tantangan masa depan.

Selamat Hari Santri Nasional.

Santri beradab, bangsa bermartabat. Santri berilmu, Indonesia maju.