Sumpah Pemuda 1928 dan Peran Penting Kaum Betawi dalam Sejarah Kebangsaan

Kabarbetawi.id, Jakarta – Ketika mendengar kata Betawi, sebagian orang mungkin langsung teringat pada ondel-ondel, kembang kelapa, lenong, serta seniman legendaris seperti Bokir dan Nori. Representasi tersebut tentu tidak keliru. Namun, jika identitas Betawi hanya ditampilkan melalui simbol-simbol kesenian dan hiburan, ada kekayaan sejarah, pemikiran, serta peran kebangsaan masyarakat Betawi yang berisiko terabaikan.

Betawi bukan sekadar identik dengan kesenian, kelucuan, atau tradisi yang menghibur. Lebih dari itu, masyarakat Betawi memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan pendidikan, kesejahteraan rakyat, dan kemerdekaan Indonesia.

Momentum peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi kesempatan penting untuk kembali menengok sejarah tersebut. Sebab, kontribusi kaum Betawi dalam peristiwa bersejarah 28 Oktober 1928 bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan dari perjalanan lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia.

Ada setidaknya tiga hal penting yang perlu diingat ketika membicarakan hubungan antara Sumpah Pemuda dan kaum Betawi.

Pertama, kaum Betawi telah memiliki organisasi yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan jauh sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan.

Pada 1923, berdiri Perkoempoelan Kaoem Betawi yang dipelopori sejumlah tokoh, di antaranya Thamrin Tabri dan Abdul Manaf. Organisasi ini menjadi wadah bagi masyarakat Betawi untuk memperjuangkan berbagai kepentingan sosial, pendidikan, dan kesejahteraan.

Dari lingkungan organisasi tersebut, tumbuh pula gerakan kepemudaan melalui Pemoeda Kaoem Betawi. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kaum muda Betawi telah mengambil bagian dalam gerakan yang lebih luas untuk memajukan masyarakat dan memperjuangkan masa depan bangsa.

Pada masa itu, berbagai organisasi pemuda berbasis kedaerahan juga berkembang, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, dan organisasi pemuda lainnya. Meski membawa identitas daerah masing-masing, gerakan-gerakan tersebut memiliki cita-cita yang melampaui batas kedaerahan: membangun persatuan dan memperjuangkan kemerdekaan.

Dengan demikian, identitas kedaerahan bukanlah penghalang bagi lahirnya nasionalisme. Justru dari kesadaran terhadap asal-usul dan identitas masing-masing, tumbuh semangat untuk membangun sebuah bangsa yang satu.

Kaum Betawi menjadi bagian dari proses penting tersebut.

Kedua, Sumpah Pemuda berlangsung di Batavia, dan kaum Betawi turut menjadi bagian dari dinamika pergerakan kebangsaan di kota itu.

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 diselenggarakan di Batavia, kota yang kini bernama Jakarta. Peristiwa tersebut mempertemukan berbagai organisasi pemuda dengan latar belakang daerah, suku, dan bahasa yang berbeda untuk merumuskan cita-cita persatuan Indonesia.

Sebagai masyarakat yang hidup di kota tempat kongres berlangsung, kaum Betawi berada di tengah denyut kehidupan sosial dan pergerakan kebangsaan tersebut. Organisasi serta tokoh-tokoh Betawi menjadi bagian dari lingkungan perjuangan yang turut menyokong tumbuhnya semangat persatuan.

Salah satu tokoh yang patut dikenang adalah Mohammad Hoesni Thamrin. Putra Betawi kelahiran Sawah Besar ini dikenal sebagai tokoh pergerakan yang memperjuangkan kepentingan rakyat melalui jalur politik dan parlemen kolonial. Dengan kemampuan, jaringan, dan sumber daya yang dimilikinya, Thamrin turut memainkan peran penting dalam perjuangan sosial dan politik pada masanya.

Sosok Thamrin menunjukkan bahwa kontribusi kaum Betawi tidak hanya hadir dalam bentuk kebudayaan, tetapi juga melalui pemikiran, kepemimpinan, dan keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat.

Dalam konteks inilah, peran tuan rumah tidak semata-mata dimaknai sebagai penyelenggara sebuah perhelatan. Lebih jauh, Batavia menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan tentang Indonesia, sementara masyarakat yang hidup di dalamnya turut menjadi bagian dari lingkungan yang memungkinkan gagasan persatuan itu tumbuh.

Ketiga, Sumpah Pemuda menjadi penegas bahwa identitas Betawi dan identitas Indonesia bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Ikrar Sumpah Pemuda tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia merupakan tonggak penting dalam perjalanan nasionalisme Indonesia. Semangat tersebut menegaskan bahwa keberagaman identitas daerah tidak harus dihapuskan untuk membangun persatuan.

Sebaliknya, setiap identitas daerah memiliki tempat dalam rumah besar bernama Indonesia.

Karena itu, berbicara tentang Betawi sejatinya juga berbicara tentang Indonesia. Demikian pula, membicarakan perjalanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari kontribusi masyarakat Betawi dalam sejarah Jakarta dan perjuangan kebangsaan.

Betawi merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia. Masyarakatnya bukan sekadar pewaris tradisi lokal, melainkan juga bagian dari kekuatan sosial yang ikut membentuk perjalanan bangsa. Dalam konteks Jakarta sebagai kota pertemuan berbagai suku dan budaya, Betawi bahkan dapat dipandang sebagai salah satu cermin keberagaman Indonesia.

Ungkapan bahwa Indonesia tanpa Betawi ibarat Bhinneka Tunggal Ika yang tidak utuh mungkin terdengar lugas. Namun, di balik ungkapan tersebut tersimpan pesan penting: persatuan Indonesia tidak dibangun dengan meniadakan identitas daerah, melainkan dengan memberikan ruang yang setara bagi setiap identitas untuk berkontribusi.

Menghidupkan Kembali Semangat Pemuda Betawi

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan, pengibaran bendera, atau pengulangan ikrar yang diwariskan sejarah. Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi, terutama bagi generasi muda Betawi, untuk memahami kembali peran dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Berdirinya Pemoeda Kaoem Betawi pada masa pergerakan menunjukkan bahwa kaum muda Betawi pernah mengambil posisi penting dalam perjuangan sosial dan kebangsaan. Mereka tidak hanya berbicara tentang identitas, tetapi juga bergerak memperjuangkan pendidikan, kesejahteraan rakyat, dan kemerdekaan.

Semangat semacam inilah yang perlu dihidupkan kembali hari ini.

Pemuda Betawi harus berani berpikir kritis, terbuka terhadap perkembangan zaman, serta mampu merespons berbagai persoalan dengan gagasan dan tindakan nyata. Tantangan masa kini tentu berbeda dengan situasi kolonial pada 1928. Namun, nilai yang mendasarinya tetap relevan: keberanian berpikir, kepedulian terhadap masyarakat, dan kesediaan mengambil peran dalam perubahan.

Menjadi pemuda bukan semata-mata soal usia. Kemudaan juga menyangkut cara berpikir, keberanian menyampaikan gagasan, serta kesanggupan menghadirkan karya dan aksi nyata.

Jangan sampai secara usia masih muda, tetapi pemikiran berhenti berkembang dan kontribusi bagi masyarakat justru semakin tumpul.

Kaum muda Betawi perlu hadir di berbagai ruang strategis, mulai dari pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, teknologi, hingga pengambilan kebijakan publik. Identitas Betawi harus menjadi sumber kekuatan untuk melangkah maju, bukan sekadar simbol yang dikenang dalam acara seremonial.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa kebanggaan terhadap identitas sendiri harus berjalan seiring dengan komitmen terhadap persatuan bangsa. Menjadi orang Betawi tidak berarti hanya merawat tradisi Betawi, tetapi juga mengambil tanggung jawab untuk menjaga Indonesia.

Inilah sejatinya pesan yang perlu terus disyiarkan kepada generasi muda: jadilah pemuda Betawi yang berakar pada budaya, tajam dalam pemikiran, kritis membaca zaman, dan nyata dalam karya serta pengabdian.

Sebab, semangat yang diwariskan para pendahulu bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk diteruskan melalui perjuangan yang sesuai dengan tantangan zamannya.

Azis Khafia al-Batawi

Bidang Sosial Politik (Sospol) PERMATA MHT