Kabarbetawi.id, Jakarta — Maestro lukis asal Betawi, Sarnadi Adam, menegaskan bahwa seniman Betawi tidak boleh membatasi diri hanya pada ruang lokal, melainkan harus berani menembus panggung dunia. Pesan tersebut ia sampaikan dalam pembukaan pameran seni rupa bertajuk Jaga Budaya yang digelar di Institut Français Indonesia Jakarta, yang berlokasi di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pameran ini menghadirkan dialog artistik lintas generasi antara Sarnadi Adam dan mantan muridnya, Kembang Sepatu, yang kini dikenal sebagai perupa aktif dan memimpin organisasi pelukis Nusantara. Keduanya menampilkan karya yang merefleksikan kekayaan budaya Betawi dan Nusantara dalam bahasa visual kontemporer.

“Saya orang Betawi, tapi budaya Betawi harus dikenal luas. Seniman Betawi tidak boleh hanya jago kandang,” ujar Sarnadi.
Sarnadi mengenang perjalanan panjangnya berkarya sejak awal 1980-an, termasuk pengalaman berpameran di berbagai negara seperti Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, hingga Swedia. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa seni rupa Indonesia memiliki bahasa universal dan mampu bersaing di tingkat global.
“Sejak 1980-an karya saya berkeliling dari Paris hingga Eropa dan Amerika. Itu menunjukkan bahwa seni Indonesia punya tempat di dunia,” katanya.

Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap murid-murid yang tumbuh menjadi tokoh penting seni rupa nasional, salah satunya Kembang Sepatu.
“Dulu mereka mahasiswa saya yang kreatif, rajin, dan konsisten. Hari ini bukan hanya berkarya, tapi juga memimpin organisasi pelukis Nusantara. Itu kebanggaan tersendiri,” ucap Sarnadi.
Budaya sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif
Pameran Jaga Budaya digelar oleh Asosiasi Pelukis Nusantara dan menjadi bagian dari upaya merawat identitas budaya di tengah arus perubahan zaman.
Pameran ini berlangsung pada Kamis (12/2/2026) dan terbuka untuk publik.
Direktur Seni Rupa Kementerian Kebudayaan, Dadam Madar, menilai upaya menjaga budaya melalui seni rupa bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan tindakan kolektif bangsa yang berakar pada jati diri Indonesia.

“Menjaga budaya melalui seni rupa berarti merawat tindakan kolektif bangsa. Seni tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memperkuat ekosistem seni dan ekonomi kreatif secara berkelanjutan,” ujar Dadam.
Hal senada disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Retno Setiawati, yang menyebut pameran ini sebagai momentum penting bagi Jakarta.
“Ini perhelatan yang jarang terjadi. Pak Sarnadi Adam sudah berkarya sejak 1984 dan dikenal hingga mancanegara.
Ini kekayaan kita sebagai warga Jakarta,” kata Retno.
Ia menegaskan, karya seni tidak hanya dinilai dari harga pasar saat ini, tetapi juga dari nilai sejarah, konsistensi berkarya, dan pengakuan jangka panjang.
Menurutnya, negara perlu hadir mendukung ekosistem seni, mulai dari ruang pamer, kurator, hingga promosi.
Pameran Jaga Budaya diharapkan menjadi ruang apresiasi dan edukasi, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya, menjaga akar budaya, dan berani melangkah ke panggung global.(hel)












