KabarBetawi.id, Jakarta Selatan – Pemuda Kaum Betawi (PKB) meresmikan basecamp Pemuda Kaum Betawi dan Warung Kopi Ciganjur (Warkocig) di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, kemarin (8/2).
Peresmian ini menandai langkah serius Pemuda Kaum Betawi membangun pusat aktivitas pemuda yang berorientasi pada penguatan intelektualitas, kewirausahaan, dan kolaborasi lintas generasi.
Harapannya, Basecamp dan Warkocig ini dapat menjadi pusat intelektual, kolaborasi, dan gerakan pemuda Betawi yang berkelanjutan, serta menjadi model penguatan peran pemuda berbasis budaya di era digital.
Menariknya, peresmian Basecamp Pemuda Kaum Betawi ini dihadiri Ketua Lembaga Adat Majelis Kaum Betawi Dr-Ing. H Fauzi Bowo alias Bang Foke.
Dia menyatakan kemajuan Betawi di masa depan sangat bergantung pada kemampuan pemuda dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai adat dan budaya.
“Digitalisasi adalah keniscayaan. Pemuda Betawi harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat identitas, memperluas jejaring, dan memperkenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemuda, tokoh adat, komunitas, dan media sebagai fondasi memajukan Betawi secara berkelanjutan. “Dengan kolaborasi, Betawi tidak hanya bertahan, tapi berkembang dan relevan di tengah perubahan.”
Basecamp dan Warkocig dirancang tidak hanya sebagai ruang berkumpul, tapi ruang strategis kaderisasi pemuda, diskusi gagasan, serta pengembangan kapasitas pemuda Betawi, agar menjawab tantangan sosial dan perkembangan digital.

Fokus Kualitas SDM Betawi
Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi H Masykur Isnan, SH, MH, MM menjelaskan arah gerakan Pemuda Kaum Betawi sejak awal dibangun sebagai organisasi pemuda yang mengedepankan kualitas sumber daya manusia. “Pemuda Kaum Betawi bukan organisasi basis massa, tapi basis intelektual. Kami ingin pemuda Betawi kuat secara pendidikan dan mandiri melalui kewirausahaan,” ujar Masykur Isnan.
Menurutnya, penguatan pemuda harus berjalan seiring dengan etika sosial dan harmoni antargenerasi. Anak muda itu bukan salah tempat. Anak muda punya peran dan ruang sendiri. Anak muda kudu hormat dengan yang tua, dan yang tua juga kudu menghormati yang muda. Kalau ini berjalan seimbang, organisasi akan sehat dan maju.
“Basecamp dan Warkocig menjadi simbol ruang dialog terbuka, tempat bertemunya gagasan pemuda dengan pengalaman para tokoh dan sesepuh Betawi,” katanya.
Peresmian Basecamp dan Warkocig ini dirangkai dengan berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan, seperti santunan anak yatim, pertunjukan seni Betawi, dan diskusi kebudayaan. Seluruh panitia dan kader Pemuda Kaum Betawi mengenakan kaos bertema “Betawi Revolusi” sebagai simbol semangat transformasi dan kebangkitan pemuda Betawi.

Kegiatan ini didukung berbagai pihak, termasuk Forum Jurnalis Betawi (FJB), The Betawie, dan Info Betawi, serta media partner Betawi Bacot, WARKOCAG, dan WARKOCIG. Sejumlah seniman dan kreator Betawi turut ambil bagian dalam memeriahkan acara.












