Mpok Tuti UNJ Kembangkan 4 Pola Lagu Jiharkah dengan Gerak Tangan untuk Ajarkan Al-Qur’an kepada Anak Usia Dini

Kabarbetawi.id, Jakarta — Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak usia dini membutuhkan metode yang tidak hanya benar secara kaidah, tetapi juga menarik dan mudah dipahami. Berangkat dari kebutuhan tersebut, peneliti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Tuti Tarwiyah Adi, M.Si., atau yang akrab disapa Mpok Tuti, mengembangkan empat pola lagu jiharkah yang dipadukan dengan gerak tangan.

Metode tersebut dirancang untuk membantu anak mengenali arah tinggi-rendah nada saat membaca surat-surat pendek, sekaligus tetap memperhatikan ketepatan makhraj, tajwid, serta karakter vokal anak usia dini.

Menariknya, pemilihan jiharkah bukan tanpa alasan. Menurut tim peneliti, karakter pola lagu jiharkah memiliki kedekatan dengan tangga nada pentatonik Betawi. Kedekatan tersebut dinilai dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan seni musikal Betawi sekaligus pembelajaran Al-Qur’an kepada anak.

Penelitian ini dikembangkan melalui riset terapan berjudul “Penerapan Pola Lagu Jiharkah dalam Pembelajaran Al-Qur’an pada Anak Usia Dini.”

Tim peneliti terdiri atas Dr. Tuti Tarwiyah Adi, M.Si., Dr. Aulia Ayu Annisa, M.Pd., Dr. Jubaedah, M.A., Hikmatur Rahmah, M. Daffa Isnan Effendi, dan Hanna Naf’atun Sholihah.

Mengubah Nada Abstrak Menjadi Gerakan

Dalam pembelajaran anak usia dini, konsep tinggi dan rendah nada terkadang sulit dijelaskan hanya melalui kata-kata. Karena itu, tim penelitian mengubah arah nada menjadi gerakan tangan yang dapat dilihat dan ditirukan anak.

Tangan diarahkan ke atas ketika nada naik, dibuat mendatar ketika nada berada pada posisi datar, dan diarahkan ke bawah ketika nada turun. Sementara itu, variasi nada turun ditandai dengan gerakan tangan ke bawah sambil dikibaskan.

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya mendengar contoh bacaan, tetapi juga melihat arah nada melalui gerakan.

Pendekatan ini dirancang agar proses belajar berlangsung melalui beberapa tahapan, yakni mendengarkan, melihat, menirukan, mengulang, kemudian melantunkan bacaan secara bersama-sama.

Meski menggunakan unsur musikal, nagham dalam penelitian ini bukan ditempatkan sebagai tujuan utama. Pola nada digunakan sebagai sarana membantu anak menjaga perhatian dan mengenali kontur bacaan tanpa mengesampingkan ketepatan pelafalan huruf dan kaidah tajwid.

Empat Pola Disusun Bertahap

Empat pola lagu jiharkah disusun secara progresif sehingga anak tidak langsung diperkenalkan pada pola yang kompleks.

Pola pertama berupa nada naik dan turun

Pola kedua menambahkan variasi turun

Pola ketiga mengembangkan urutan naik, datar, dan turun

Sedangkan pola keempat merupakan bentuk yang paling lengkap, yakni naik, datar, turun, dan variasi turun.

Pola tersebut diberikan secara bertahap setelah anak mulai menguasai pola sebelumnya.

Menurut tim peneliti, penyederhanaan tersebut penting karena anak usia dini memiliki karakteristik vokal dan kemampuan belajar yang berbeda dengan orang dewasa.

Divalidasi Qari Nasional dan Internasional

Sebelum diterapkan kepada anak dan guru, rancangan pola lagu tersebut terlebih dahulu memperoleh masukan dari sejumlah qari dan qariah.

Beberapa narasumber yang diwawancarai antara lain Ustaz M. Irfan Zidny, Al-Hafizh, qari dan imam Masjid Adz-Dzikra Villa Galaxy Bekasi; Ustaz Syamsuri Firdaus, qari asal Nusa Tenggara Barat yang memiliki prestasi dalam MTQ internasional di Turki pada 2019, Tanzania pada 2023, dan Kuwait pada 2024; serta qariah internasional Mastia Lestaluhu, S.Sy., M.Ag.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fath Bekasi, Dr. KH. Taufik Abdul Chamid, MA., juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pola tersebut.

Menurut dia, pendekatan yang mengaitkan pembelajaran Al-Qur’an dengan sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak dapat menjadi nilai tambah. Salah satunya melalui pengenalan tangga nada Betawi yang memiliki kedekatan dengan pola lagu jiharkah.

Sementara itu, Ustaz M. Irfan Zidny menekankan pentingnya memulai pembelajaran dari pola yang sederhana.

“Kalau untuk anak usia dini, yang paling pemula yang standar naik turun saja ya, jangan dikasih variasi apa-apa, polos saja,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Ustaz Syamsuri Firdaus. Menurut dia, penguasaan dasar membaca Al-Qur’an harus tetap menjadi prioritas sebelum anak mempelajari lagu.

“Yang penting terlebih dahulu kita belajar tentang tajwid, tentang makharijul huruf, agar bacaannya baik dulu,” katanya.

Masukan para ahli tersebut kemudian menjadi bahan penyempurnaan pola, terutama agar arah nada naik dan turun tetap sederhana, mudah ditirukan, serta sesuai dengan kemampuan vokal anak usia dini.

Diuji di TK Si Komo Children Center Bogor

Implementasi awal dilakukan secara terbatas di TK Si Komo Children Center Bogor pada 31 Juli 2026. Uji coba tidak hanya melibatkan peserta didik, tetapi juga guru.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tuti Tarwiyah mempraktikkan langsung empat pola kepada guru dan anak.

Peserta didik kemudian memperhatikan contoh, menirukan pola nada naik dan turun, mengikuti gerakan tangan, serta memadukannya dengan bacaan surat-surat pendek.

Bacaan juga diulang secara bersama-sama sehingga anak memperoleh kesempatan untuk mendengar, menirukan, dan mengingat pola yang diberikan.

Dari uji awal tersebut, tim melihat antusiasme peserta didik dan guru. Struktur pembelajaran yang bertahap juga dinilai membantu mereka mengikuti demonstrasi dan mempraktikkan pola.

Namun, tim peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut belum dapat disebut sebagai bukti efektivitas metode secara menyeluruh.

Diperlukan pengukuran yang lebih terstruktur, penerapan secara mandiri oleh guru, serta pengujian pada kelompok peserta didik yang lebih beragam untuk mengetahui efektivitasnya secara lebih kuat.

Berpotensi Jadi Model Pembelajaran Al-Qur’an Ramah Anak

Penelitian ini memberikan kerangka awal pembelajaran nagham yang lebih konkret dan ramah anak.

Perpaduan suara, gerakan tangan, dan pengulangan membuat konsep tinggi-rendah nada yang sebelumnya abstrak menjadi sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan ditirukan.

Bagi anak, pendekatan tersebut berpotensi membantu stimulasi perhatian, memori auditori, keberanian menirukan bacaan, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Sementara bagi guru, empat pola yang disusun secara bertahap dapat menjadi acuan demonstrasi dan urutan latihan yang lebih konsisten.

Meski demikian, prinsip utama tetap tidak berubah: ketepatan tajwid, makhraj, waqaf ibtida, serta kesesuaian dengan kemampuan vokal anak harus menjadi prioritas.

Tahap berikutnya, tim penelitian UNJ akan menyempurnakan model tersebut, termasuk contoh audio-video dan implementasi yang lebih luas.

Luaran yang ditargetkan antara lain model pembelajaran Al-Qur’an berbasis jiharkah, notasi dan isyarat sederhana, buku atau panduan praktis bagi guru, video pembelajaran, video petunjuk, artikel ilmiah, publikasi media massa, serta Hak Kekayaan Intelektual.

Melalui inovasi tersebut, Mpok Tuti dan tim berharap jiharkah tidak hanya menjadi bagian dari seni tilawah, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pedagogis yang adaptif dalam mengenalkan Al-Qur’an kepada anak usia dini.