KabarBetawi.id, Jakarta – Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan merayakan milad ke-26, Sabtu (19/9). Acara keriaan kemarin meriah dengan berbagai pertunjukan dan kehadiran para tokoh masyarakat Betawi.
Antara lain pertunjukan ondel-ondel, gambus, gambang kromong, lenong preman, komedi Betawi, dan lain-lain.
Nah, di tengah keriaan kemarin. bagaimana potret PBB Setu Babakan di usia 26 tahun ini?
H Beky Mardani, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) turut hadir dalam keriaan itu dan menyampaikan catatan kritisnya:
Di usia 26 tahun Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, memang makin lengkap dari sisi sarana dan prasarana. Namun, tidak berarti pekerjaan rumah (PR) sudah selesai. Di usia ke-26 ini, kita harus mereflesikan kembali sejarah pembentukannya dan gagasan yg dibawa saat itu.
Apakah Setu Babakan sudah mampu dan dapat dikatakan sebagai Perkampungan Budaya Betawi? Perkampungan Budaya Betawi Setubabakan merupakan keputusan politis yang diambil Gubernur Sutiyoso saat itu, sebagai jawaban atas “utang sejarah” gagalnya kawasan budaya buah-buahan Condet pada era 1970-an.
Kawasan Condet di Jakarta Timur ini gagal mengemban tugas sebagai kawasan cagar buah-buahan dan budaya, seiring dengan perkembangan demografi dan sosial masyarakat di Condet. Karena itu, Bang Yos direstui tokoh Betawi saat itu, menggagas Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jaksel.
Tentu saja kita tidak mau kegagalan Condet terulang di Setu Babakan. Secara destinasi budaya, Setu Babakan memang menjadi harapan dan juga imajinasi pengunjung. Hasil survei yang pernah dibuat menyatakan, lebih dari 70 persen pengunjung memang ingin melihat berbagai atraksi budaya Betawi. Sekitar 18 persen ingin melihat lingkungan dan aneka tumbuhan/flora seperti kampung-kampung Betawi tempo dulu.
Apakah harapan dan keinginan pengunjung itu sudah bisa dijawab, ini juga PR bagi pengelola PBB Setu Babakan.

PR Besar Perkampungan Betawi Setu Babakn
Kedua, lanjut Bang Beky, di dalam kawasan yang dikenal sebagai Kampung Ismail Marzuki, pulau seluas 3 hektare, yang berisi prototipe rumah Betawi, dari kampung pesisir, kampung tengah dan kampung pinggir, sudah betul-betul menggambarkan perkampungan dimaksud? Ini juga PR besar!
Ketiga, sarana dan prasana di dalam, sekitar dan lingkungan perkampungan budaya Setu Babakan, juga harus dibenahi. Jalan-jalan yang sempit dan akses transportasi yang terbatas, ini juga PR tersendiri.
Keempat, perlu penguatan regulasi kawasan/perkampungan budaya betawi Setu Babakan. Sekarang ini terdapat lebih 60 kluster perumahan yang berada di sekitar perkampungan budaya Betawi, yang secara fisik belum sejalan dengan perkampungan budaya Betawi. Keberadaan klaster perumahan ini dapat dibilang mengancam keberadaan Setu Babakan.
Karena itu, diperlukan political will yang kuat dari Pemprov DKI Jakarta, untuk menjaga dan mengoptimalkan fungsi PBB Setu Babakan, bukan hanya menjadi “museum” Betawi, tapi harus menjadi laboratorium upaya pelestarian, pembinaan, dan pengembangan budaya Betawi.
Ini PR besar yg harus dijawab seluruh pemangku kepentingan Setu Babakan, termasuk masyarakat Betawi. Apalagi Jakarta tahun depan genap berusia lima abad (500 tahun).
Selamat milad Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, masa depanmu adalah masa depan Betawi dan masa depan Jakarta!












