Kabarbetawi id, Jakarta — Dr. Hj. Syifa Fauzia, M.Arts kembali dipercaya memimpin Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) untuk periode 2026–2031. Syifa terpilih secara aklamasi dalam Muktamar ke-X BKMT yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 24–26 September 2026.
Estafet kepemimpinan tersebut kemudian ditandai dengan pelantikan jajaran pengurus BKMT periode 2026–2031 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Pelantikan dilakukan Ketua Dewan Pembina BKMT Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH., LL.M. Momentum tersebut menjadi bagian dari Puncak Tasyakur Milad ke-45 BKMT yang mengusung tema “Berdayakan Umat, Membangun Indonesia” dan dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah.
Dalam kesempatan itu, Dailami menitipkan tiga pesan kepada jajaran pengurus baru sebagai bekal menjalankan amanah organisasi selama lima tahun ke depan.

Pesan pertama, menjaga keikhlasan dalam berdakwah. Menurut Dailami, aktivitas dakwah harus tetap berangkat dari semangat pengabdian, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kedua, pengurus BKMT diminta terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Perubahan sosial yang berlangsung cepat menuntut organisasi dan para pengurusnya terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan dalam menjalankan amanah.
Pesan ketiga adalah menjaga persatuan dan saling menguatkan. Dailami mengingatkan seluruh jajaran BKMT agar merawat kebersamaan sehingga organisasi tetap solid dalam menjalankan misi dakwah sekaligus pemberdayaan masyarakat.
“Jaga keikhlasan dalam berdakwah, terus belajar, serta rawat persatuan dan saling menguatkan,” pesan Dailami.
BKMT Harus Membaca Masa Depan
Syifa Fauzia dalam sambutannya menegaskan, BKMT bukan sekadar organisasi yang memiliki jaringan luas. Sejak didirikan pada 1 Januari 1981 di Jakarta oleh almarhumah Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah, AS, BKMT berkembang menjadi organisasi nasional yang kini menjangkau 35 provinsi.
Bagi Syifa, luasnya jaringan tersebut merupakan modal sosial yang tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat.
“BKMT adalah gerakan hati,” ujar Syifa.
Karena itu, ia menilai BKMT tidak boleh hanya bertumpu pada pola gerakan masa lalu. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi mengharuskan organisasi mampu membaca tantangan sekaligus peluang yang muncul di masa depan.
“BKMT harus mau membaca masa depan,” tegasnya.

Kepemimpinan Syifa pada periode 2026–2031 pun menghadapi tantangan untuk menjaga kesinambungan jaringan dakwah yang telah dibangun selama puluhan tahun, sekaligus memperluas kontribusi BKMT dalam bidang pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi
Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut menilai perjalanan 45 tahun BKMT menunjukkan besarnya potensi organisasi dalam pemberdayaan masyarakat.
Ia mendorong penguatan ekonomi umat melalui gerakan koperasi yang berlandaskan kebersamaan dan gotong royong. Salah satunya melalui pengembangan koperasi berbasis masjid.
Menurut Ferry, jaringan majelis taklim yang mengakar di tengah masyarakat dapat menjadi kekuatan sosial dalam membangun kemandirian ekonomi.
“Kita akan melaksanakan dakwah ekonomi,” ujarnya.
Pemerintah, kata dia, terbuka untuk memperkuat sinergi dengan BKMT dan berbagai pihak dalam mendorong ekonomi masyarakat, sehingga aktivitas dakwah tidak hanya memberikan penguatan keagamaan, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan umat.
Sementara itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan melihat perjalanan BKMT masih panjang. Ia menilai organisasi tersebut memiliki ruang luas untuk terus berkembang dan memperkuat kontribusinya dalam kehidupan masyarakat.
“BKMT membuat pilar-pilar dakwah menjadi kuat,” kata Anies.
Fadli Zon Dorong Penguatan Seni dan Budaya Islam
Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut memberikan perhatian pada penguatan seni dan budaya Islam dalam kehidupan kebudayaan Indonesia.
Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang luar biasa. Dalam perjalanan sejarah Nusantara, ekspresi seni dan budaya Islam juga telah menjadi bagian dari perkembangan peradaban Indonesia.
Karena itu, ia mendorong penguatan seni dan budaya Islam sekaligus pemberdayaan umat dalam kerangka pemajuan kebudayaan nasional.

“Berdayakan Umat, Membangun Indonesia” menjadi tema yang dinilai relevan dengan arah tersebut, terutama karena BKMT kini tidak hanya bergerak dalam dakwah dan pendidikan keislaman, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Puncak Tasyakur Milad ke-45 BKMT di Indonesia Arena merupakan rangkaian kegiatan yang sebelumnya diisi Muktamar ke-X serta BKMT Festival. Festival tersebut menampilkan berbagai kegiatan dan lomba untuk menggali potensi anggota BKMT dari berbagai daerah, termasuk khazanah seni dan budaya Islam Nusantara.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peluncuran buku “Selendang Pengabdian: Perjalanan Merajut Nilai BKMT di Seluruh Indonesia”, yang mendokumentasikan perjalanan pengabdian BKMT di berbagai daerah.
Dengan terpilihnya kembali Syifa Fauzia, BKMT memasuki periode kepemimpinan baru. Tantangannya bukan hanya menjaga keberlanjutan organisasi yang telah berusia 45 tahun, tetapi juga memastikan gerakan dakwah tetap relevan dengan perubahan zaman, sekaligus semakin nyata dalam pendidikan, kehidupan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.












