KabarBetawi.id, Jakarta – Pencanangan “Mei Bulan Ismail Marzuki” dilakukan di Jakarta, tepat satu hari setelah hari kelahiran sang pahlwan yang ke-112, Selasa (12/5), di Kantor Pusat MURI/Jaya Suprana Institute, Jakarta Timur.
Ismail Marzuki lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan meninggal pada 25 Mei 1958 di Kampung Tenabang. Acara ini gagasan dari Chairil Gibran Ramadhan (CGR), sastrawan dan budayawan Betawi.
Acara yang digelar dalam bentuk konferensi pers ini menampilkan pembicara Neno Warisman (Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI), Jaya Suprana (Pendiri MURI dan Jaya Suprana Institute), dan CGR sendiri (Pendiri Betawi Institute).
Chairil Gibran Ramadhan menjelaskan, ada dua hal penting yang menjadi maksud dan tujuan acara ini, yakni mendorong pemerintah secara informal menetapkan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki, dan mendorong pemerintah untuk mendukung penuh pembuatan biopic Ismail Marzuki berdasarkan skenario riset karyanya sendiri.
Pada acara ini, ditampilkan sampul buku dari skenario yang dibukukan sejak 2020, namun tidak pernah dipublikasikan. Skenario yang dikerjakan periode 2011-2017 atas bantuan Enison Sinaro dan Laora Arkeman sebagai supervisor tersebut, akan diluncurkan berbarengan dengan biopic Ismail Marzuki.
“Skenario ini pada 2018 mendapat restu dan hak penulisan dari Rachmi Aziah, anak tunggal Ismail Marzuki, dan beliau juga turut menjadi narasumber penulisannya,” ujar CGR dalam siaran pers.
Proyek biopic ini diharapkan mendapat dukungan dari Kemenbud RI sehingga perjalanan hidup Sang Komponis Pejuang yang juga Pahlawan Nasional, ditetapkan pada 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama Ismail Marzuki juga diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki di Cikini oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1968.
CGR sangat berharap biopic Ismail Marzuki akan diproduksi oleh PPFN dan Padasan Pictures.
Acara ini terselenggara atas bantuan penuh Jaya Suprana, pengagum Ismail Marzuki. Jaya, secara khusus, memainkan sebanyak 14 lagu karya Ismail Marzuki ddalam album “Suita Marzukiana” (Virgo Music, 2014).
Neno Warisman, Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI, menyatakan komitmen pemerintah terhadap pengembangan kebudayaan nasional yang berbasis pada warisan tokoh-tokoh besar bangsa.
“Peran Neno sangat krusial karena ia berada di titik temu antara gagasan kultural dan kebijakan negara,” ungkap Jaya Suprana.

Artis Abadi
Menurut CGR, Ismail Marzuki adalah komponis nasional satu-satunya yang berhasil mencatatkan dalam lagu setiap titik sejarah Revolusi Indonesia, sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Lewat beberapa karyanya, seperti lagu Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka.
Lagu-lagu ini tidak hanya mampu menguatkan kecintaan pada Indonesia sebagai bentuk nasionalisme. Namun, juga membuat kita menitikkan air mata untuk negeri yang kini berantakan. Sisi romantis Ismail Marzuki terlihat dalam Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, Payung Fantasi, dan lainnya. Adapun lagu karyanya yang mencatat dengan baik sejarah sosial terkait Islam di Betawi adalah Selamat Hari Lebaran, yang abadi hingga hari ini.
Majalah Rolling Stone Indonesia pada 2008 menobatkan Ismail Marzuki sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.
CGR berharap konferensi pers ini tidak hanya menjadi ruang publikasi, tapi juga momentum konsolidasi antara pelaku budaya dan pemerintah. Pencanangan Mei Bulan Ismail Marzuki akan menjadi gerakan bersama dalam merawat ingatan kolektif bangsa melalui karya seni dan budaya.
Di tengah maraknya persoalan nasionalisme dan patriotisme, serta demi menghormati jejak karya Ismail Marzuki, tentunya kisah hidup sang Pahlawan Nasional sangat diperlukan. Namun apa dinyana, Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) yang sudah menyatakan kesediaan untuk memproduksi hingga tahun ini belum juga bergerak dengan alasan ketiadaan dana.
Iwan Piliang dari PPFN mengakui, naskah yang ditulis CGR merupakan naskah matang dan tinggal diproduksi. Dalam skenario tersebut, CGR menampilkan kehidupan sang komponis pejuang melingkupi kelahiran, perjalanan kehidupan asmara, penyiptaan lagu dan karir bermusik, Nasionalisme sebagai seorang seniman, hingga kematiannya yang indah, dengan dihiasi lagu-lagu karyanya, seakan Ismail Marzuki tahu bahwa kisah hidupnya akan difilmkan dengan bertabur lagu-lagunya.












