Dari Gowes ke Silaturahmi, Bamboo Bikers Community Tetap Solid 36 Tahun Menjaga Persaudaraan

Kabarbetawi.id, Jakarta — Di tengah menjamurnya komunitas modern berbasis tren sesaat, Bamboo Bikers Community (BBC) justru membuktikan bahwa sebuah komunitas sederhana bisa bertahan puluhan tahun karena dibangun atas dasar persahabatan dan kepedulian.

Minggu (10/5/2026), para anggota BBC berkumpul hangat di Pesisir Resto, Srengseng, Jakarta Barat, untuk memperingati hari lahir komunitas sepeda tersebut yang telah memasuki usia ke-36 tahun.

Suasana penuh kekeluargaan terasa sejak pagi, saat para anggota lintas generasi saling bercengkerama dan mengenang perjalanan panjang komunitas yang berdiri sejak 10 Mei 1990 itu.

Tim Bamboo Bikers Community (BBC) usai melaksanakan pertemuan di Pesisir Resto, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

BBC berawal dari kumpulan warga Jatipulo, Kota Bambu, dan Tomang yang memiliki kesamaan hobi bersepeda. Namun lebih dari sekadar olahraga, komunitas ini sejak awal dibangun sebagai ruang silaturahmi dan kebersamaan.

Ketua BBC, H. Muhammad Nuh, mengatakan semangat utama komunitas ini bukan soal kompetisi, melainkan menjaga kesehatan dan persaudaraan.

“Dari dulu tujuan kami sederhana, cari sehat bareng-bareng sambil menjaga silaturahmi. Bukan komunitas yang mengejar lomba, tapi lebih ke kebersamaan karena hobi,” ujarnya.

Saat ini BBC memiliki hampir 30 anggota dengan rentang usia yang cukup beragam.

Supeno (71) menjadi anggota tertua yang masih aktif mengikuti kegiatan gowes, sementara Sabri (40) tercatat sebagai anggota termuda.
Rute bersepeda mereka pun cukup ikonik, mulai dari Kota Tua, Monas, hingga kawasan Semanggi.

Kebersamaan dan solidaritas dalam menjaga persatuan adalah kunci langgengnya BBC Community.

Kehadiran Car Free Day setiap Minggu membuat aktivitas gowes semakin rutin dilakukan bersama.

Tak hanya bersepeda, BBC juga rutin menggelar arisan bulanan yang dilaksanakan bergiliran di rumah para anggota. Tradisi sederhana itu menjadi cara mereka menjaga kedekatan di tengah kesibukan masing-masing.

Di balik perjalanan panjang BBC, tersimpan sosok penting yang tak pernah dilupakan para anggota, yakni almarhum H. Eddy dan almarhum H. Usni, jamaah Masjid Al Mabad, yang menjadi pendiri awal komunitas tersebut.

Para anggota mengenang keduanya sebagai figur yang tidak hanya membangun komunitas, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

“Dulu ada anggota yang belum punya sepeda, dibelikan dulu lalu dicicil pelan-pelan. Jadi memang rasa persaudaraannya kuat sekali sejak awal,” kenang salah satu anggota.

Nilai gotong royong itulah yang membuat BBC mampu bertahan hingga lebih dari tiga dekade. Di usia ke-36 tahun, komunitas ini bukan sekadar tempat berkumpul para penghobi sepeda, melainkan juga rumah kedua bagi para anggotanya.

“Semoga BBC terus langgeng, tetap menjadi wadah silaturahmi dan menjaga kesehatan dan persatuan bersama di Kota Bambu,” tutup H. Muhammad Nuh.