“Betawi Tinggal Pajangan? Pengakuan Anak Betawi di Jepang Ini Bongkar Ancaman Hilangnya Jiwa Jakarta”

Kabarbetawi.id, Jakarta – Identitas Betawi dinilai semakin sering ditampilkan di ruang publik, namun justru semakin jarang dihidupkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Fenomena ini disoroti oleh Dr. Eng. Ismail, seorang putra Betawi, kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, yang kini bekerja di Jepang sebagai inspektur di International Atomic Energy Agency.

Dalam pandangannya, Betawi hari ini menghadapi ironi: hadir sebagai simbol, tetapi absen sebagai nilai yang membentuk arah kehidupan kota.

“Ondel-ondel masih menari, kerak telor masih dijajakan, tapi apakah itu cukup untuk mengatakan Betawi masih hidup?” ujarnya.

Dr. Eng. Ismail, anak Betawi yang kini bekerja di Jepang sebagai inspektur di International Atomic Energy Agency.

Ia menilai pendekatan terhadap budaya Betawi saat ini cenderung berhenti pada tampilan visual yang mudah dikenali, tanpa diiringi pemahaman terhadap makna dan nilai yang melandasinya.

Kondisi ini disebutnya sebagai bentuk “folklorisasi”, di mana budaya direduksi menjadi simbol yang estetis dan konsumtif.

“Generasi muda mungkin dekat secara visual dengan Betawi, tapi jauh secara nilai. Ini yang berbahaya,” katanya.

Seremonial Tanpa Substansi

Ismail juga mengkritik kebijakan yang lebih menekankan perayaan seremonial dibandingkan internalisasi nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tanpa keberlanjutan praktik, budaya akan kehilangan fungsi sebagai sumber nilai sosial.
“Budaya bukan sekadar dipentaskan, tapi harus hidup dalam cara berpikir dan bertindak masyarakat,” tegasnya.

Padahal secara historis, Betawi lahir dari perjumpaan berbagai etnis dan tradisi yang membentuk karakter kosmopolitan yang inklusif.

Nilai ini dinilai sangat relevan bagi Jakarta saat ini yang menghadapi tantangan fragmentasi sosial akibat urbanisasi.

Betawi Terpinggirkan di Tanah Sendiri

Namun di sisi lain, Ismail menyoroti realitas yang lebih kompleks: masyarakat Betawi justru semakin kehilangan ruang hidupnya di Jakarta.

Tekanan urbanisasi, kenaikan harga tanah, hingga ekspansi pembangunan disebut telah mendorong komunitas Betawi keluar dari wilayah historisnya. Akibatnya, bukan hanya ruang fisik yang hilang, tetapi juga ekosistem budaya tempat nilai-nilai diwariskan secara alami.

“Kampung Betawi sekarang banyak yang berubah. Ada yang jadi kawasan komersial, ada juga yang dijadikan destinasi wisata, tapi kehilangan kehidupan aslinya,” jelasnya.

Kondisi ini turut berdampak pada generasi muda Betawi yang menghadapi dilema antara tuntutan modernitas dan keterbatasan ruang untuk menghidupkan identitasnya.

Saatnya Betawi Jadi Subjek, Bukan Objek

Ismail menegaskan, solusi tidak cukup dengan pelestarian simbolik, tetapi perlu transformasi mendasar. Ia mendorong agar Betawi diposisikan sebagai “subjek peradaban”, bukan sekadar objek budaya.

Salah satu langkah penting adalah reorientasi kebijakan budaya, dari festival seremonial menuju integrasi nilai dalam tata kelola kota.

Nilai inklusivitas Betawi, misalnya, dapat diwujudkan dalam pembangunan ruang publik yang benar-benar terbuka dan egaliter.

Dr. Eng. Ismail, (kemeja batik) bersama rekan kerjanya di Jepang.

Selain itu, revitalisasi kampung Betawi perlu diarahkan sebagai ekosistem budaya hidup, bukan sekadar objek wisata. Generasi muda juga harus didorong untuk menafsirkan ulang Betawi melalui medium kekinian seperti musik, film, hingga konten digital.

“Betawi harus relevan dengan zamannya. Kalau tidak, dia akan ditinggalkan,” ujarnya.

Jakarta dan Pertaruhan Identitas

Lebih jauh, Ismail mengingatkan bahwa Jakarta tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga fondasi nilai yang kuat untuk menjaga kohesi sosial.
Menurutnya, Betawi memiliki potensi besar sebagai sumber nilai tersebut, mulai dari inklusivitas, keterbukaan sosial, hingga keseimbangan religiusitas yang moderat.

“Jakarta harus berani membangun narasinya sendiri, bukan sekadar meniru kota global lain,” katanya.

Di akhir pernyataannya, ia mengajukan pertanyaan mendasar: apakah Betawi masih menjadi identitas yang membentuk Jakarta, atau hanya sekadar dekorasi?

“Kalau Betawi hanya jadi pajangan, Jakarta mungkin tetap maju secara fisik, tapi kehilangan jiwanya,” pungkasnya.