oleh: Abdul Azis Khafia
KabarBetawi.id, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja menggelar acara Haul Ulama dan Tokoh Betawi 2026 di Monas, Jumat malam (19/6/2026). Sebagai bagian acara memperingati Hari Ulang Tahun Jakarta ke-499 sekaligus menyongsong Lima Abad Jakarta.
Sebagai masyarakat Betawi kita patut mengpresiasi inisiasi pemerintah daerah tersebut sebagai upaya mengingatkan dan menghargai jasa para ulama dan pejuang dari Betawi. Namun, perlu juga kiranya kita memberikan catatan kritis tentang pelaksanaan tersebut, sebagai upaya menapaki sejarah kebetawian pada jalur semestinya agar kite gak kesasar.
Jakarta yang kita kenal hari ini, memiliki sejarah panjang. Mulai dari Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia hingga menjadi Jakarta. Penetapan momen 22 juni 1697 sebagai hari lahir Jakarta merupakan sebuah inisiasi yang patut kita hargai, sebagai penanda momentum perjuangan baik peringatan para pejuang maupun lokasi (wilayah).
Perlu diingat bahwa, kota ini sebelum berproses menjadi Jakarta, telah ada dan dihuni oleh kaum yang disebut sebagai “Betawi”, betawi sebagai wilayah maupun sebagai orang (etnik). Sebagai nama wilayah yang mashur (sudah dikenal) sejak masa kerajaan, ia sudah dikenal sebagai “Betawi nagari darul aman”, “Betawi Darul Masyhur” catatan tersebut dapat dilihat pada korespondensi Kesultanan Malaka dan Kesultanan Riau Lingga dan lain-lain pada masa Sriwijaya.
Masyarakatnya pun sudah dikenal sebagai masyarakat Betawi, meski Lance Castles mengemukakan bahwa etnik Betawi muncul pada era 1930-an, sebagai artikel kita hormati, meski artikel tersebut masih sangat prematur dan memicu perdebatan. Sebab jauh sebelum Portugis, Belanda dan lainnya datang ke Betawi, wilayah ini sudah berpenghuni dan memilki peradaban cukup maju saat itu.
Ulasan lebih lanjut dapat dibaca pada tulisan saya lebih lengkap (tentang asal usul orang betawi). Secara singkat yang ingin saya tekankan adalah “Betawi” sebagai wilayah dan sebagai etnik telah ada jauh sebelum orang luar (penjajah) datang ke Betawi (Jakarta).
Jakarta, Kota Para Wali
Jakarta menjadi salah satu destinasi wisata rohani yang ada di Indonesia. Salah satu sebabnya, karena banyaknya jejak para wali di Betawi. Mulai dari yang mashur (terkenal) dan mastur (tersembunyi).
Yang mashur adalah Syekh Quro (Maulana Hasanudin, Krawang), Kramat Luar Batang (Habib Abubakar Al Idrus), Mu’alim Teko, dan lain-lainya.
Sedangkan yang tersembunyi, antara lain Syeikh Sulaeman Barzakh, yang jumlahnya mencapai ratusan. Singkatnya Jakarta dihuni oleh para wali yang menjadi “paku-nya Jakarta” sejak zaman dulu hingga saat ini.
Pada abad 19, ada Imam Masjidil Haram yang pertama dari Nusantara, yakni Syeikh Junaid Al Batawi asal Pekojan. Banyak tuan-tuan guru Betawi yang belajar dan mukim di Tanah Haram (Mekkah), antara lain Syeikh Abdurahman Misri al Batawi, Syeikh Mujtaba, Guru Marzuki bin Mirshod, Guru Mughni, Guru Mahmud, Guru Khalid, Guru Amin, Guru Mansur, Guru Madjid.
Fase berikutnya adaKiayi Noer Ali, Kiyai Muhajrin Amsar Ad dary, Kiyai Rahmatullah Sidiq, Kiyai Abdullah Syafii, dan lain-lain.
Memasuki abad 20, kita mengenal mualim Kiyai Syafii Hadzami, Mu’allim Bunyamin Muhammad, Kiyai Saefudin Amsir, Abuya Kiyai Abdurahman Nawi, dan lain-lain. Mereka adalah ulama Betawi yang saya menyebutnya sebagai Al Batawi (ulama ashab Betawi) yang kiprah dan warisan intelektualnya masih menyabar di Jakarta dan sekitarnya.

Jakarta, Kota Pejuang
Jakarta bukan hanya sebagai ibu kota negara, tapi juga kota global yang eksis, juga salah satu jalur perdagangan internasional pada masa kerajaan.
Para pejuang Betawi yang memiliki kiprah perjuangan baik sebelum maupun pasca revolusi, antara lain MH Thamrin, Ismail Marzuki, Moeffreni Moe’min, Rohjani Soe’oed, Saleh Ishak, Abdurahman Saleh, Imam Syafi’i, Entong Gendut, Haji Darip, dan lain-lain.
Tanah Betawi adalah tanah keramat dan perjuangan, karena mengenang dan mendoakan para ulama dan tokoh Betawi dengan acara haul, haruslah tepat sasaran dalam pengenalannya kepada masyarakat Jakarta sekaligus penghormatan kepada ashab Al Batawi secara benar, benar secara historis dan nilai Kebetawian tentunya.
Harapan saya, acara Haul Ulama dan Tokoh betawi menjadi sebuah jalan melawan lupa, pelurusan sejarah sekaligus ikhtiar meneladani ulama dan pejuang Betawi.
Ketersambungan ulama Betawi dapat kita lihat hari ini, ada pada sosok Kiyai Mualana Kamal Yusuf, Kiyai Mahfudz Asyirun, Kiyai Soleh Rahmani, Kiyai Muhidin Ishak, Kiyai Yusuf Aman, dan para kiyai Betawi lainnya, pada merekalah sanad keulamaan Betawi maaih terjaga hingga hari ini.
Ssdangkan, sosok pewaris MH Thamrin dan pejuang Betawi dapat kita lihat pada sosok Fauzi Bowo, Nachrowi Ramli, Hasbullah Thabrani, Nuri Taher, Rusdi Saleh, Sylviana Murni, dan sebagainya yang hari ini masih berkiprah mengerek bendera Betawi di bidangnya masing-masing.












