Di Balik Kursi Roda, Ada Langkah Cinta Seorang Ibu Mengantar Mimpi Putrinya

Kabarbetawi.id, Jakarta – Suasana Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, Minggu (28/6/2026) sore, begitu semarak. Ratusan peserta, orang tua, dan pendukung memadati lokasi malam final Pemilihan Abang None Cilik 2026. Tepuk tangan, sorak sorai, dan lantunan musik bercampur menjadi satu, memenuhi setiap sudut kawasan bersejarah itu.

Di tengah lautan manusia, tampak seorang perempuan duduk di atas kursi roda. Wajahnya memancarkan senyum yang tak pernah lepas, matanya terus mengikuti setiap gerak putrinya di atas panggung. Sesekali ia bertepuk tangan, memberi semangat tanpa henti.

Perempuan itu adalah Misi Utami, ibu dari Mendhayu Alunan Surga (13), finalis Abang None Cilik 2026 Kategori C, usia 13 – 16 tahun.

Mendhayu Alunan Surga (kiri) saat menjawab beberapa pertanyaan dewan juri.

Kondisi fisiknya yang membuatnya harus menggunakan kursi roda tak pernah menjadi alasan untuk berhenti mendampingi sang buah hati. Sejak proses audisi di Plaza Kalibata, Jakarta Selatan, hingga malam puncak di Pasar Seni Ancol, Misi selalu hadir di sisi putrinya.

Perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Di setiap tahapan kompetisi, ia harus melewati keramaian, berdesak-desakan dengan ratusan pendukung peserta lain, bahkan mencari ruang agar tetap bisa menyaksikan penampilan Mendhayu dari dekat. Namun semua itu ia jalani dengan penuh keikhlasan.

Baginya, melihat putrinya berani tampil, percaya diri, dan terus berkembang jauh lebih berharga daripada rasa lelah yang harus ia rasakan.

Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar manis

Nama Mendhayu Alunan Surga diumumkan sebagai Juara Harapan II Kategori C. Dari kursi rodanya, Misi tersenyum haru. Tepuk tangan yang ia berikan menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.

“Alhamdulillah anak saya bisa meraih Juara Harapan II. Mudah-mudahan tahun depan dia bisa belajar lebih giat lagi mendalami sejarah budaya Betawi dan semakin lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Tadi dia menjawab pertanyaan para juri menggunakan bahasa Inggris, artinya dia juga menunjukkan bakat lainnya. Kalau soal kecintaannya, sudah pasti pada budaya Betawi, bahasa Betawi, dan tentunya sejarah Betawi,” ujarnya penuh rasa syukur.

Mendhayu Alunan Surga berhasil menjadi juara harapan 2 None Cilik 2026 kategori C usia 13-16 tahun.

Mendhayu yang kini duduk di bangku SMP Islam Tugasku, Pulomas, Jakarta Timur, memang tumbuh dalam keluarga Betawi yang memegang teguh nilai agama dan budaya.

Tumbuh dalam lingkungan dan keluarga Betawi yang menetap dikawasan Marunda, Jakarta Utara, lingkungan ini yang turut membentuk kecintaan Mendhayu terhadap budaya Betawi sejak kecil, bahkan tadi Mendhayu sempat menceritakan tentang rumah petilasan si Pitung, yang memang berlokasi tidak begitu jauh dari rumahnya.

Bagi Misi, pendidikan bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga tentang membangun akhlak.

“Sebagai orang Betawi, tentunya kita selalu mengarahkan pendidikan yang mengarah ke agama. Orang tua kita dulu juga mengajarkan seperti itu. Mau sehebat apa pun, setinggi apa pun sekolahnya, salat sama ngaji jangan sampai lupa. Adab dan akhlak juga harus baik,” tuturnya.

Mendhayu Alunan Surga, (kiri) saat menunggu hasil pengumuman pemenang para dewan juri

Kemampuan berbahasa Inggris yang ditunjukkan Mendhayu saat sesi tanya jawab di malam final pun bukan hasil kursus mahal. Sang ibu mengatakan putrinya belajar secara mandiri. Pelajaran di sekolah menjadi bekal utama, sementara selebihnya ia pelajari sendiri karena rasa ingin tahu yang besar.

Di luar kegiatannya belajar, Mendhayu juga memiliki hobi digital painting atau melukis digital. Kreativitas itu menjadi ruang bagi dirinya untuk terus berkarya sekaligus mengekspresikan imajinasi.

Namun, lebih dari sekadar piala dan gelar juara, malam itu menghadirkan sebuah pelajaran tentang kasih sayang seorang ibu.

Seorang ibu yang mungkin langkahnya kini terbatas, tetapi cintanya tak pernah memiliki batas.

Kursi roda tidak pernah menghalangi Misi Utami untuk terus mengantar mimpi putrinya. Ia rela menembus kerumunan, menahan lelah, dan menghabiskan waktu sejak audisi hingga malam final demi memastikan sang anak merasa didukung dalam setiap langkahnya.

Ribuan penonton yang memadati panggung Abnon cilik, mereka merupakan suporter yang di bawa oleh para keluarga peserta Abnon cilik.

Sebab bagi seorang ibu, kebahagiaan terbesar bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan melihat senyum anak yang berhasil menggapai mimpinya.

Di balik sorotan lampu panggung Abang None Cilik 2026, tersimpan kisah sederhana yang begitu menyentuh: tentang cinta yang tak mengenal batas, tentang pengorbanan yang tak meminta balasan, dan tentang seorang ibu yang membuktikan bahwa kasih sayang selalu mampu berjalan lebih jauh daripada keterbatasan fisik.