Kabarbetawi.id, Jakarta – Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) menilai warisan terbesar Ali Sadikin bukan semata pembangunan fisik Ibu Kota, melainkan keberaniannya menempatkan kebudayaan sebagai hak publik yang wajib dijamin negara. Cara pandang itulah, menurut Foke, yang membuat Jakarta mampu tumbuh sebagai kota modern tanpa kehilangan identitas budayanya.
Hal itu disampaikan Foke saat menjadi pembicara dalam Memorial Lecture penutup rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026.
Menurut Foke, sejak memimpin Jakarta pada 1968, Ali Sadikin telah memandang kebudayaan sebagai public good atau barang publik yang kedudukannya sejajar dengan layanan pendidikan dan kesehatan.
“Kebudayaan adalah barang publik. Tidak harus mendatangkan keuntungan, tetapi wajib ada,” kata Foke, Selasa (14/7/2026).
Prinsip tersebut diwujudkan melalui pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta. Foke menceritakan, gagasan mendirikan TIM lahir dari kegelisahan Ali Sadikin melihat para seniman kehilangan ruang berkumpul setelah kawasan Senen tidak lagi menjadi pusat aktivitas seni.
Dari situlah, Ali Sadikin memutuskan membangun ruang kreativitas di bekas Kebun Binatang Cikini yang kemudian berkembang menjadi Taman Ismail Marzuki. Menurut Foke, Bang Ali meyakini tugas pemerintah adalah menyediakan ruang dan ekosistem bagi seniman, bukan mencampuri proses kreatif mereka.
“Pemerintah tidak boleh ikut campur. Biarkan seniman merdeka dalam mencipta,” ujar Foke mengenang pesan Ali Sadikin.
Karena itu, lanjut Foke, TIM bukan sekadar kompleks gedung pertunjukan, melainkan simbol keberpihakan pemerintah terhadap kebebasan berekspresi dan pembangunan ekosistem kebudayaan.
Perhatian Besar pada Budaya Betawi
Selain membangun ruang kesenian, Foke menilai Ali Sadikin memiliki jasa besar dalam menyelamatkan kebudayaan Betawi. Pada masa itu, kata dia, belum banyak pemimpin yang memberikan perhatian serius terhadap pelestarian budaya masyarakat asli Jakarta.
“Pada saat itu boleh dikatakan sangat minim yang memberikan perhatian besar terhadap kebudayaan Betawi, apalagi dari pimpinan-pimpinan puncak Republik ini,” ujarnya.
Menurut Foke, salah satu langkah paling penting yang dilakukan Ali Sadikin adalah menginisiasi berdirinya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Kebijakan tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga eksistensi budaya Betawi di tengah derasnya arus modernisasi Jakarta.
“Saya gembira Bang Ali hadir mengambil inisiatif mendirikan Lembaga Kebudayaan Betawi. Dengan panduan dan kepemimpinan beliau, ditambah meningkatnya kesadaran masyarakat Betawi terhadap budayanya sendiri, budaya Betawi tetap bisa tumbuh dan berkembang di Jakarta yang terus berubah,” tuturnya.
Tak hanya itu, Ali Sadikin juga memberi ruang bagi berkembangnya media-media kebudayaan. Pemerintah memberikan dukungan, tetapi tetap menjaga independensi para pelaku budaya.
“Bang Ali selalu berpesan, serahkan kepada mereka. Jangan pemerintah ikut campur,” kata Foke.
Pemimpin yang Berpikir Melampaui Zamannya
Bagi Foke, Ali Sadikin merupakan sosok pemimpin visioner yang berpikir jauh melampaui masanya. Selain membangun sektor kebudayaan, Bang Ali juga menjadi pelopor penggunaan komputer di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969 serta menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
“Kalau beliau sudah yakin dengan suatu gagasan, beliau akan mempertahankannya secara konsisten,” kenangnya.
Foke juga mengusulkan agar Memorial Lecture Ali Sadikin dijadikan agenda tahunan sebagai bagian dari perjalanan Jakarta menuju usia lima abad.
Kritik Pameran 100 Tahun Ali Sadikin
Menutup paparannya, Foke menyampaikan kritik yang ia sebut sebagai kritik membangun terhadap penyelenggaraan pameran dokumentasi 100 Tahun Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki. Ia menilai pameran tersebut belum mencerminkan besarnya jasa Ali Sadikin dalam membangun Jakarta.

Menurutnya, sosok sebesar Ali Sadikin semestinya dikenang melalui pameran dokumentasi yang jauh lebih lengkap, representatif, dan berkualitas. Jika arsip di dalam negeri belum memadai, pencarian dokumen sejarah seharusnya dilakukan hingga ke luar negeri agar perjalanan kepemimpinan Bang Ali dapat ditampilkan secara utuh.
“Saya menyampaikan ini untuk kebaikan kita ke depan,” ujar Foke, sembari menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Ali Sadikin.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengusulkan agar Ali Sadikin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Apabila usulan tersebut disetujui pemerintah, Foke berharap dapat digelar pameran dokumentasi akbar di Balai Kota Jakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar Ali Sadikin.
“Pameran itu bukan sekadar milik panitia, tetapi menjadi apresiasi seluruh masyarakat Jakarta kepada pemimpin yang telah meletakkan fondasi pembangunan kota ini,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Foke berharap penghargaan terhadap sejarah dan tokoh-tokoh yang berjasa bagi Jakarta terus diperkuat. Menurutnya, semakin besar penghormatan terhadap perjalanan sejarah Jakarta, semakin besar pula penghargaan kepada para tokoh yang telah membangun fondasi ibu kota.
“Bagi saya, sampai hari ini tidak ada simbol yang lebih kuat menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki,” tutupnya.












