Revitalisasi Bahasa Betawi Masuk Tahun Ketiga, DKI Diminta Segera Bentuk Kantor Bahasa

Kabarbetawi.id, Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta didorong untuk memiliki Kantor Bahasa sendiri guna memperkuat pelestarian bahasa dan sastra, khususnya Bahasa Betawi sebagai identitas budaya ibu kota.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari, dalam Simposium Kebudayaan Jakarta 2026 bertema Sinergi Kerja Kebudayaan Menuju 5 Abad Jakarta: Memperkuat Bahasa, Tradisi, dan Identitas Kota di Artotel Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2026).

“Kami mendorong agar pemerintah daerah merekomendasikan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk membentuk Kantor Bahasa Provinsi DKI Jakarta,” kata Devyanti.

Saat ini, kata dia, Jakarta belum memiliki Kantor Bahasa sendiri. Berdasarkan Permendikbudristek Nomor 47 Tahun 2024, wilayah kerja Kantor Bahasa Provinsi Banten masih mencakup Provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Menurut Devyanti, kondisi tersebut membuat beban kerja dan operasional menjadi cukup besar. Apalagi saat ini pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran.

“Kami melaksanakan program kebahasaan dan kesastraan di Provinsi Banten dan DKI Jakarta. Mobilitas ke Jakarta juga cukup tinggi sehingga menjadi salah satu tantangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, revitalisasi Bahasa Betawi menjadi salah satu program prioritas Kantor Bahasa Provinsi Banten dan kini telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Program itu dijalankan bersama Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, akademisi, pakar, hingga komunitas.

Menurut Devyanti, pelestarian Bahasa Betawi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Komunitas dan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga agar bahasa daerah tetap digunakan.

“Komunitas berperan penting. Ketika sekolah mengajarkan Bahasa Betawi, komunitas yang menghidupkannya. Bahasa itu bisa hidup dari komunitas,” katanya.

Ia juga menilai keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk mengenal dan menggunakan Bahasa Betawi dalam kehidupan sehari-hari.

Devyanti menegaskan bahasa daerah akan tetap bertahan jika digunakan, diwariskan, dan dihargai oleh masyarakat. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, media, hingga industri kreatif.

“Bahasa Betawi harus hadir di ruang publik, media digital, dan industri kreatif agar ekosistem pewarisannya terus berjalan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Devyanti mengungkapkan jumlah penutur Bahasa Betawi, terutama dari kalangan generasi muda, mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya karena sebagian anak muda menganggap bahasa global lebih menarik dibandingkan bahasa daerah.

Padahal, menurut dia, Bahasa Betawi merupakan identitas asli Jakarta yang dapat memperkuat karakter kota sekaligus menjadi modal budaya menuju Jakarta sebagai kota global.

Karena itu, ia berharap masyarakat memiliki kebanggaan, kesetiaan, dan kesadaran untuk terus menggunakan Bahasa Betawi dalam kehidupan sehari-hari.

“Regulasinya sudah ada. Tinggal bagaimana pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan memperkuat implementasinya agar Bahasa Betawi tetap lestari,” pungkasnya.