Kabarbetawi id, Jakarta — Berawal dari kegelisahan melihat kondisi Sungai Ciliwung yang kotor dan kawasan Cikoko yang gersang dua dekade lalu, sekelompok warga memilih turun tangan daripada sekadar mengeluh. Dari langkah sederhana menanam pohon di bantaran sungai, lahirlah Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci), sebuah gerakan lingkungan berbasis masyarakat yang kini menjadi rujukan berbagai daerah di Indonesia, berlokasi di Jalan Inspeksi Ciliwung No.1 RT.001 RW.001 Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan,
Founder sekaligus Ketua Mat Peci, Usman Firdaus, S.Kom. mengatakan komunitas yang dipimpinnya resmi berdiri pada 6 Juni 2006. Nama “Mat Peci” dipilih dengan mengambil konsep kultur Betawi, sebagai identitas masyarakat Jakarta yang sejak dahulu memiliki kedekatan dengan sungai, pepohonan, dan alam.
Menurut Usman (57), Mat Peci bukan sekadar gerakan membersihkan sungai. Sejak awal, komunitas tersebut dibangun dengan pendekatan yang menyeluruh melalui berbagai program konservasi lingkungan, ketahanan pangan, pengelolaan limbah, edukasi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, hingga pengurangan risiko bencana.

“Kami ingin membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dengan pendekatan yang mudah diterima. Bukan hanya membersihkan sungai, tetapi mengubah pola pikir masyarakat agar mau menjaga lingkungannya,” ujar Usman, anak Betawi asli saat ditemui di kawasan Ciliwung, Selasa (23/6/2026).
Usman menjelaskan seluruh kegiatan Mat Peci berlandaskan filosofi empat pendekatan utama, yaitu environment, education, empowerment, dan spiritual.
Pendekatan lingkungan dilakukan melalui rehabilitasi kawasan sungai dan penghijauan. Sementara pendekatan pendidikan diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah, konservasi, hingga pemanfaatan lingkungan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, pendekatan pemberdayaan dilakukan dengan memberikan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, mulai dari pengelolaan bank sampah, budidaya tanaman, hingga pemanfaatan hasil pertanian dan limbah.
“Kalau masyarakat hanya diajak menjaga lingkungan tanpa mendapatkan manfaat, biasanya sulit bergerak. Karena itu kami latih mereka supaya lingkungan juga memberikan nilai ekonomi maupun nilai sosial,” katanya.
Sementara pendekatan spiritual dilakukan dengan mengajak masyarakat memandang pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

“Hubungan dengan Tuhan baik, hubungan dengan sesama baik, tetapi hubungan dengan alam juga harus baik. Ketiganya harus berjalan seimbang,” ujarnya.
Selain itu, Mat Peci juga mengangkat nilai budaya Betawi dalam setiap programnya. Menurut Usman, banyak kawasan di Jakarta yang namanya berasal dari pohon maupun wilayah perairan, seperti Kemang, Menteng, dan Rawa, yang menunjukkan eratnya hubungan masyarakat Betawi dengan alam sejak dahulu.
Untuk memperkenalkan kembali hubungan tersebut, Mat Peci mengembangkan konsep Eco Edu Wisata Ciliwung. Program ini memadukan wisata, edukasi, dan konservasi sehingga masyarakat dapat belajar langsung mengenai pelestarian sungai.

Dalam setiap kunjungan, peserta diajak memahami cara memilah sampah, menanam pohon, menjaga ekosistem sungai, hingga mengenal berbagai jenis tanaman endemik dan ikan lokal.
“Kalau sungai ramai dengan kegiatan positif, orang akan berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan,” kata Usman.
Program edukasi tersebut tidak dibatasi usia. Mulai dari anak PAUD dan TK, siswa SD hingga SMA, mahasiswa, dosen, peneliti, perusahaan, komunitas, hingga pengurus RT dan RW secara rutin mengikuti berbagai kegiatan di kawasan Ciliwung.
Mat Peci bahkan memberikan pendampingan bagi mahasiswa program sarjana, magister, hingga doktor yang melakukan penelitian mengenai lingkungan.
Di luar kegiatan formal, komunitas tersebut juga membina anak-anak yang putus sekolah maupun tinggal di sekitar bantaran sungai melalui kegiatan belajar, mengaji, serta pendidikan karakter berbasis lingkungan.
Menurut Usman, pendekatan tersebut terbukti memberikan dampak nyata.
Selama hampir 20 tahun, Mat Peci telah menanam lebih dari 35.000 pohon di kawasan Ciliwung dan sekitarnya. Vegetasi yang kembali tumbuh mendorong munculnya kembali berbagai spesies burung serta ikan lokal yang sebelumnya menghilang.

Berbagai penelitian dari perguruan tinggi juga menunjukkan adanya peningkatan kualitas ekosistem Sungai Ciliwung dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Hasil penelitian itu penting supaya kami tidak hanya berbicara berdasarkan pengalaman, tetapi juga memiliki dasar akademik,” ujarnya.
Dampak lain juga dirasakan masyarakat sekitar melalui program bank sampah dan ketahanan pangan.
Melalui pelatihan pemilahan sampah, warga yang sebelumnya harus membayar iuran pengangkutan sampah kini justru memperoleh tambahan penghasilan dari hasil penjualan sampah yang telah dipilah.
Pada masa pandemi Covid-19, Mat Peci juga mengajarkan masyarakat menanam sayuran menggunakan barang bekas seperti botol plastik, gelas plastik, dan kemasan minyak goreng sebagai media tanam.
“Ketika harga cabai mahal atau masyarakat sulit keluar rumah, mereka bisa memanen sendiri dari pekarangannya,” tutur Usman.
Program Eco Edu Wisata juga ikut menggerakkan perekonomian warga. Masyarakat sekitar dilibatkan sebagai penyedia konsumsi, pemandu kegiatan, operator perahu, hingga mentor edukasi lingkungan bagi para peserta.
Tidak hanya di Jakarta, gerakan Mat Peci kini telah berkembang ke berbagai daerah.
Usman mengungkapkan pihaknya mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk melakukan pembinaan komunitas lingkungan di sejumlah wilayah, mulai dari Bekasi, Tangerang, hingga berbagai provinsi dari Aceh sampai Papua.

Menurutnya, persoalan lingkungan di berbagai daerah pada dasarnya memiliki akar masalah yang sama, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga alam.
Karena itu, saat ini Mat Peci lebih memfokuskan diri pada penguatan edukasi masyarakat, sementara pekerjaan fisik seperti pembersihan sungai telah banyak dilakukan pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan pasukan oranye.
“Tugas kami sekarang adalah membangun kesadaran masyarakat. Rumah harus mulai menghadap sungai, bukan membelakanginya. Sampah juga jangan lagi dibuang ke sungai karena masyarakat sudah harus tahu cara mengelolanya,” kata Usman.
Selama perjalanannya, Mat Peci telah menerima berbagai penghargaan dari pemerintah pusat, kementerian, perguruan tinggi, hingga Presiden Republik Indonesia. Namun, menurut Usman, penghargaan bukanlah tujuan utama.
“Bagi kami, penghargaan hanyalah bentuk apresiasi. Yang paling penting adalah bagaimana gerakan ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Usman berharap semakin banyak masyarakat, sekolah, dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan media yang terlibat dalam menjaga sungai sebagai bagian penting kehidupan.
“Kalau semua bergerak bersama, menjaga sungai bukan lagi menjadi pekerjaan satu komunitas, tetapi menjadi budaya masyarakat Indonesia,” tutupnya.












