Oleh : Azis Khafia
Kabarbetawi.id, Jakarta – Rabu tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas). Ratusan ribu manusia dari berbagai pelosok kampung memenuhi lapangan IKADA. Mereka menuntut penegasan dari para pemimpin baru mereka, pemimpin yang masih membangun fondasi republik yang baru lahir sebulan sebelumnya. Mereka tak sabar untuk mendapat kepastian ke arah mana kemerdekaan yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 akan dibawa. Peristiwa yang dikenal sebagai Rapat Raksasa Ikada itu sayangnya dalam berbagai literatur sejarah yang bermunculan kemudian hanya mencatat nama-nama pembesar macam Presiden Sukarno, Hatta, Sukarni, atau Ali Sastroamidjojo yang hadir dalam show of force pertama republik itu. Rapat Raksasa Ikada seolah hanya panggung mereka, padahal ratusan ribu kaum Betawi menjadi massa terbesar dalam rapat raksasa tersebut. Dari mana mereka datang dan siapa yang menggerakan mereka?.
Jangankan nama rakyat yang hadir dari berbagai kampung, nama Tan Malaka sebagai penggagas pun baru dibuka dalam sejarah setelah reformasi. Oleh karenanya untuk membangkitkan memori dan terutama menghormati peran ratusan ribu rakyat Betawi yang terlupakan di peristiwa itu. Kiranya Kaum Betawi perlu menoleh spion sejarah tentang kiprah dan peran kebangsaan mereka. Langkah tersebut sempat diupayakan oleh kaum betawi dan Pemda jakarta pada tahun 2018.
Tahun 2018 Gubernur Anies Baswedan bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menyelenggarakan Gelaran kolosal dengan menghadirkan 3000 pesilat Betawi dari 20 perguruan se-Jabodetabek dan puluhan reenactors (pereka ulang sejarah) dari Bekasi dan Bandung.
Tulisan ini sebagai pengingat bahwa Rapat Ikada berkaitan erat dengan peristiwa proklamasi. Tak semestinya ia hanya jadi catatan sejarah milik Bung Karno cs. Kaum Betawi dan sekitarnya, mesti mendapat tempat pada peristiwa besar tersebut.
“Bung Hatta pernah mengatakan tak mungkin kita merayakan 17 Agustus kalau tidak merayakan Rapat Ikada karena itu kepentingan seluruh rakyat. Proklamasi paling hanya dihadiri 200 orang, mayoritas golongan elit. Sedangkan Rapat Ikada 19 September itu 250 ribu orang. Mereka datang tanpa takut dan peduli melihat banyak tentara Jepang dengan senjata terisi peluru dan sangkur terhunus,” .
Moefreni Moe’min
Oleh karena arti penting Rapat Ikada itu, sudah saatnya kita memberi tempat lebih besar dalam penulisan sejarah kepada satu nama yang selama ini terlupakan sehingga terdengar asing bahkan bagi masyarakat Jakarta sendiri: Letkol Moeffreni Moe’min. Tanpa peran tokoh yang kini tengah diajukan jadi pahlawan nasional itu, Rapat Ikada kemungkinan tak pernah ada. “Kita utang budi pada mereka yang hadir, terutama Moeffreni,”
Peran Moeffreni, putra Betawi kelahiran Rangkasbitung, nyaris tak dikenang orang meski posisinya merupakan orang kedua di BKR Jakarta setelah Kasman Singodimejo. Eks anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) Tangerang dan alumnus pendidikan perwira PETA Bogor itu merupakan tameng hidup Bung Karno selama Rapat Raksasa Ikada. Moeffreni mengawal Bung Karno sejak dari saat dijemput di mobil, berjalan ke podium untuk pidato singkat, sampai kembali lagi ke mobil.
“Moeffreni itu dengan berpakaian sipil berupa jas mengantongi empat granat nanas dan dua pistol. Itu granat siap diledakkan kalau Jepang macam-macam. Itu nilai heroiknya sosok anak Betawi “Moeffreni,”.
Heroisme Moeffreni itulah yang menjadi pendorong LKB beberapa tahun silam mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk Moeffreni sejak 2016, terutama setelah mendapat restu keluarga Moeffreni. Sosok Moeffreni dianggap pantas dijadikan pahlawan nasional asal Betawi setelah Ismail Marzuki yang jadi pahlawan pada 2004.
“Di masa revolusi, Moeffreni jadi komandan Resimen V Jakarta yang kemudian berganti jadi Resimen Cikampek setelah Jakarta diperintah dikosongkan oleh Sekutu. Beliau juga memimpin pengamanan Perundingan Linggarjati. Setelah pensiun dinas militer, beliau mendarmabaktikan diri di DPRD DKI sampai MPR.
Kiprah nyata dan heroik Moefreni Moe’min dan ratusan ribu kaum Betawi harus terus digaungkan, agar kaum Betawi tidak terlepas dari ikatan heroik dan sejarahnya. Entah apa yang akan digaungkan Pemda Jakarta dibawah kepemimpinan Pram-Doel serta adanya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) yang baru saja mendapat Surat Keputusan Gubernur Jakarta?
Membaca sejarah Ikada 19 september 1945, setidaknya memiliki makna antara lain ; sebagai wujud pertemuan pertama secara langsung antara pemerintah Republik Indonesia yang baru dibentuk dengan rakyatnya serta bukti kewibawaan pemerintah di hadapan rakyat dan tentara pendudukan.
Berikut adalah poin-poin arti penting dari peristiwa tersebut:
Pertemuan Pemimpin dan Rakyat : Menjadi momen perdana Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri bertatap muka langsung dengan ratusan ribu rakyat.
Perwujudan Kewibawaan Pemerintah: Membuktikan bahwa pemerintahan Indonesia yang masih sangat muda mampu menggerakkan massa dan menunjukkan wibawanya.
Penegasan Kemerdekaan: Menunjukkan kepada dunia luar dan tentara asing (Jepang dan Sekutu) bahwa rakyat Indonesia berdiri tegak mendukung kemerdekaannya.
Persatuan Rakyat : Memperlihatkan solidaritas serta tekad bulat para pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat untuk membela kemerdekaan.
Dari makna tersebut jelas dan nyata bahwa Ikada 1945 tidak akan ada jika kaum Betawi dan pemimpinnya tidak menggerakan semangat nasionalisme nya. Inilah kutipan singkat pidato Bung Karno ;
_”Kita sudah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Proklamasi ini tetap kami pertahankan, sepatah pun tidak kami cabut. Dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tunduklah pada rancangan kami. Tenang, tenteram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan.”_












