Betawi Menyapa Malaysia, Karya Dr Sarnadi Adam Tampil di Pameran “Rentas” Kuala Lumpur

Kabarbetawi.id, Kuala Lumpur — Kebudayaan Betawi kembali menyeberangi batas geografis. Kali ini, budaya khas Jakarta tersebut hadir melalui karya seni rupa Dr Sarnadi Adam dalam pameran internasional bertajuk “Rentas” yang digelar di Gallery ASWARA, Jalan Tun Ismail, Kuala Lumpur, Malaysia.

Kehadiran karya Sarnadi Adam dalam pameran yang berlangsung hingga 30 Oktober 2026 itu menjadi ruang bagi kebudayaan Betawi untuk menyapa masyarakat negeri jiran melalui bahasa seni rupa.

Bagi Sarnadi, seni bukan sekadar medium untuk menggambarkan sebuah identitas budaya. Lebih dari itu, karya seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dari latar budaya berbeda.

Dr Sarnadi Adam, saat menjadi narasumber dalam pameran internasional bertajuk “Rentas” yang digelar di Gallery ASWARA, Malaysia.

Dalam salah satu karya yang dipamerkan, Sarnadi menghadirkan sosok perempuan Betawi mengenakan busana tradisional dengan warna dan ornamen yang kaya. Figur perempuan tersebut berdiri anggun di tengah ruang dengan latar arsitektur bernuansa tradisional.

Hiasan kepala, busana, motif dekoratif, hingga lampu gantung menjadi bagian penting dalam komposisi visual lukisan.

Figur perempuan menjadi pusat perhatian. Sikap tubuh yang tenang dan ekspresi wajah yang lembut menghadirkan kesan kesantunan sekaligus kebanggaan terhadap identitas budaya Betawi.

Warna merah, kuning, hijau, dan biru pada busana memberikan aksen yang hidup. Sementara itu, latar berwarna gelap membuat sosok perempuan tersebut tampil semakin kuat sebagai pusat visual karya.

Tidak hanya menghadirkan figur manusia, Sarnadi juga menempatkan ruang arsitektur sebagai bagian dari cerita.

Ornamen geometris, motif flora, serta elemen dekoratif pada bagian bangunan memperlihatkan bagaimana simbol-simbol kebudayaan diolah menjadi bahasa visual.

Rumah dalam karya tersebut tidak semata-mata menjadi latar. Ia dapat dibaca sebagai simbol ruang kehidupan sekaligus tempat nilai dan tradisi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rentas” Menyeberangi Batas Budaya

Pemilihan tema “Rentas” menjadi semakin relevan dengan kehadiran karya Sarnadi Adam dalam pameran tersebut.

Rentas dapat dimaknai sebagai perjalanan, penyeberangan, sekaligus upaya melampaui batas. Dalam konteks karya Sarnadi, gagasan tersebut menggambarkan bagaimana kebudayaan Betawi yang tumbuh dan berkembang di Jakarta kini bergerak menuju ruang budaya yang lebih luas di Kuala Lumpur.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan sebuah lukisan dari Jakarta ke Malaysia.

Yang ikut merentas adalah gagasan tentang identitas, tradisi, dan kebudayaan.

Melalui karya Sarnadi Adam, masyarakat Malaysia mendapat kesempatan mengenal Betawi melalui sudut pandang seorang seniman yang memiliki kedekatan dengan kebudayaan tersebut.

Di sinilah seni rupa menemukan kekuatannya sebagai bahasa universal.

Perbedaan latar belakang budaya tidak menjadi penghalang untuk menikmati sebuah karya. Figur manusia, busana, warna, ornamen, ekspresi, dan suasana kehidupan dapat menjadi titik temu yang memungkinkan penonton memahami kebudayaan lain.

Betawi Jadi Bagian Diplomasi Budaya Indonesia

Kehadiran karya Dr Sarnadi Adam di Gallery ASWARA juga memiliki makna lebih luas. Pameran ini menjadi salah satu ruang diplomasi budaya Indonesia melalui seni rupa.

Lukisan menjadi jembatan yang menghubungkan dua masyarakat serumpun, Indonesia dan Malaysia.

Dalam karya tersebut, Betawi tidak sekadar hadir sebagai objek visual. Kebudayaan Betawi tampil sebagai cerita tentang identitas, tradisi, keindahan, dan kehidupan masyarakat Jakarta.

Sosok perempuan Betawi yang menjadi figur utama dapat dimaknai sebagai simbol penjaga nilai budaya. Namun, pada saat yang sama, ia juga merepresentasikan tradisi yang terus bergerak dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pameran “Rentas” pun menjadi ruang dialog budaya. Dari Betawi menuju Malaysia, dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, karya seni menempuh perjalanan melampaui batas geografis untuk memperkenalkan salah satu wajah kebudayaan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Pameran ini dibuka oleh Prof. Ibrahim, Dekan Fakultas Seni Halus ASWARA, dan mempertemukan para perupa dari berbagai latar budaya.

Bagi kebudayaan Betawi, kehadiran karya Sarnadi Adam di Kuala Lumpur menjadi momentum penting. Identitas Betawi tidak berhenti pada ruang geografis Jakarta, tetapi dapat terus diperkenalkan melalui berbagai medium dan ruang kebudayaan.

Pada akhirnya, karya Sarnadi Adam memperlihatkan bahwa merawat budaya bukan berarti membekukannya dalam masa lalu.

Sebaliknya, budaya perlu terus diperkenalkan, ditafsirkan, dan dihadirkan dalam ruang-ruang baru agar tetap hidup serta mampu berdialog dengan masyarakat dan kebudayaan lain.

Di Gallery ASWARA Kuala Lumpur, Betawi merentas batas. Ia hadir melalui warna, figur, busana, ornamen, dan bahasa lukisan—menyapa negeri jiran sekaligus memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.