oleh: Azis Khafia, Kaukus Muda Betawi
KabarBetawi.id, Jakarta – Lebaran adalah tradisi lampau yang sudah ada sejak pra-Islam di Betawi. Masyarakat Betawi asalnya adalah petani, saat panen tiba mereka akan merayakan panen dengan upacara penutupan/penghabisan, yakni mengingat dan mempersembahkan sesuatu pada leluhur mereka.
Setelah Islam datang dan menjadi keyakinan masyarakat Betawi, maka tradisi yang telah ada dan turun menurun tersebut diadopsi dan disesuaikan dengan ajaran Islam.
Idul Fitri adalah momen kembali pada kesucian (fitri) sekaligus menjadi momen untuk kembali pada jati diri, identitas, dan asal-muasal (leluhur). Mengingat leluhur oleh masyarakat Betawi diwujudkan dengan bentuk “ngored” membersihkan kuburan orang tua atau leluhurnya sekaligus “ziarah”, mendoakan orang tua (leluhurnya).
Ini adalah bentuk komunikasi antara generasi saat ini dengan leluhurnya, ziarah adalah ritual menyapa para pendahulu mereka, karena orang yang sudah mati dalam ajaran Islam dan tradisi Betawi, ia tetap ada di sekeliling (lingkungan) hanya saja dengan alam (dimensi) yang berbeda.
Meja Makan saat Lebaran
Meski kaum Betawi identik dengan Islam (beragama Islam), namun meja makan orang Betawi saat Lebaran justru menunjukkan sebaliknya, di meja makan orang Betawi saat berlebaran antara lain; nastar, berasal dari Belanda yakni ananas dan taart.
Sajian kue saat malam tahun baru orang Belanda (pada malam natal). Cestangels (dari bahasa Belanda: kaasstengels) adalah kue kering gurih berbentuk batang atau persegi panjang. Kue semprit. Kue semprit berasal dari Jerman. Kue ini dikenal dengan nama Spritzgebäck atau Spritz Cookies (kue semprot) yang awalnya ditemukan oleh seorang koki Jerman saat mencoba membuat kue ulang tahun.
Kue ini kemudian populer di Indonesia, terutama sebagai hidangan Lebaran, akibat pengaruh masa kolonial Belanda. Semur, kuliner khas masyarakat Betawi (Jakarta), yang mendapat pengaruh kuat dari akulturasi budaya Belanda (dari kata smoor, masakan yang direbus lama) dan Tionghoa (penggunaan kecap manis).
Semur populer sebagai hidangan pendamping ketupat dalam tradisi perayaan. Minuman di atas meja makan Betawi saat Lebaran adalah sirup, saat ini bermerek cocacola, fanta, sprite, dan jenis sirup lainnya. Sirup berasal dari kata sharab (Arab) dan sirupus yang bermakna cairan kental manis.
Saat menjamu tamu pun menggunakan istilah “Ngeteh” atau minum teh, sebuah tradisi Tionghoa yang sudah menjadi bagian tradisi Betawi. Dan kearifan lainnya yang tersimpan dalam tradisi Lebaran Betawi.

Betawi dan Lingkungan
Lebaran sebenarnya adalah puncak perayaan tahun baru bagi orang Betawi tempo dulu. Saat Lebaran adalah momen puncak kegembiraan karena telah melewati tahapan penyerahan diri pada yang kuasa. Sebelum puasa orang Betawi pergi “bebersih” mandi bersama-sama di kali dan berkeramas dengan merang, ini bukan sekedar peristiwa biasa, tapi sebuah bentuk kearifan dan keakraban masyarakat Betawi terhadap lingkungan, karena manusia betawi juga “manusia kali/sungai”, namun tradisi ini telah punah bersamaan dengan rusaknya ekosistem sungai di Jakarta.
Cuplikan singkat di atas hanya bagian kecil dari pesan kearifan yang bisa kita petik dari Lebaran Betawi. Ia bukan sekadar rutinitas ritual budaya setiap momen halal bi halal masyarakat Betawi bersama pemerintah daerah.
Perlu diketahui, Lebaran Betawi 2026 digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 10-12 April 2026.
Tetapi harus menjadi daya lecut yang kuat kepada semua pihak, bahwa betawi bukan sekedar seni budaya materil yang diatraksikan lewat festival belaka. Tetapi lebih dari itu, Betawi merupakan ruh (spirit, inspirasi dan energi) peradaban yang khas, unik sekaligus unggul, karena memuat nilai-nilai kearifan yang luhur.











