Tuanku Syekh Junaid Al Batawi: Gurunya Para Guru Ulama Nusantara

oleh: Abdul Azis Khafia, Founder Majelis Al Betawi

 

KabarBetawi.id, Jakarta – Pekojan awalnya dihuni para pedagang dari India (Khoja), tapi akhirnya dikenal sebagai kampung Arab. Kecamatan Tambora, Jakarta Barat dikenal sebagai salah satu kampung Arab pertama di Jakarta. Kampung ini merupakan cikal-bakal perkampungan Arab lainnya yang ada di Jakarta, seperti Krukut di Jakarta Barat, Kwitang di Jakarta Pusat, dan Cawang di Jakarta Timur.

LWC van den Berg, penulis buku klasik Orang Arab di Nusantara, menuliskan bahwa nama Pekojan berasal dari kata Khoja. Kata ini merupakan sebutan untuk pedagang-pedagang dari India yang beragama Islam di Nusantara.

Salah satu tempat ibadah yang masih bisa ditemukan di area ini adalah Masjid Al-Ansor, yang berada di gang kecil  pemukiman padat penduduk. Keberadaan masjid tercatat sejak 1648. Karena berada di gang sempit dan bangunannya tidak terlalu besar, masjid ini lebih mirip musala.

Masjid ini terdaftar sebagai bangunan cagar budaya sejak 1972, tapi sayangnya tidak banyak yang dipertahankan dari bentuk aslinya. Bangunan asli masjid ini hanya tersisa kurang dari lima persen, bangunan aslinya tinggal atapnya, yang lain sudah dimodifikasi dengan sentuhan desain kekinian.

Selain Masjid Al-Anshor, ada juga Masjid An Nawier di Jalan Pekojan Raya. Masjid yang didirikan pada 1760 merupakan masjid paling megah di Batavia pada masanya. Bangunan ini menghadap kanal yang di masa itu menjadi jalur utama transportasi. Arsitekturnya bergaya neo-gotik Eropa dengan jumlah pintu lima dan enam di masing-masing sisi. Jumlah ini melambangkan rukun iman dan rukun Islam.

Masjid ini memiliki 33 pilar yang menyamai jumlah tasbih. Salah satu area masjid masih menggunakan lantai tegel dari zaman Belanda.  Pada masa itu masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga tempat belajar pusat peradaban.

Salah satu tokoh pengajarnya adalah Mufti Utsman bin Yahya. Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi yang dikenal sebagai Habib Kwitang adalah salah satu muridnya. Selain masjid, di Pekojan juga terdapat bangunan yang dibuat orang Arab khusus untuk belajar agama,  yang tersisa adalah Masjid Az Zawiyah dan Langgar Tinggi.

Masjid Langgar Tinggi, dahulunya merupakan tempat tinggal sementara (mukim) orang Khoja dan Arab. Lantai atas bangunan bertingkat ini dulunya tempat kajian. Selama tinggal, mereka menyebarkan agama dengan buka halaqoh (pengajian) atau taklim di lantai atas, makanya bentuknya seperti musala. Kini, Langgar Tinggi yang dibangun pada 1829  benar-benar dijadikan musala. Bagian bawah yang tadinya tempat tinggal, kini diisi beberapa toko parfum.

 

Kampung Kelahiran Syekh Junaid Al Batawi

Pekojan adalah kampung yang penuh keramat, selain sebagai salah satu setrum peradaban Islam di Betawi. Di kampung ini juga dilahirkan ulama-ulama kharismatis dari Betawi (al Batawi), di antaranya yang paling mashur adalah Tuanku Syekh Junaid Al Batawi.

Ulama lainnya adalah Guru Madjid, Habib Ustman bin Yahya Mu’allim Radjiun, dan lain-lain. Syekh Junaid Al Batawi lahir dan besar di Pekojan, Jakarta. Tanggal dan tahun kelahirannya belum ditemukan data valid.

Namun, menurut banyak keterangan, ia berangkat ke Mekah pada usia 25 tahun, ada juga yang berpendapat pada usia 30 tahun. Ia tiba di Mekah pada 1834 M. Jika ia berusia 25 tahun, maka kemungkinan ia lahir pada 1829 M. Jika ia tiba pada usia 30 tahun, maka kemungkinan ia lahir pada kisaran tahun 1804 M.

Salah seorang orientalis Belanda Snouck hurgronje dalam salah satu keterangannya ketika tiba di Mekah 21 Januari 1885, pada jurnalnya menuliskan bahwa ada seorang ulama sesepuh (nestor) yang bernama “Junaid”. Usia Syekh Junaid ketika itu diduga sekitar 90 atau 100 tahun. Demikian catatan Snouck dalam Mecca in the latter Part of 19th Century. Berdasar keterangan tersebut, saya berpandangan Tuanku Syekh Junaid Al Batawi lahir pada kisaran 1790 – 1804 M dan wafat pada usia antara 100 – 104 (tahun 1889 -1904).

Manaqib Tuanku Syekh Junaid Al Batawi

Manaqib atau biografi seorang ‘alim asal Betawi yang tidak banyak dikenal namun sangat populer di zamannya, dia adalah Syekh Junaid al-Betawi.

Ulama yang lahir di bilangan Pekojan (Jakarta barat) ini kesohor, sejak jadi imam di Masjidil Haram sepanjang abad ke-18 akhir hingga awal abad ke-19, selain juga sebagai pengajar mazhab Syafiiyah di Mekkah.

Prof Dr Hamka (wagat 1981 M) menemukan bukti sejarah kuatnya komunitas Betawi memegang prinsip agama Islam. Meski 350 tahun dijajah bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda berjuluk “Batavia”, jarang sekali terdengar anak Betawi asli yang berpindah memeluk agama selain Islam. Konon, sebutan “Betawi” hanya bisa digunakan oleh penduduk asli Jakarta yang beragama Islam.

Tak banyak data sejarah yang bisa membuktikan kehidupan nyata atau pengaruh keilmuan Syekh Junaid al-Betawi. Data otobiografi beliau justru terungkap dalam tulisan catatan perjalanan Orientalis terkemuka asal Belanda C. Snouck Hurgronje, setelah berhasil menyusup ke Makkah pada 21 Januari 1885, bahkan sempat tinggal selama tujuh bulan di sana.

Jurnalnya berjudul Mecca In The Latter Part Of 19th Century. Hurgronje menulis, di Makkah pada perempat ketiga abad ke-19, ada “sesepuh” (Nestor) para ulama Jawa yang berasal dari Tanah Betawi bernama “Junaid” yang sudah menetap selama 50 tahun. Perkiraan sementara, beliau sudah bermukim di Makkah sejak 1834, tanpa diketahui secara pasti kapan waktu hijrahnya. Jika data ini benar, berarti Syekh Junaid berhijrah ke Makkah dalam usia yang cukup matang, sekitar 30 tahun.

Syekh Junaid, dalam catatan Hurgronje, melakukan kajian-kajian mendalam sejak berada di negeri asalnya. Bekal ilmu agama dari para ulama dan habaib di Jakarta, yang kala itu masih bernama Batavia, berhasil membentuk pribadi keulamaan Syekh Junaid. Maka, kemungkinan Syekh Junaid sudah dikenal sebagai ulama sebelum akhirnya hijrah ke Makkah, memang benar adanya.

Karena luasnya pengetahuan keagamaan Syekh Junaid, masyarakat Makkah menggelarinya “Syaikhul Masyayikh”, guru dari segala guru para ulama Mazhab Syafii. Kepopuleran Syekh Junaid al-Betawi tidak hanya membuat harum nama bangsa; nama Betawi pun ikut masyhur di Tanah Suci.

Tidak mengherankan jika Syekh Junaid disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai poros silsilah ulama Betawi pada awal abad ke-19. Laqof Al Batawi pun mulai terdengar, setelah Syeikh Junaid mengajar di Masjidil Haram.

 

Sekilas Tentang Keluarga

Dalam silsilah nasab KH Ahmadi Muhammad (cucu Guru Manshur, Jembatan Lima, Jakarta) tertulis bahwa Syekh Imam Damiri memiliki tiga anak: Junaid, Abdul Hamid (ayahanda Guru Manshur) dan Hamim. Sayangnya, sejarah kelahiran dan masa kecil Syekh Junaid di kampung Pekojan tidak dapat terlacak sama sekali, lantaran minimnya sumber data yang ada.

Ada pula riwayat mengenai silsilah nasabnya, terutama ihwal kedua orang tuanya, belum ada referensi yang kuat. Namun ada juga yang menuliskan nasab lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Syekh Junaid

2. bin Imam Damiri

3. bin Imam Habib

4. bin Raden Abdul Muhit

5. bin Pangeran Cakrajaya Nitikusuma (Adiningrat IV)

6. bin Raden Aria Jipang (Sayid Husein)

7. bin Raden Bagus Surawiyata (Sayid Ali)

8. bin Raden Fattah (Sayid Hasan). Pendiri kesultanan Demak.

Syekh Junaid Al Batawi nasabnya tersambung langsung dengan pendiri kesultanan Demak.

Sejarah pernikahan Syekh Junaid pun demikian, masih banyak simpang siur. Sumber data pertama menyebut Syekh Junaid menikah dengan seorang wanita asal Mesir. Pernikahan keduanya dikaruniai dua orang putra, yaitu Sa’id dan As’ad, serta satu putri bernama Ruqayah.

Ruqayah kemudian menikah dengan Syekh Ahmad Muntaha asal Tegal (Jawa Tengah) dan dikaruniai dua putra dan putri, Muhammad dan Jamilah. Syekh Muntaha adalah ulama populer karena hafalan al-Quran dan pakar dibidang Ulûmul-Qurân.

Sumber kedua, buku Ulama Betawi: Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20 karya  Ahmad Fadli HS, menyebutkan Syekh Junaid memiliki empat orang anak, masing – masing dua putra dan dua putri. Yang laki-laki bernama As’ad dan Arsyad, dikemudian hari keduanya melanjutkan perjuangan ayahanda mereka mengajar di Masjidil Haram.

Versi data terakhir ini, putri pertama Syekh Juniad menikah dengan Syekh Abdullah al-Mishri, seorang sastrawan Jakarta kelahiran Mesir yang populer pada Abad ke-19. Sedangkan putri kedua Syekh Junaid dinikahkan dengan murid kepercayaannya, Syekh Mujtaba bin Ahmad (tidak diketahui tahun wafatnya) asal Bukit Duri, Jakarta.

 

Dihormati Keluarga Raja

Sebagai maha guru ulama Jawa generasi awal, Syekh Junaid dikenal telaten mendidik para muridnya hingga banyak menjadi ulama hebat. Beberapa muridnya bahkan merasa terkesan dengan pribadi beliau, salah satunya Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani.

Karena itu,  setiap haul Syekh Nawawi di Pondok Pesantren Tanara (Banten), selalu dibacakan surah al-Fatihah yang dikhususkan untuk Syekh Junaid al-Betawi. Murid Syekh Junaid lain, Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi (wafat 1334 H) yang menjadi Imam Masjidil Haram dan ulama populer, bahkan sebagai Mufti Mazhab Syafiiyah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang mengarang banyak kitab.

Kemudian ada Syekh Mujtaba al Batawi, murid sekaligus menantu Syekh Junaid. Syekh Mujtaba bermukim di Makkah selama 40 tahun. Sekembalinya ke Betawi bersama sang istri pada 1904 M, Syekh Mujtaba diangkat sebagai Mufti Betawi.

Saat Mekkah ditaklukkan pada 1925 M dan diadakan perjanjian gencatan senjata antara Raja Ali bin Husein dengan Raja Ibnu Saud, keluarga Syekh Junaid masuk dalam daftar resmi pemerintah kerajaan yang diberi hak istimewa, karena telah menjalin hubungan baik dengan pemimpin Makkah sebelumnya.

Keturunan keluarga Betawi terdeteksi sejak 1987 M sampai sekarang dan masih tetap dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabia.

Bahkan konon, keluarga besar Syekh Junaid yang bermukim di Jeddah, biasa mengadakan acara Maulid dan Isra Miraj, padahal kegiatan-kegiatan sejenis sangat “tabu” dilakukan kalangan ulama dan penguasa Arab Saudi karena perbedaan ideologi. Sangat terlihat, betapa terhormat nama Syekh Junaid al-Betawi di kalangan keluarga kerajaan, bahkan hingga saat ini: jamaah haji wanita Indonesia kerap dipanggil Siti Rahmah oleh masyarakat Arab Saudi, konon sebagai panggilan kehormatan sekaligus mengingat nama istri Syekh Junaid Al Batawi yang bernama Siti Rahmah.