Pekan Raya Jakarta: Dari Pasar Rakyat Jadi Pasar Konglomerat

oleh: Abdul Azis Khafia 

 

KabarBetawi.id, Jakarta – Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau lebih dikenal sebagai Jakarta Fair Kemayoran, Jakpus, baru saja dibuka pada Kamis, 11 Juni 2026. Pesta warga Jakarta dan sekitarnya ini berlangsung hingga 12 Juli 2026.

Sebagai bangsa yang menghormati sejarah dan mengambil pelajaran darinya, ada baiknya kita mengingat kembal sejarah awal mula Jakarta Fair.

Jakarta Fair berakar dari tradisi Pasar Malam Gambir, yang populer di era kolonial Belanda. Pasar ini pertama kali diselenggarakan pada awal abad ke-20 di kawasan Koningsplein –kini Lapangan Merdeka, Jakpus. Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Belanda.

Tokoh Mohammad Husni Thamrin ikut memberikan support (berdonasi) kepada bocah-bocah kampung agar acara lebih meriah dan semarak. Semangatnya adalah “Yang penting rakyat bahagia” meski dengan cara yang sederhana.

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menghidupkan kembali semangat pameran dan pesta rakyat tersebut dengan menggelar Pameran Pembangunan Indonesia (PPI), pertama kali pada 1953 di Istora Senayan.

Gagasan untuk menyatukan pameran produk nasional dengan hiburan rakyat akhirnya melahirkan Pekan Raya Jakarta pada 1968, bertepatan dengan ulang tahun ke-441 kota Jakarta.

Pekan Raya Jakarta didesain sebagai ajang promosi dagang terbesar dan terlengkap di Indonesia. Acara ini menghadirkan ratusan stan, yang menampilkan produk-produk unggulan dari berbagai daerah. Mulai dari elektronik, kerajinan, otomotif, makanan khas, hingga pertunjukan seni dan musik.

Suasana Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakpus.

Pindah ke Jiexpo Kemayoran

Sejak 1992, PRJ dipindahkan ke Arena JIExpo Kemayoran,  Jakpus, menandai babak baru dalam sejarahnya sebagai event pameran berkelas internasional. Selain sebagai pusat niaga, PRJ juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk unjuk gigi di hadapan pengunjung baik lokal maupun mancanegara.

Hingga hari ini, Pekan Raya Jakarta tidak hanya menjadi simbol pesta ulang tahun ibu kota, tapi juga cermin semangat pembangunan dan keberagaman budaya Indonesia. Setiap tahun, jutaan pengunjung memadati arena PRJ untuk menikmati belanja, kuliner, dan hiburan keluarga dalam suasana meriah. Dari awalnya hanya sebagai ajang promosi, PRJ berkembang menjadi bagian penting dari identitas Jakarta yang tak lekang oleh waktu.

PRJ kini bukan lagi pesta rakyat. Sudah bermutasi menjadi event nasional dan pasar besar tahunan yang menghadirkan multiproduk baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Yang semula pasar rakyat, hiburan untuk rakyat kini berubah total menjadi ajang bisnis oriented.

Kita hanya bisa menemukan suasana kerakyatannya justru di luar arena PRJ. Tukang kerak telor, kuliner khas Betawi, berjejer mencari lokasi minim retribusi.. Para pengunjung muter-muter mencari parkir yang aman tapi terjangkau, sebab salah parkir bisa diketok Rp 50 ribu hingga 150 ribu. Demikianlah pemandangan umum tahunan di PRJ terkini.