Kabarbetawi.id, Jakarta – Festival Kampung Budaya Petukangan ke-5 berlangsung meriah di Kampung Budaya Beksi Petukangan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2026). Ribuan warga memadati kawasan Lapangan Parkir Paragon dan RPTRA Bhinneka untuk menyaksikan atraksi Silat Beksi, bazar UMKM, hingga aneka kuliner khas Betawi.
Festival tahunan yang telah memasuki tahun kelima ini menjadi ajang pelestarian budaya Betawi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat setempat. Antusiasme warga terlihat sejak pagi hingga malam hari.

Ketua Panitia Festival, H. Noval Hariawan, mengatakan kegiatan tersebut disiapkan dalam waktu relatif singkat. Namun berkat dukungan berbagai pihak, acara dapat berlangsung sukses dan meriah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, tokoh masyarakat, para pendukung kegiatan, dan Paragon Corp yang telah memfasilitasi tempat penyelenggaraan festival ini,” kata Noval.
Menurutnya, Festival Kampung Budaya Petukangan merupakan agenda rutin yang bertujuan menjaga eksistensi budaya Betawi, khususnya Silat Beksi yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Kami ingin budaya Betawi tetap hidup dan dikenal generasi muda. Selain itu, festival ini juga menjadi sarana menggerakkan UMKM warga agar mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung,” ujarnya.

Tak hanya menjadi panggung budaya, festival ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus tokoh masyarakat setempat, Dadiyono, membagikan 1.500 voucher belanja senilai Rp5.000 kepada pengunjung untuk dibelanjakan di stan UMKM.
Program tersebut disambut antusias masyarakat. Bahkan perputaran uang selama festival berlangsung mencapai sekitar Rp120 juta dalam sehari.
“Kami ingin para pelaku UMKM merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Kalau voucher kurang, akan kami tambah lagi,” ujar Dadiyono.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menyebut Festival Kampung Budaya Petukangan menjadi momentum penting untuk menjaga identitas budaya Betawi sebagai budaya asli Jakarta.
Menurut Syafrin, keberadaan budaya Betawi kini semakin kuat setelah ditetapkan sebagai budaya asli Jakarta melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.

“Festival ini bukan hanya menampilkan Silat Beksi, tetapi juga kuliner, seni, dan berbagai kreativitas masyarakat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Betawi,” kata Syafrin.
Ia menegaskan pembangunan Jakarta tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus dibarengi dengan pelestarian budaya yang menjadi identitas kota.
Dalam kesempatan tersebut, Syafrin juga menyerahkan apresiasi kepada sejumlah guru Silat Beksi atas dedikasinya menjaga dan mengembangkan warisan budaya Betawi.
Festival Kampung Budaya Petukangan 2026 turut dihadiri unsur pemerintah, tokoh masyarakat, serta pegiat budaya Betawi. Hadir antara lain jajaran Kecamatan Pesanggrahan, Danramil, Kapolsek, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Kementerian Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta organisasi masyarakat.

Turut hadir tokoh Betawi H. Muhammad Nuh, Ibnu Chuldun, Fikri Isnaini Djabir, dari organisasi Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT).
Melalui festival ini, masyarakat tidak hanya menikmati hiburan dan pertunjukan budaya, tetapi juga diajak memperkuat identitas Betawi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi warga. Di usia yang ke-5, Festival Kampung Budaya Petukangan semakin menegaskan diri sebagai salah satu agenda budaya Betawi yang dinanti masyarakat Jakarta setiap tahunnya.












