oleh: Masykur Isnan, SH, MH – Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi
Kabarbetawi.id, Jakarta – Haul Akbar Tokoh, Ulama, dan Habaib Betawi 2026 yang diselenggarakan di Monas, Jakpus, bukan sekadar peristiwa keagamaan dan budaya semata. Dalam pembacaan politik perkotaan, ia juga merupakan panggung simbolik yang memperlihatkan arah baru konsolidasi elite di Jakarta.
Terlebih jika ditarik pada konteks Jakarta pasca-2017, momen ini juga dapat dibaca peristiwa politik simbolik, memperlihatkan arah baru konsolidasi elite, yakni sebuah upaya meredam polarisasi lama antara nasionalis dan religius, sekaligus sinyal bahwa Jakarta sedang bergerak menuju bentuk kompetisi lebih cair dan kultural.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori cleavage yang dalam diskursus ilmu politik menerjemahkan bahwa politik bergerak di atas garis-garis belah sosial yang relatif stabil, seperti agama, kelas, wilayah, dan identitas kultural. Jakarta sejak 2017 menunjukkan garis belah nasionalis versus religius menjadi sangat menonjol, bahkan diproduksi sebagai komoditas politik. Sehingga, ketika elite nasionalis dan religius bertemu dalam suatu momen seremonial, yang sedang dikerjakan bukan sekadar silaturahim, melainkan upaya merapikan kembali garis belah yang terlalu lama dibiarkan tajam.
Pada titik inilah istilah “politik semangka” menjadi berguna sebagai pembacaan analitis. Merah di luar, hijau di dalam. Ungkapan ini tidak perlu dibaca sebagai doktrin ideologis, melainkan sebagai cara elite mengemas aliansi agar tampak nasionalis, tapi tetap memiliki basis penerimaan di ruang-ruang religius dan kultural.
Selayaknya semangka yang memiliki garis-garis hijau tua di kulitnya, kolaborasi ini jadi makin kuat, karena menggambarkan dukungan dari tokoh Betawi dan jaringan para habaib.
Hubungan simbiosis ini terbukti ampuh untuk mempengaruhi value electoral pada locus perkotaan yang warganya beragam, karena dapat menyatukan partai modern, restu kiai, dan adat istiadat lokal dalam satu wadah tanpa perlu cek-cok soal perbedaan ideologi.
Mengapa “politik semangka” punya daya tarik di Jakarta?
Daya tarik strategi ini justru terletak pada karakter Jakarta sendiri. Pemilih ibu kota terkenal otonom, rasional, dan kritis. Mereka tidak mudah terseret slogan besar, tapi juga tidak anti-terhadap simbol. Mereka menerima simbol, jika simbol itu terasa otentik, tidak memaksa, dan mampu memberi rasa aman secara sosial. Karena itu, “politik semangka” dapat dibaca sebagai respons strategis elite terhadap kedewasaan pemilih Jakarta. Elite tampaknya menyadari narasi “paling nasionalis” versus “paling agamis” sudah kehilangan daya pukul jika terus diulang tanpa penyegaran.
Warga Jakarta terlalu lama disuguhi politik yang menuntut kesetiaan total pada satu kubu. Dalam situasi seperti ini, pesan stabilitas justru lebih kuat daripada pesan konfrontasi. Fenomena ini terasa dekat dengan symbolic politics dan elite cueing.
Symbolic politics menjelaskan banyak pemilih merespons tanda, simbol, dan gestur politik sebelum mereka menilai program detail. Elite cueing menunjukkan publik sering membaca arah politik melalui sinyal yang diberikan elite yang dianggap sahih.
Kendatipun demikian, pemilih Jakarta bukan pemilih yang gampang dipuaskan oleh simbol rekonsiliasi. Mereka menyambut pertemuan elite sebagai tanda baik, tapi tetap akan mengukur apakah simbol itu menghasilkan sesuatu yang nyata: ketenangan politik, kerja publik, distribusi akses, dan kepastian arah kebijakan.
Jika tidak, “politik semangka” akan cepat terbaca sebagai panggung sesaat. Secara elektoral, pertemuan seperti ini paling mungkin bekerja pada tiga lapisan sekaligus, yakni pada pemilih rasional urban, pertemuan ini dipandang sebagai tanda elite telah belajar dari masa lalu. Setelah polarisasi yang keras, sebagian publik memang cenderung menyukai gestur yang menyejukkan. Bukan karena mereka berubah menjadi lebih sentimental, tapi karena mereka lelah dengan pertarungan identitas yang menguras energi publik.

Kedua, pada pemilih religius dan kultural, kehadiran habaib dan tokoh Betawi memberi legitimasi politik tidak sedang menyingkirkan Islam, melainkan mengakomodasinya dalam bentuk lebih sosial dan tidak konfrontatif. Hal semacam ini penting di Jakarta, karena basis religius bukan hanya soal jumlah, tapi tingkat keterhubungan komunitas.
Ketiga, pada pemilih yang terfragmentasi pasca-2017, momentum ini menjadi jalan keluar dari kebekuan identitas. Mereka tidak harus berpindah kubu secara ideologis, tapi cukup merasa tersedia ruang politik baru lebih aman untuk didukung.
Probabilitas elektoral
Pada kontestasi Pilkada, efek politik semangka berpotensi paling kuat. Kontestasi lokal selalu memberi ruang lebih besar bagi personal vote, kedekatan kultural, dan legitimasi sosial. Jika poros merah-hijau-kultural berhasil tampil konsisten, ia dapat memperluas daya jangkau di tingkat kota, terutama di Jakarta yang sensitif terhadap figur yang dianggap tenang, akomodatif, dan tidak memprovokasi konflik.
Berbeda dengan Pileg, efek politik semangka lebih terbatas tetapi tetap signifikan. Bisa menjadi instrumen untuk mengganggu dominasi partai yang selama ini kuat secara mesin dan akar rumput, dalam hal ini PKS, terutama jika disertai dengan kader punya kedekatan sosial di dapil masing-masing. Tapi di level legislatif, pemilih lebih mudah membedakan antara simbol besar dan kualitas kandidat. Karena itu, politik semangka tidak otomatis menghasilkan lonjakan suara besar, jika tidak diikuti kerja organisasi yang rapi.
Pada tataran Pilpres, efeknya paling kecil. Pemilih Jakarta berkali-kali menunjukkan mereka tidak selalu linier antara pilihan lokal dan nasional.
Artinya, citra koalisi baru lebih mungkin menciptakan iklim politik yang ramah daripada mengubah preferensi presiden secara langsung. Untuk pilpres, yang dibutuhkan adalah narasi nasional yang lebih besar, figur jauh lebih luas, dan jangkauan isu melampaui Jakarta.
Kendati tidak menjamin kemenangan mutlak, politik semangka tetap menjadi penting karena membuka ruang baru dalam tata politik Jakarta. Dapat mengganggu dominasi kekuatan yang selama ini matang secara organisasi, terutama jika mampu memadukan tiga hal: legitimasi religius, kedekatan kultural Betawi, dan kemampuan administratif elite.
Dalam konteks itu, strategi ini bukan sekadar panggung simbolik. Adalah upaya membangun ulang bahasa politik Jakarta agar tidak terus-menerus dibajak konflik identitas yang sempit.
Pada titik inilah pelibatan Majelis Kaum Betawi (MKB) menjadi sangat penting secara struktural dan kultural. Namun, MKB tidak boleh dipahami semata sebagai kendaraan elektoral. Jika hanya dipakai untuk kepentingan pemilu, MKB akan kehilangan bobot sebagai representasi aspirasi warga Betawi.
MKB justru harus ditempatkan sebagai corong aspirasi yang lebih luas: mitra pengembangan budaya, penjaga memori kolektif, saluran dialog sosial, dan simpul penghubung antara pemerintah, komunitas, dan warga. Dengan begitu, Betawi tidak hanya hadir saat pemilu, tapi juga hadir dalam tata kelola kota.
Inilah yang membedakan pelibatan simbolik dari pelibatan struktural. Haul Akbar Betawi 2026 dapat dibaca sebagai momentum penting lahirnya citra politik semangka di Jakarta. Lahir bukan dari idealisme murni, melainkan dari pembacaan strategis elite atas kedewasaan pemilih ibu kota. Pada kota yang lelah dengan polarisasi, strategi semacam ini punya peluang untuk diterima sebagai bentuk stabilitas baru. Tetapi pemilih Jakarta tetap kritis; mereka akan membedakan antara simbol yang menenangkan dan kerja politik yang sungguh-sungguh berdampak bagi kehidupan mereka.
Peristiwa semacam ini bukan sekadar acara keagamaan semata, melainkan sinyal politik Jakarta sedang bergerak ke format lebih cair dan stabil. Tetapi daya jangka panjangnya tetap bergantung pada satu hal: apakah simbol ini ditopang kerja politik yang nyata.
Tanpa kerja-kerja politik yang rapi, ditambah dengan tanpa representasi kultural yang sungguh-sungguh, dan tanpa konsistensi kebijakan, politik semangka hanya menjadi estetika rekonsiliasi. Sebaliknya, bila diterjemahkan ke dalam tata kelola kredibel, menjadi role model terkait bagaimana Jakarta dikelola bukan lewat benturan identitas, melainkan lewat stabilitas yang cerdas dan terukur.












