Catatan Diskusi Publik 100 Tahun Ali Sadikin: Betawi Dihadirkan, Bukan Cuma Dibicarakan!

oleh: Bang M Sulhi (Icul)

 

KabarBetawi.id, Jakarta – Salah satu keistimewaan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, dalam mengimplementasikan perhatiannya pada budaya Betawi: dia tidak pernah berhenti pada tahap ide, konsep, dan pemikiran. Melainkan tuntas dan langsung dieksekusi. Bang Ali – begitu julukannya – menghadirkan Betawi, bukan cuma sekadar membicarakan.

Hal itu diungkapkan budayawan Betawi Sem Haesy, dalam diskusi publik memperingati 100 tahun Ali Sadikin, bertema “Sinergi Kerja Kebudayaan Menuju Lima Abad Jakarta: Memperkuat Bahasa, Tradisi, dan Identitas Kota”, Ahad (12/7).

Diskusi yang diadakan di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakpus, menghadirkan narasumber Sem Haesy (Akademi Jakarta), Yoyo Muchtar dan Imbong Hasbullah (Lembaga Kebudayaan Betawi), Fauziah Shahab (akademisi), dan Hikmiyyah Salsabila (Historia Batavia).

Diskusi dimoderatori Muhammad Sulhi Rawi dari Forum Jurnalis Betawi (FJB).

Sem Haesy mencontohkan, ketika hendak mengangkat teater Betawi agar naik kelas dan punya pamor, Bang Ali spontan minta Wahyu Sihombing dan kawan-kawan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) saat itu, untuk membuatkan semacam “landasan teori” teatrikal dan aksi-aksi panggung tonil tradisional Betawi.

Alhasil, Lenong yang tadinya hanya dikenal secara terbatas dan dimainkan dari kampung ke kampung, berkat sentuhan teatrikal dan dramaturgi lebih terarah, berubah menjadi tontonan memikat di televisi dan TIM Cikini. Tahun 1970-an layak disebut sebagai masa keemasan Lenong di layar gelas, jutaan penonton TVRI dari Sabang sampai Merauke banyak yang jatuh cinta pada sosok Bokir, Nasir, dan kawan-kawan.

Di tempat sama, budayawan Betawi Yoyo Muchtar menyoroti karakter Ali Sadikin, sebagai salah satu rahasia kehebatan leadership sang gubernur. Setidaknya ada dua yang dominan: disiplin dan jujur.

“Disiplinnya enggak main-main. Negara kalau mau maju, harus menegakkan disiplin,” ujar Yoyo yang pernah menjadi ASN di masa kepemimpinan Ali Sadikin. Bang Ali juga selalu menanamkan kejujuran ke anak buahnya. “Dia enggak suka ada korupsi dan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek pembangunan di Jakarta, saya saksikan itu dengan mata kepala sendiri,” tegas Yoyo.

“Buaye keroncong” ini juga mengagumi energi Bang Ali yang seolah tidak ada habis dalam mengurusi kepentingan warga Jakarta. Mulai proyek MHT yang menyulap gang-gang di ibu kota menjadi jalan beraspal, akte kelahiran, hingga mengatur kuburan. Pendek kata, mulai melek mata sampai menutup mata.

Lantas, apa saja warisan Bang Ali di bidang budaya yang masih “evergreen” hingga kini?

Sejatinya banyak. Sebut saja di antaranya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Akademi Jakarta (AJ). Namun, di mata artis dan akademisi yang juga generasi muda Betawi, Fauziah Shahab, IKJ adalah warisan yang paling penting. Kampus yang berlokasi di TIM ini menjadi kawah candradimuka yang melahirkan banyak seniman dan budayawan terbaik bangsa ini.

Dengan beragam warisan tak ternilai, perempuan yang biasa dipanggil Zee Zee Shahab ini tak ragu menahbiskan Ali Sadikin sebagai gubernur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta. Itu makanya, ke depan, berbagai tantangan yang dihadapi budaya Betawi, seperti revitalisasi, komersialisasi, dan banyak lagi, mestinya juga mengacu pada visi kebudayaan yang tajam seperti dulu dimiliki Bang Ali.

Ali Sadikin saat dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada April 1966 (dok.Ist).

 

Warisan Budaya Bang Ali

Masih bicara soal warisan, Sekjen LKB Imbong Hasbullah menyebut, peringatan “100 Tahun Ali Sadikin” pada tahun 2026 menjadi momentum terbaik buat Betawi lantaran “bersatunya kembali” warisan-warisan infrastruktur budaya yang di zaman Bang Ali saling mendukung: LKB, IKJ, DKJ, dan AJ.

Momen langka ini, kata Imbong, mesti dijaga. Sehingga ke depan, kolaborasi kerja kebudayaan dalam memperkuat bahasa, tradisi, dan identitas kota dapat berjalan lebih maksimal.

Sementara itu, Hikmiyyah Salsabila dari komunitas Historia Batavia meyakini, literasi merupakan kerja budaya yang mesti mendapat prioritas saat ini dan di masa depan.

“Anak muda Betawi sebetulnya bukan tidak tertarik pada budaya, mereka cuma enggak tahu mesti belajar ke mana,” sebut Salsa. Selama ini komunitasnya, bekerja sama dengan LKB, berusaha menjembatani gap dengan generasi muda lewat berbagai aksi dan event yang pas dengan preferensi mereka.

Namun, Salsa menambahkan, kolaborasi lintas generasi di bidang literasi ini mutlak diperlukan. Mengapa? Agar anak muda mendapat informasi yang benar dan terpercaya. Bukan informasi yang salah, apalagi hoaks. Di era high power of social media ini, potensi anak-anak muda sebagai pilar regenerasi warisan budaya sangat potensial dan penting.

Akhir cerita, semua sumringah dan sepakat Ali Sadikin telah meninggalkan banyak warisan atawa legacy yang masih relevan dengan kondisi kaum Betawi kini.

Keberpihakan pada Betawi dan visi kebudayaan Bang Ali mesti terus dikaji dan dikaji, agar kerja kebudayaan tidak berjalan mundur. Tahun 1976, saat membuka Pralokakarya Penggalian dan Pengembangan Seni Budaya Betawi, Bang Ali sudah menegaskan Betawi sebagai identitas Jakarta. Manusia boleh mati, tapi pemikiran hebatnya akan abadi.