Kabarbetawi.id, Jakarta — Semangat pelestarian budaya Betawi terasa kuat di kawasan Rawa Belong, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Melalui Festival Dekorasi Kampung Betawi, warga menghadirkan suasana kampung Betawi yang hidup dan autentik, mulai dari pencak silat Cingkrik, mural rumah adat bergigi balang, hingga deretan kuliner khas yang menggugah selera.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan RT 02 RW 15, Kelurahan Palmerah, Rabu (10/6/2026), itu tidak hanya menjadi ajang lomba dekorasi lingkungan, tetapi juga ruang penguatan identitas budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.

Tim juri yang terdiri dari Idoy Herlambang, M. Ichwan Ridwan, Ervan, dan Ubay memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan warga dalam menghadirkan nuansa Betawi yang dinilai tumbuh alami di tengah masyarakat.
“Ini luar biasa. Kita bisa melihat kulinernya, arsitekturnya, dan berbagai unsur budaya Betawi yang memang hidup di tengah masyarakat. Ini bukan sesuatu yang dibuat dalam satu malam, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian warga,” ujar Ubay, salah satu juri.
Menurut dia, budaya Betawi yang ditampilkan warga bukan sekadar simbol atau dekorasi seremonial, melainkan bagian dari aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sehari-hari.
Ia menilai produk budaya seperti kuliner tradisional hingga pertunjukan seni telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi melalui aktivitas UMKM warga.
Dalam proses penilaian, tim juri tidak hanya melihat estetika dekorasi kampung, tetapi juga menilai sejauh mana budaya Betawi benar-benar hidup di lingkungan masyarakat. Aspek yang dinilai meliputi kesenian, musik tradisional, kuliner, aktivitas ekonomi berbasis budaya, hingga ornamen dan identitas visual khas Betawi.
Ubay berharap konsep Kampung Betawi seperti di Palmerah dapat menjadi model pelestarian budaya di berbagai wilayah Jakarta.
“Kami berharap kampung-kampung lain juga dapat mengembangkan konsep serupa hingga menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Palmerah, Uki Elianto SE.M.Tr.AP, menegaskan komitmennya untuk mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat.
Menurut Uki, kolaborasi antara pemerintah, pengurus lingkungan, dan warga menjadi kunci dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan kota.

Ia juga menyoroti pentingnya unsur edukasi dalam kegiatan tersebut, termasuk dukungan terhadap pendidikan anak usia dini melalui kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sekolah PAUD Cempaka Wangi, Erda Wati, bersama pengajar kelas usia 4–6 tahun, Fenny Hariyanti, menilai kegiatan budaya seperti ini penting untuk memperkenalkan nilai tradisi kepada anak-anak sejak dini.
Mereka menekankan bahwa pendidikan usia dini perlu mengedepankan konsep bermain sambil belajar agar anak dapat berkembang secara kreatif dan tetap mengenal budaya daerahnya.
“Anak usia dini perlu ruang bermain yang terarah agar mereka bisa belajar dan berkembang dengan baik,” ujar Fenny.

Di sisi lain, Ketua RT 02 RW 15, Abdul Manaf, menyebut pelestarian silat Cingkrik menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Rawa Belong.
Sebagai penerus generasi silat Betawi, ia mengaku telah mengajarkan silat sejak era 1990-an melalui Sanggar Silat Cingkrik S3 (Salat, Silat, Selawat).
“Silat ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk melestarikan tradisi Betawi,” ujar Abdul Manaf.
Menurut dia, seni bela diri tradisional juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, mulai dari pertunjukan palang pintu hingga peluang menjadi pelatih maupun juri pencak silat.
Festival Dekorasi Kampung Betawi Rawa Belong menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mampu memperkuat kebersamaan warga, membangun ekonomi masyarakat, serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap mencintai budaya Betawi di tengah perkembangan zaman.












