Kabarbetawi.id, Jakarta — Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) menerima kunjungan kehormatan dari Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) dalam rangkaian acara bertajuk Meaningful Memories of Togetherness di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Rombongan tamu dari Belanda dipimpin oleh Bradley Jacobs, Cultural and Traditional Affairs Nederlandse Pencak Silat Federatie, didampingi Helen dan Supriyanto.
Kehadiran mereka disambut langsung oleh Ketua Umum KPSTI Mahfudz Abdurrahman bersama jajaran pengurus.
Kunjungan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kerja sama budaya antara Indonesia dan Belanda, khususnya dalam pengembangan pencak silat tradisi sebagai warisan budaya takbenda.
Acara diawali dengan penampilan Rampak Pencak, yang menampilkan kekayaan gerak, nilai seni, serta filosofi pencak silat sebagai bagian dari jati diri budaya bangsa Indonesia.
Sejumlah tokoh pencak silat tradisi nasional turut hadir, di antaranya Edwel Datuk Gampo Alam (Guru Gadang Silek Harimau), Tubagus Bambang (PPS Cingkrik Goning), Sudirman Yan (PPS Perisai Putih), Bawor (PPS Al Azhar), Zarkasih (Ketua Harian Putra Betawi), serta para pegiat pencak silat tradisi lainnya.
Dalam sambutannya, Mahfudz Abdurrahman menegaskan bahwa KPSTI berdiri seiring dengan pembentukan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran kebudayaan nasional di tingkat global.
“Pencak silat kami kembangkan melalui empat aspek utama, yaitu bela diri, olahraga, seni budaya, serta mental dan spiritual dalam pembentukan karakter. Fokus kami adalah memastikan kebudayaan ini tetap lestari sekaligus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia,” ujar Mahfudz.

Sementara itu, Supriyanto, yang telah 47 tahun mengajar tentang Indonesia di Belanda, menyampaikan bahwa pencak silat memiliki daya tarik besar di kalangan masyarakat Belanda, terutama pada nilai mental dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Ketua Harian KPSTI Nurali menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk terus “membumikan pencak silat tradisi” agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Dalam kesempatan yang sama, Bradley Jacobs menyampaikan bahwa empat aspek pencak silat perlu terus dikembangkan di Belanda. Ia menilai KPSTI memiliki peran strategis dalam upaya tersebut, mengingat pencak silat telah diakui sebagai warisan budaya takbenda di Belanda.
Melalui pertemuan ini, KPSTI berharap kerja sama antara Indonesia dan Belanda di bidang pencak silat tradisi dapat semakin erat, sekaligus memperkuat pencak silat sebagai jembatan persahabatan dan pemahaman lintas budaya.












