Masjid, Pos Ronda, dan Gang Sempit: Universitas Kehidupan Anak Betawi

oleh: Ahmad Shobirin

 

KabarBetawi.id, Jakarta – Hari ini banyak orang bilang pendidikan karakter itu penting, saya suka senyum sendiri. Bukan karena tidak setuju, tapi karena saya merasa orang Betawi sudah duluan menjalani itu tanpa seminar, webinar, dan sertifikat.

‘Universitas’ anak Betawi dulu bukan gedung tinggi dengan hamparan kebun tertata rapi dan air mancur di tengah pelataran. Tidak ada pendingin ruangan, kartu mahasiswa, apalagi parkiran bertingkat yang dijaga satpam.

Universitas anak Betawi cuma gang sempit, kalau hujan beceknya bisa naik sampai mata kaki, tapi dari situlah kami belajar tentang hidup, menghormati orang, dan memahami arti bertetangga.

Bekas menara Bandara Kemayoran masih eksis hingga hari ini.

Universitas Gang Sempit

Saya lahir dan besar di Kemayoran, Jakarta Pusat. Betawi asli. Bapak saya orang Kemayoran, ibu saya juga. Bahkan kakek nenek dari dua pihak semua Betawi Kemayoran. Jadi kalau diistilahkan kopi, saya ini bukan kopi campuran. Ini kopi tubruk Betawi asli. Ampasnya juga Betawi.

Waktu kecil, saya hidup di masa ketika Kemayoran serasa kampung besar yang kebetulan berada di Jakarta. Orang masih saling kenal. Kalau ada anak lewat sambil nunduk karena habis nyolong mangga tetangga, satu rukun tetangga (RT) tahu.

Kalau malam, tongkrongan kami bukan di mal, tapi cukup pinggir jalan, gang MHT, yang sempit deket comberan sambil mainin gitar lagu lawas dengan kunci C F G, kalo mau melankolis lari ke A Minor atau E Minor.

Informasi tercepat waktu itu bukan radio atau WA Group, apalagi sosmed, tapi emak-emak depan rumah. Belum lima menit seorang anak bikin ulah, kabarnya sudah sampai ke rumah lebih cepat daripada broadcast aplikasi pesan.

“Eh, anak lu tadi manjat pohon jambu, kagak pake izin!” Padahal pohonnya juga bukan punya yang ngadu.

Begitulah dulu. Semua orang merasa punya tanggung jawab mendidik anak kampung.

Kami tumbuh di jalanan kecil nan ramai oleh suara pendatang luar Jakarta, yang berjualan bakso, mi ayam, somay, dan lain-lain. Logat dagangnya kadang lebih terkenal daripada nama aslinya. Dari kejauhan saja, kami sudah hafal, mana abang bakso Wonogiri, mana tukang somay Bandung, mana penjual mi ayam yang kalau manggil pembeli nadanya seperti orang lagi nyanyi dangdut dengan volume kaya lagi memanggil warga satu kecamatan.

Kalau sore, anak-anak main bola di gang, dengan bola plastik, yang kalo pas kebentur kaki pemain, bolanya pecah.

Gawangnya sandal. Kadang kalau ada motor lewat, pertandingan berhenti sebentar.

“Motor… motor… minggir… minggir…!” Habis itu lanjut lagi.

Kadang bolanya nyemplung ke got, kadang nyangkut di jemuran emak-emak, bahkan pernah juga mental kena panci sayur yang baru ditaruh depan rumah. Tapi anehnya, gak pernah ada yang benar-benar marah lama. Paling banter cuma teriak,
“Main bola jangan depan rumah mulu kek!”

Lima menit kemudian, yang ngomel itu malah ikut berdiri nontonin pertandingan. Yang lucu, yang paling galak biasanya bukan yang rumahnya kena bola. Tapi bapak-bapak yang sebenarnya diam-diam ikut nonton pertandingan dari balik jendela.

Perempatan Jembatan Jiung, Kemayoran, Jakpus. (foto: IST).

Metromini dan Pelajaran Hidup

Transportasi waktu itu juga punya romantika sendiri. Ada oplet, mikrolet, becak, bajaj yang suaranya seperti kaleng kerupuk diguncang-guncang. Belum lagi bus Metromini yang kalau ngebut rasanya penumpang ikut latihan tawakal massal.

Sebelum Metromini berjaya, kami lebih dulu mengenal “Lobur”. Orang sekarang mungkin tahunya Robur, nama bus buatan Jerman Timur,yang jadi nenek moyangnya Metromini Jakarta. Tapi lidah Betawi mana doyan nyebut “Robur”. Ya udah, jadilah “Lobur”.

Bentuknya kotak, mesinnya berisik, pintunya kadang susah nutup, tapi jasanya luar biasa. Bus ini ikut membesarkan anak-anak Kemayoran zaman dulu.

Lalu datang era Metromini. Warnanya oranye mentereng, jalannya lebih galak, sopirnya lebih percaya diri daripada pembalap Formula 1.

Dan buat anak-anak sekolah di daerah Kemayoran-Sumur Batu, ada satu trayek legendaris: P 10. Bus ini setiap pagi mengantar kami sekolah ke SMA 5 Sumur Batu. Isinya campur aduk. Anak sekolah, pegawai kantor, emak-emak yang mau ke Pasar Sumur Batu, sampai penumpang yang dari mukanya kelihatan masih ngantuk berat.

Kalau pagi, suasana di dalam P10 itu kadang lebih rame daripada ruang OSIS. Ada yang rebutan tempat duduk, ada yang sengaja berdiri dekat pintu karena takut kelewatan turun, ada juga anak muda yang pura-pura supaya tidak ditagih pengamen.

Dan entah kenapa, sopir Metromini zaman dulu punya keyakinan bahwa makin cepat nyetir, makin dekat dia masuk surga.
Tapi begitulah Jakarta kami dulu. Berisik, semrawut, kadang bikin emosi, tapi juga penuh kenangan, yang sekarang justru dirindukan.

 

Masjid, Pos Ronda, dan Warung Kopi

Tapi dari semua itu, tempat paling penting buat kami, sebenarnya cuma tiga: masjid, pos ronda, dan warung kopi. Di masjid kami belajar hormat. Di pos ronda, kami belajar hidup. Di warung kopi, kami belajar politik tingkat RT sampai urusan dunia internasional, meski kadang sumber analisanya cuma dari koran Pos Kota dan program Dunia Dalam Berita TVRI.

Pos ronda itu luar biasa. Ibarat universitas terbuka bagi warga kampung. Di situ orang belajar mendengar. Belajar bercanda. Belajar beda pendapat tanpa unfollow.

Bapak-bapak ngobrol sampai malam sambil ngopi, ngerokok, kadang main catur. Anak-anak kecil nguping sambil pura-pura lewat. Dari situ, kami belajar bahwa hidup bukan cuma soal cari uang, tapi soal menjaga hubungan.

Kalau ada warga sakit, satu kampung datang.
Kalau ada yang meninggal, orang-orang membantu tanpa perlu undangan WhatsApp.
Kalau ada yang lapar, tetangga tahu duluan, sebelum pemerintah tahu. Gak perlu daftar Desil.

Sekarang Jakarta makin modern. Jalan makin lebar. Gedung makin tinggi. Mal makin banyak. Tapi kadang saya merasa, hati orang justru makin sempit. Dulu rumah kecil, tapi pintu selalu terbuka. Sekarang pagar tinggi, CCTV banyak, tapi tetangga sebelah rumah saja kadang tidak kenal.

Anak-anak sekarang mungkin punya internet cepat. Tapi belum tentu punya kenangan sehangat kami dulu, ketika duduk di pelataran masjid sambil nunggu azan Isya, atau ketawa bareng di pos ronda, hanya karena ada bapak-bapak salah nyebut nama pemain bola.

Saya bersyukur lahir sebagai anak Betawi Kemayoran.

Karena saya dibesarkan bukan hanya oleh orang tua saya, tapi juga oleh gang sempit, suara azan, pos ronda, tukang soto, emak-emak cerewet, dan seluruh kehidupan kampung yang diam-diam mengajari kami menjadi manusia utuh.

Dan sampai hari ini saya percaya, kadang universitas terbaik memang bukan yang punya gedung megah. Tapi yang mengajarkan kita cara hidup sebagai manusia.